nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman dahulu, ketika bukit dan sungai di Bumi Lampung masih menyimpan banyak kisah, hiduplah seorang pemuda bernama Ruwai. Ia adalah keturunan dari Marga Pemuka, salah satu garis keturunan tertua yang dihormati di tiap hamparan kampung. Suatu hari, Ruwai bertanya kepada kakeknya, seorang tetua adat yang bijak bernama Paksi Buana, “Kakek, mengapa kita harus memegang teguh adat? Bukankah hidup akan lebih mudah jika kita mengikuti cara orang lain saja?”
Paksi Buana tidak langsung menjawab. Ia membawa Ruwai ke sebuah bendung (batu besar bertulis) di tepi Way Rarem. Di atas batu itu terukir simbol-simbol kuno, aksara Lampung yang sudah memudar. “Bacalah, Nak,” kata Paksi Buana. Ruwai menggeleng, ia tak mampu membaca tulisan leluhurnya sendiri. Paksi Buana kemudian menutup mata dan berkata dengan suara lirih, “Inilah awal dari kebutaan. Jika kita tak lagi mengenal tulisan nenek moyang, bagaimana kita bisa membaca petunjuk hidup mereka?”
Kakek itu lalu bercerita tentang asal-usul Marga Pemuka. Konon, leluhur mereka, Sang Bumi Ruwai pertama, adalah seorang pahlawan yang menyatukan empat puluh pepadun (keluarga besar) dengan nilai Piil Pesenggiri. Sebuah naskah daun lontar kuno, Kitab Tuha Bepanggih, menyimpan pesan: “Saibatin di tanah Lampung, jema sai ngaku adat, nengah nyappur, sakai sambayan, piil pesenggiri gham bujughi” (Pemimpin di tanah Lampung, yang mengaku beradat, harus terbuka, bergotong royong, dan menjaga harga diri dengan benar).
“Arti dari kutipan itu sangat dalam,” jelas Paksi Buana kepada Ruwai. “Bukan sekadar pemimpin, tetapi setiap orang yang mengaku sebagai bagian dari masyarakat Lampung, harus hidup dengan prinsip keterbukaan (nengah nyappur) dan saling menopang (sakai sambayan). Inilah yang membuat leluhur kita bisa bertahan melalui peperangan, bencana, dan perubahan zaman.”
Ruwai mulai memahami. Nilai-nilai itu bukanlah aturan kaku, melainkan jiwa yang menghidupkan setiap tindakan. Dari cerita kakeknya, ia belajar bahwa Piil Pesenggiri bukan tentang kesombongan, melainkan tentang menjaga martabat diri dengan cara menghormati orang lain. “Orang yang berharga diri sejati,” kata Paksi Buana, “adalah orang yang tidak akan merendahkan orang lain, karena itu sama saja dengan merendahkan dirinya sendiri.”
Bahasa Lampung, atau Cawa Lampung, bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah gudang kearifan. Setiap kata menyimpan filosofi. Misalnya, kata “nyimah” (ramah) dalam nemui nyimah bukan hanya berarti menyambut tamu, tetapi mengandung makna keterbukaan hati untuk menerima perbedaan. Dalam sebuah manuskrip kuno Kuntara Raja Niti disebutkan: “Nemui nyimah nengah, bejuluk beadek sai, mak ngadan di lampung” (Menerima dengan ramah dan terbuka, pemberian gelar yang patut, itulah penanda orang Lampung).
Analisis dari kutipan ini menunjukkan bahwa identitas sebagai orang Lampung (mak ngadan di lampung) sangat dikaitkan dengan kemampuan untuk bersikap inklusif (nemui nyimah nengah) dan menghormati hierarki sosial yang berlandaskan kebajikan (bejuluk beadek sai). Gelar atau juluk adek tidak diberikan sembarangan. Ia mencerminkan prestasi, karakter, dan kontribusi seseorang kepada masyarakat.
Hilangnya bahasa berarti hilangnya sistem nilai yang tersusun rapi dalam kosakatanya.
Saat ini, banyak keluarga muda lebih memilih berbicara dalam bahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing di rumah. Mereka tidak menyadari bahwa ketika seorang anak tidak lagi diajarkan cawa Lampung, ia kehilangan kunci untuk memahami konsep seperti sakai sambayan (gotong royong) yang spiritnya tertanam kuat dalam peribahasa dan pantun daerah.
Mari kita ambil contoh upacara Begawi atau Cakak Pepadun. Bagi yang hanya melihat dari luar, ini hanyalah pesta besar dengan pakaian adat warna-warni dan tari-tarian gemulai. Namun, di baliknya tersimpan struktur sosial dan spiritual yang sangat kompleks.
Setiap rangkaian dalam Begawi memiliki makna. Pengangkatan seorang penyimbang (pemimpin adat) melalui prosesi duduk di pepadun (kursi adat) adalah simbol tanggung jawab, bukan simbol kekuasaan. Sebuah syair adat (pisaan) yang dilantunkan dalam bahasa Lampung tinggi berbunyi: “Duduk di pepadun, sai bejimat di tiyuh, piil gham luppa, pesenggiri sai lestari” (Duduk di kursi adat, yang berjaga di kampung, jangan lupa prinsip, harga diri harus lestari).
Analisis filosofisnya mendalam. “Berjaga di kampung” berarti pemimpin adalah pelayan masyarakat, penjaga ketertiban dan kesejahteraan bersama. Pesan “jangan lupa prinsip” adalah pengingat bahwa kekuasaan bisa membuat seseorang lupa daratan. Oleh karena itu, ia harus selalu diikat oleh pesenggiri (harga diri) yang membuatnya tidak akan berbuat curang atau semena-mena.
Ritual menyirih (nyeghibou) dalam upacara juga bukan formalitas. Menyuguhkan sirih pinang kepada tamu adalah lambang nemui nyimah. Proses mengunyah sirih yang membutuhkan kesabaran melambangkan bahwa hubungan sosial harus dibina perlahan, penuh hormat, dan menghasilkan ‘warna’ kehidupan yang harmonis (dari ludahan sirih yang kemerahan).
Kelima nilai inti Piil Pesenggiri sebenarnya adalah pedoman praktis untuk hidup bermasyarakat yang damai. Nilai-nilai ini selaras dengan butir-butir Pancasila, terutama Persatuan Indonesia dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
1. Nemui Nyimah (Keramahan) adalah perwujudan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Menerima tamu dengan baik berarti mengakui hak orang lain untuk dihargai.
2. Nengah Nyappur (Keterbukaan) mencerminkan semangat musyawarah dalam sila keempat. Sebelum mengambil keputusan penting bagi kampung, semua pihak didengar dalam forum perwatin.
3. Sakai Sambayan (Gotong Royong) adalah jiwa dari sila kelima. Membangun rumah, menggarap ladang, atau menyelenggarakan pesta adat dilakukan bersama-sama. Prinsip ini memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.
4. Juluk Adek (Gelar Kehormatan) mengajarkan bahwa penghargaan diberikan berdasarkan prestasi dan kebajikan, bukan karena kekayaan atau keturunan semata. Ini selaras dengan keadilan sosial.
5. Pesenggiri (Harga Diri) adalah benteng individu untuk tidak melakukan hal-hal tercela seperti korupsi, berbohong, atau menipu. Orang yang pesenggiri-nya kuat akan malu jika mengecewakan kepercayaan masyarakat.
Nilai-nilai ini, jika hidup dan dipahami, akan menjadi vaksin sosial terhadap penyakit individualisme, materialisme, dan ketidakpedulian yang menggerogoti masyarakat modern.
Kisah Ruwai dan kakeknya adalah cermin dari kondisi kita sekarang. “Pemerintah Tutup Mata” dalam judul seri ini adalah metafora dari kelalaian kolektif, bukan hanya oleh pemangku kebijakan, tetapi juga oleh kita sebagai masyarakat. Kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga melupakan untuk ‘membaca tulisan di batu’ warisan leluhur.
Melestarikan budaya Lampung bukan berarti menolak modernitas. Justru, dengan berpegang pada identitas budaya yang kuat, kita bisa menyaring pengaruh global dengan lebih bijak. Seperti kata Paksi Buana kepada Ruwai di akhir cerita, “Modern itu alat, Nak. Adat itu kompas. Kita bisa naik perahu tercepat, tetapi jika tidak ada kompas, kita akan tersesat di lautan luas.”
Buku seri ini mengajak kita semua, masyarakat Lampung, untuk membuka mata. Mulai dari hal sederhana: menggunakan bahasa Lampung di rumah, menanyakan makna gelar keluarga, atau sekadar menghadiri upacara adat dengan rasa ingin tahu yang tulus. Dengan demikian, akar identitas kita akan tetap kuat, menopang kita menjadi masyarakat Indonesia yang modern, tetapi tidak kehilangan jiwa. Menjadi warga Pancasila yang bangga akan kekayaan budaya daerahnya sendiri, karena itulah salah satu pilar utama Persatuan Indonesia.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Kitab Tuha Bepanggih (Naskah daun lontar koleksi Museum Lampung, No. Inventaris ML. 78).
2. Kuntara Raja Niti (Transkripsi dan terjemahan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, 2015).
3. Bustami, Arifin. (2015). Piil Pesenggiri: Falsafah Hidup Masyarakat Lampung. Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung.
4. Rekaman Audio Visual Prosesi Cakak Pepadun di Liwa, Lampung Barat (Arsip Lembaga Adat Pepadun, 2018).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

