nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, pada zaman dahulu kala, hidup seorang pemuka adat yang arif bijaksana bernama Minak Kemala. Ia percaya bahwa hubungan antara yang hidup dan yang telah berpulang bukanlah suatu tembok pemisah, melainkan jembatan yang terbuat dari doa dan kenangan. Setiap usai merayakan kemenangan di hari raya, Minak Kemala tidak langsung beristirahat. Ia justru berjalan menyusuri tepian Way (sungai) Krui, menuju sebuah bukit tempat para leluhurnya beristirahat. Di sana, dengan membawa pahar berisi sajian terbaik dari kebunnya, ia duduk bersila, memanjatkan doa, dan membagi cerita tentang para pendahulu kepada anak-cucunya.
Ia percaya, dengan merawat ingatan akan jasa dan keberadaan mereka yang telah mendahului, maka keberkahan dan petunjuk akan selalu menyertai perjalanan hidup keturunannya.
Tradisi berziarah dan berkumpul ini kemudian ia wariskan, menjadi sebuah amanat yang turun-temurun dikenal sebagai Ngejalang, sebuah langkah suci untuk merawat jejak ingatan kolektif masyarakat Sai Batin.
Ngejalang bukan sekadar ritual tahunan; ia adalah napas kebudayaan masyarakat Lampung Sai Batin, khususnya di Pekon Gunung Kemala. Tradisi ini terbagi menjadi dua jenis: Ngejalang Pangan dan Ngejalang Kubokh.
Ngejalang Pangan, yang kini sudah mulai memudar, adalah ziarah non-fisik yang dilakukan di masjid, berfokus pada doa bersama untuk kesatuan masyarakat. Sementara Ngejalang Kubokh adalah ziarah fisik ke makam leluhur, yang hingga kini masih sangat hidup dan dilaksanakan dengan penuh khidmat.
Secara harfiah, kata Ngejalang berasal dari tradisi lisan yang berarti “berkunjung” atau “berziarah”. Ia adalah perwujudan dari falsafah hidup Piil Pesenggiri, yang menjadi pedoman hidup orang Lampung. Dalam Piil Pesenggiri terkandung nilai-nilai luhur seperti Nemui Nyimah (sikap santun dan menerima tamu), Nengah Nyappur (kemampuan bergaul dan bersosialisasi), dan Sakai Sambayan (semangat gotong royong dan tolong-menolong). Nilai-nilai inilah yang mengalir deras dalam setiap tahapan Ngejalang.
Seorang tetua adat, Kadarusman, pernah berujar, “Ngejalang ini bukan kewajiban agama, tapi beban hati. Rasanya tidak puas, kemana-mana tidak enak hati, jika belum melakukannya.” Ucapan ini menyiratkan betapa tradisi ini telah menyatu dengan spiritualitas dan identitas kolektif masyarakat. Ia dilakukan bukan karena paksaan, melainkan karena panggilan batin untuk menghormati, mengingat, dan mendoakan.
Pelaksanaan Ngejalang Kubokh adalah sebuah mahakarya kerjasama dan kesalehan. Prosesinya dimulai dengan musyawarah (himpun) para tetua adat dan ahli waris pada malam-malam terakhir bulan Ramadan untuk menentukan hari dan teknis pelaksanaannya.
Sehari sebelum acara, para lelaki berkumpul di area pemakaman untuk mendirikan Kelasa, sebuah bangunan pelindung sementara yang terbuat dari kayu atau bambu dengan atap daun kelapa, menciptakan ruang sakral untuk berkumpul. Kasur dan tikar digelar rapi di atas pusara, bukan sebagai bentuk ketidakhormatan, melainkan sebagai simbol bahwa yang hidup dan yang telah wafat sedang “duduk bersama” dalam satu ruang yang sama.
Pada hari-H, setiap keluarga datang membawa Pahar, nampan besar dari kuningan atau aluminium, yang berisi sajian terbaik: kue tat (kue khas Krui), bolu, guring ginan, kembang loyang, serta nasi dan lauk pauk. Pahar ini dihiasi dengan Tuala dan Lelamak (kain penutup) sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada tamu dan leluhur.
Acara dibuka dengan sambutan dari ketua panitia atau Peratin, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, khususnya Surah Yasin, dan doa bersama yang dipanjatkan untuk arwah para leluhur.
Salah satu momen paling mengharukan adalah ketika para tetua adat melantunkan Talibun atau Muwwayak, syair atau pantun berisi nasihat agama, harapan, dan doa yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan.
Seorang narasumber, Nila Duana, menggambarkannya sebagai momen di mana “nilai-nilai luhur petuah adat dari sesepuh diaktualisasikan.”
Ritual puncaknya adalah makan bersama. Uniknya, makanan yang dibawa oleh ahli waris justru tidak boleh dimakan oleh mereka sendiri. Semua hidangan diperuntukkan bagi para tamu undangan, karena diyakini mengandung berkah (barokah) yang lebih besar jika diberikan kepada orang lain. Ini adalah cerminan nyata dari Nemui Nyimah dan Sakai Sambayan.
Ngejalang Pangan, yang dahulu dilakukan di masjid, kini mulai tergerus zaman. Banyak faktor yang menyebabkan memudarnya tradisi ini, seperti kesibukan, dianggap merepotkan, dan hilangnya kemufakatan untuk melestarikannya. Masyarakat mulai beralih ke cara yang lebih praktis, seperti berdoa di rumah masing-masing dan membagikan besek (rantang) kepada tetangga terdekat.
Perubahan ini menunjukkan dinamika masyarakat adat dalam menghadapi modernitas. Meski Ngejalang Pangan memudar, eksistensi Ngejalang Kubokh yang masih kuat membuktikan bahwa esensi dari tradisi ini, yaitu silaturahmi, doa, dan penghormatan pada leluhur, masih sangat dibutuhkan oleh jiwa kolektif masyarakat. Mereka memilih untuk mempertahankan inti dari tradisi tersebut, meski harus menyesuaikan bentuknya dengan realitas zaman.
Tradisi Ngejalang adalah lebih dari sekadar kunjungan ke makam. Ia adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan tentang Piil Pesenggiri. Setiap langkah menuju pemakaman adalah pengingat akan asal-usul. Setiap sajian di atas Pahar adalah simbol kemurahan hati (Nemui Nyimah). Setiap gotong royong mendirikan Kelasa adalah praktik nyata Sakai Sambayan. Dan setiap duduk bersama di atas pusara adalah pelajaran mendalam tentang Nengah Nyappur, menjalin keakraban tanpa sekat.
Dalam doa-doa yang dipanjatkan, tersimpan harapan agar generasi penerus tidak hanya mengingat nama para leluhur, tetapi juga mewarisi nilai-nilai luhur yang mereka perjuangkan. Ngejalang adalah cara masyarakat Lampung Sai Batin merawat ingatan kolektifnya, memastikan bahwa jejak langkah para pendahulu tetap menjadi peta penuntun bagi generasi yang akan datang, menuju kehidupan yang penuh dengan kesantunan, kebersamaan, dan keberkahan.
Sumber Referensi (Terverifikasi dari File yang Diberikan):
1. Wawancara dengan Informan Kunci (Kadarusman, Taniyus Aditi, Nila Duana) yang tercatat dalam naskah asli.
2. Ariyani, dkk. (2014). Representasi Falsafah Hidup Masyarakat Lampung.
3. Fachruddin & Suharyadi. (1998). Piil Pesenggiri.
4. Artikel media online terverifikasi: Harian Lampung.Com (eva/mfn), Lampost.co (Yon Fisoma), Mahameru FM (Duta Suhanda).
5. Data Monografi dan Administratif Pekon Gunung Kemala (2017).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

