Harga Diri di Ambang Dua Zaman. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Matahari perlahan naik di ufuk timur, menerpa atap rumah adat Nuwo Sesat yang masih kokoh berdiri di tengah hamparan sawah. Dari kejauhan, terdengar lantunan segata, syair adat yang dinyanyikan dalam bahasa Lampung. Namun, di keheningan pagi yang sama, seorang pemuda duduk termenung di beranda rumahnya. Ponsel di genggaman menyala, menampilkan dunia lain yang jauh berbeda dari suasana di sekitarnya. Dua zaman bertemu dalam satu bingkai. Di sinilah kisah tentang harga diri dimulai.

Untuk memahami pergulatan generasi muda Lampung hari ini, kita harus menyelami kisah para leluhur yang membangun peradaban di tanah yang mereka sebut Sekala Bekhak. Konon, di ketinggian Pegunungan Bukit Barisan, berdirilah kerajaan tua yang menjadi cikal bakal masyarakat Lampung. Para Umpu, sebutan bagi pemimpin pertama, menurunkan aturan hidup yang kemudian tersebar ke dataran rendah, membentuk dua rumpun adat besar: Saibatin yang memegang garis keturunan vertikal, dan Pepadun dengan struktur adat yang lebih terbuka melalui musyawarah.

Dalam sebuah manuskrip tua yang dikenal dengan Kuntara Raja Niti, tersimpan petuah yang terus dijaga turun-temurun. Naskah beraksara Lampung kuno ini, meski rentan termakan usia, masih menjadi rujukan para punyimbang adat. Salah satu penggalannya yang paling terkenal berbunyi: “Kiluan mengan, lapah mayok, nemui nyimah, nengah nyappur.”
Secara harfiah, bait ini berarti: tahu membalas budi, pandai berjalan, suka menerima tamu, dan pandai bergaul. Namun, jika kita telaah lebih dalam, ungkapan ini adalah fondasi dari Piil Pesenggiri, harga diri orang Lampung. Bukan sekadar gengsi atau kebanggaan semu seperti yang sering disalahartikan. Piil adalah tentang bagaimana seseorang menjaga martabatnya melalui perilaku yang terpuji: membalas kebaikan, menghormati orang lain, terbuka pada pendatang, dan mampu menyatu dalam perbedaan.
Analisis dari penggalan ini menunjukkan bahwa harga diri dalam tradisi Lampung tidak bersifat individualistis. Ia selalu terkait dengan hubungan sosial.

Baca Juga :  Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri - 8 – Etika Anak Muda dalam Adat Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Kiluan mengan mengajarkan bahwa kita hidup karena orang lain. Lapah mayok mengingatkan bahwa hidup adalah perjalanan yang membutuhkan kebijaksanaan. Nemui nyimah dan nengah nyappur adalah pintu menuju kerukunan. Inilah warisan adiluhung yang diwariskan para leluhur.
Namun, waktu terus berputar. Zaman berganti wajah. Anak-anak muda Lampung kini akrab dengan gawai, media sosial, dan gaya hidup global. Mereka berbicara dalam berbagai bahasa, bermimpi tentang karier di kota besar, dan kadang merasa asing dengan bahasa ibunya sendiri.
Di sinilah persoalan mulai muncul. Ketika seorang pemuda diminta mengenakan tapis dalam upacara adat, bisikan kecil sering terdengar: “Kuno sekali. Buat apa?” Ketika seorang gadis diajari tarian Sigeh Penguten oleh neneknya, ia lebih sibuk merekamnya untuk konten media sosial daripada menghayati makna gerakannya.
Generasi muda Lampung seolah terjepit di ambang dua zaman.
Apakah memegang teguh tradisi berarti kolot? Atau justru dengan mengikuti modernitas kita kehilangan jati diri?
Pertanyaan ini semakin mengusik ketika kita mengingat falsafah lain yang tak terpisahkan dari Piil Pesenggiri, yaitu Sakai Sambayan. Dalam bahasa Lampung, ungkapan klasik yang selalu digaungkan dalam musyawarah adat adalah: “Sakai sambayan, gulung gemah ripah, jelema dalom masyarakat.”
Frasa ini mengajarkan gotong royong untuk mewujudkan masyarakat yang makmur dan damai. Maknanya, harga diri seseorang tidak akan berarti jika ia hidup sendiri. Piil harus diwujudkan dalam kebersamaan. Generasi muda yang sibuk mengejar ambisi pribadi, tanpa peduli pada lingkungan sosialnya, sejatinya sedang menjauh dari esensi harga diri itu sendiri.
Namun, ada satu pegangan yang membuat masyarakat Lampung tidak mudah hanyut. Sebuah ungkapan bijak yang menjadi filter sekaligus kompas dalam menjalani kehidupan: “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.”
Ungkapan ini, yang juga dikenal dalam berbagai variasi di seluruh Nusantara, memiliki kedudukan sentral dalam masyarakat Lampung. Ia menegaskan bahwa seluruh tata cara adat harus berlandaskan hukum Islam (syarak), dan hukum Islam itu sendiri bersumber dari Al-Qur’an (Kitabullah).
Analisis mendalam terhadap ungkapan ini membuka wawasan bahwa tradisi Lampung tidak kaku. Ia memiliki mekanisme koreksi internal. Jika ada praktik adat yang bertentangan dengan nilai-nilai Al-Qur’an, maka ia harus diluruskan. Sebaliknya, nilai-nilai universal dalam Al-Qur’an justru memperkuat adat.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Tradisi Saling Mengingatkan dalam Menjalankan Puasa. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Hormat kepada orang tua, menjaga silaturahmi, bersikap adil, dan memuliakan tamu, semua ini adalah ajaran agama yang juga menjadi inti dari Piil Pesenggiri dan Nemui Nyimah.
Bagi generasi muda, ini adalah kabar baik. Memegang teguh adat tidak berarti mempertahankan semua hal tanpa kritik. Adat itu hidup, ia bisa beradaptasi selama tidak kehilangan ruhnya. Dan ruh itu ada dalam nilai-nilai luhur yang sejalan dengan agama dan kemanusiaan.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Apakah generasi muda Lampung harus memilih: menjadi “kuno” dengan adat atau “gaul” dengan modernitas?
Jawabannya mungkin ada pada falsafah kelima yang tak kalah penting: Bejuluk Beadok. Ini adalah semangat untuk meraih gelar atau predikat terhormat dalam masyarakat. Namun, gelar itu tidak datang dengan sendirinya. Ia harus diraih melalui pengabdian, prestasi, dan perilaku terpuji.
Dalam konteks hari ini, Bejuluk Beadok bisa diartikan sebagai ajakan untuk berprestasi di bidang apa pun yang digeluti, tanpa harus meninggalkan identitas. Seorang dokter, insinyur, seniman, atau pengusaha muda Lampung bisa meraih pengakuan di tingkat nasional bahkan internasional, tetapi tetap rendah hati, tetap menghormati orang tua, tetap bangga ketika memakai kain tapis dalam acara pernikahannya.
Dengan kata lain, jati diri bukanlah baju usang yang harus ditanggalkan. Ia adalah fondasi yang membuat kita kokoh berdiri di tengah terpaan perubahan. Modernitas bukan musuh adat. Yang menjadi musuh adalah lupa diri.
Kita mungkin berbeda dengan leluhur dalam banyak hal. Mereka hidup di tengah hutan belantara, kita di tengah hiruk-pikuk kota. Mereka menggunakan talaw (dulang) untuk menyajikan makanan, kita menggunakan aplikasi pesan antar. Namun, hakikat hidup tetap sama: bagaimana kita menjaga martabat sebagai manusia.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 5: Hukum Adat dan Syariat — Dua Jalan, Satu Tujuan Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Piil Pesenggiri mengajarkan bahwa harga diri bukan soal pakaian atau harta. Ia adalah soal perilaku, sikap, dan kontribusi bagi sesama. Ia adalah cahaya yang memancar dari dalam, bukan kilauan palsu dari luar.
Seperti falsafah yang diajarkan para Umpu berabad silam, harga diri sejati adalah ketika kita mampu “nengah nyappur”, menyatu dalam pergaulan tanpa kehilangan pegangan. Ketika kita mampu “nemui nyimah”, terbuka pada siapa pun dengan keramahan yang tulus. Ketika kita menjalankan “sakai sambayan”, bahu-membahu membangun kehidupan bersama.
Maka, kepada generasi muda Lampung di ambang dua zaman ini, pesan sederhana ingin disampaikan: Kenali dirimu, genggam erat nilai-nilai luhur yang diwariskan, dan bawalah ia ke mana pun zaman membawamu. Karena harga diri sejati tidak akan lekang oleh waktu. Ia abadi, selama kita menjaga dan mengamalkannya.

Tentang Sumber Referensi
Tulisan ini disusun dengan merujuk pada sumber-sumber terverifikasi, antara lain:
1. Naskah Kuntara Raja Niti (salinan digital dari koleksi Museum Negeri Lampung).
2. Buku Adat Istiadat Daerah Lampung (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini