nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah kampung tua di wilayah Lampung pesisir, di tepian sungai yang dahulu dikenal dengan nama Way Khilau, masyarakat masih menyimpan kisah lama yang sering diceritakan setiap kali bulan Ramadhan datang. Orang-orang tua menyebut kisah itu sebagai cerita tentang Kakek Ratu Sutan Marga Buay Belunguh, seorang tetua adat yang hidup pada masa ketika Islam mulai berkembang kuat di tanah Lampung.
Konon, pada suatu malam menjelang Ramadhan, langit tampak cerah dan bulan sabit mulai terlihat. Warga kampung berkumpul di halaman balai adat. Mereka membawa lampu minyak dan makanan sederhana dari dapur masing-masing. Di tengah keramaian itu, Kakek Ratu Sutan berdiri sambil memegang tongkat kayu warisan leluhurnya. Ia berkata kepada masyarakat kampung: “Puasa bukan sekadar menahan lapar. Puasa adalah janji manusia kepada Tuhan agar hidupnya tidak melupakan orang lain.”
Sejak saat itu, masyarakat kampung memiliki kebiasaan yang diwariskan turun-temurun: mereka saling mengingatkan satu sama lain tentang puasa, tentang waktu sahur, dan tentang waktu berbuka. Kisah ini kemudian menjadi bagian dari cerita rakyat Lampung yang mengajarkan bahwa Ramadhan bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial. Dalam cerita-cerita lama seperti ini, adat dan agama tidak pernah dipisahkan. Keduanya berjalan beriringan, seperti dua aliran sungai yang akhirnya bertemu di laut yang sama.
Dalam masyarakat adat Lampung, kehidupan sosial tidak dapat dilepaskan dari sistem marga, yaitu kesatuan genealogis yang membentuk struktur masyarakat. Setiap marga memiliki sejarah, wilayah, serta garis keturunan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu naskah adat yang sering dirujuk oleh para peneliti budaya Lampung adalah Kuntara Raja Niti, sebuah manuskrip hukum adat yang diyakini berasal dari masa kerajaan-kerajaan Lampung kuno.
Dalam salah satu bagian naskah tersebut tertulis: “Adat Lampung tegak karena marga, dan marga tegak karena persaudaraan.”
Kalimat sederhana ini sebenarnya mengandung makna yang sangat mendalam. Ia menjelaskan bahwa identitas masyarakat Lampung tidak hanya dibentuk oleh individu, melainkan oleh hubungan kekerabatan yang luas.
Ketika Ramadhan datang, hubungan marga ini menjadi semakin terasa. Anggota keluarga yang merantau biasanya kembali ke kampung halaman untuk menjalankan puasa bersama. Hal ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi bagian dari cara masyarakat menjaga ikatan genealogis mereka.
Dalam beberapa silsilah tua yang tersimpan di rumah adat, disebutkan bahwa beberapa marga Lampung pesisir memiliki hubungan dengan tokoh legendaris seperti Umpu Serunting Sakti dan Umpu Bejalan Diway. Menurut legenda, Umpu Bejalan Diway adalah tokoh yang pertama kali menerima kedatangan ulama dari wilayah Aceh dan Banten yang membawa ajaran Islam.
Ia kemudian berkata kepada para pemimpin marga: “Adat tidak boleh hilang, tetapi adat harus berjalan bersama agama.” Perkataan ini menjadi prinsip yang kemudian membentuk karakter masyarakat Lampung hingga hari ini.
Falsafah hidup masyarakat Lampung dikenal dengan istilah Piil Pesenggiri. Konsep ini sering diterjemahkan sebagai harga diri atau kehormatan, tetapi sebenarnya maknanya jauh lebih luas. Piil Pesenggiri mencakup beberapa nilai utama: Nemui nyimah (keramahan dan kemurahan hati). Nengah nyappur (kemampuan bergaul dengan masyarakat), Sakai sambayan (gotong royong), Juluk adek (identitas kehormatan)
Nilai-nilai ini sangat terasa dalam kehidupan Ramadhan. Misalnya dalam tradisi nemui nyimah, masyarakat Lampung memiliki kebiasaan membuka rumah mereka untuk tamu yang ingin berbuka puasa. Dalam banyak keluarga adat, makanan berbuka tidak pernah disiapkan hanya untuk anggota keluarga sendiri. Selalu ada porsi tambahan bagi tetangga atau tamu yang datang.
Tradisi ini memiliki kesesuaian yang kuat dengan ajaran Islam. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad disebutkan: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu.”
Analisis terhadap hadis ini menunjukkan bahwa Islam menekankan dimensi sosial dalam ibadah puasa. Memberi makan orang lain bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga bagian dari ibadah. Nilai ini sangat sejalan dengan konsep nemui nyimah dalam adat Lampung. Dengan kata lain, adat Lampung secara alami menemukan keselarasan dengan ajaran Islam.
Salah satu tradisi unik yang hidup di banyak kampung Lampung adalah kebiasaan saling mengingatkan untuk menjalankan puasa.
Pada masa lampau, sebelum adanya pengeras suara masjid atau jam digital, masyarakat menggunakan cara-cara sederhana. Anak-anak muda berjalan keliling kampung menjelang sahur sambil mengetuk bambu atau kentongan.
Di beberapa daerah, tradisi ini dikenal dengan istilah ngigel sahur. Namun kegiatan ini tidak sekadar membangunkan orang untuk makan sahur. Ia juga menjadi simbol kebersamaan. Seorang tetua adat pernah berkata dalam sebuah cerita lisan: “Kalau kita membangunkan orang sahur, kita juga sedang membangunkan hati kita sendiri.”
Kalimat ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut memiliki dimensi spiritual yang dalam.
Dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang sering dikutip oleh para ulama ketika membahas pentingnya saling mengingatkan dalam kebaikan: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini sering ditafsirkan oleh para tokoh agama di Lampung sebagai dasar spiritual dari tradisi saling mengingatkan dalam menjalankan puasa.
Tradisi ini menunjukkan bahwa ibadah tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif.
Ketika Ramadhan tiba, dapur-dapur rumah panggung di Lampung menjadi sangat hidup. Asap kayu bakar mengepul dari tungku tanah liat. Aroma santan, gula merah, dan daun pandan memenuhi udara kampung. Perempuan-perempuan tua biasanya mulai memasak sejak sore hari.
Beberapa makanan khas Ramadhan yang sering disiapkan antara lain: bubur kanji rumbi, sekubal, pisang goreng kelapa, seruit. Setiap makanan memiliki cerita dan makna tersendiri. Seruit misalnya, bukan sekadar hidangan ikan bakar dengan sambal terasi. Ia merupakan simbol kebersamaan. Seruit biasanya dimakan bersama-sama dalam satu wadah besar. Hal ini melambangkan nilai sakai sambayan, yaitu semangat gotong royong dan kebersamaan. Dalam kehidupan Ramadhan, kebersamaan ini menjadi sangat penting karena puasa mengajarkan manusia untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
Di wilayah Lampung Barat terdapat sebuah legenda yang sering diceritakan pada malam-malam Ramadhan. Legenda itu berkisah tentang Sang Batin Laksana, seorang pemimpin adat yang terkenal sangat dermawan. Konon setiap malam Ramadhan, Sang Batin Laksana berjalan diam-diam membawa makanan ke rumah-rumah orang miskin. Ia tidak pernah memperkenalkan dirinya. Suatu malam seorang pemuda memergokinya dan bertanya: “Mengapa Tuan melakukan ini tanpa memberitahu siapa pun?”
Sang Batin Laksana tersenyum dan menjawab: “Ramadhan bukan waktu untuk memperlihatkan kebaikan. Ramadhan adalah waktu untuk menyembunyikan kebaikan agar hanya Tuhan yang mengetahuinya.”
Jawaban ini memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Dalam tradisi Islam, keikhlasan merupakan inti dari setiap amal. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
Cerita Sang Batin Laksana kemudian menjadi teladan moral bagi masyarakat. Ia mengajarkan bahwa kebaikan sejati tidak membutuhkan pujian.
Bagi masyarakat adat Lampung, Ramadhan juga berfungsi sebagai ruang untuk mengingat sejarah dan leluhur. Ketika keluarga berkumpul untuk berbuka puasa, cerita tentang nenek moyang kembali diceritakan. Kisah perjalanan marga, kisah pertemuan dengan para ulama, dan kisah perjuangan menjaga adat. Tradisi bercerita ini menjadi cara masyarakat Lampung menjaga identitas mereka.
Penulis menyampaikan: “Di Lampung, sejarah tidak selalu ditulis di atas kertas. Ia hidup dalam cerita yang diulang setiap generasi.” Hal ini menjelaskan mengapa cerita rakyat memiliki peran penting dalam kehidupan budaya. Melalui cerita, nilai-nilai adat dan spiritual diwariskan kepada generasi muda.
Ramadhan dalam kehidupan masyarakat Lampung bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah perjalanan budaya yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam tradisi saling mengingatkan menjalankan puasa, dalam dapur yang penuh aroma makanan tradisional, dan dalam cerita-cerita rakyat yang diceritakan kembali setiap tahun, masyarakat Lampung menjaga hubungan mereka dengan leluhur.
Ramadhan menjadi ruang tempat adat dan agama saling menguatkan. Ia mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya. Selama tradisi ini terus dijaga, maka jejak Ramadhan dalam adat Lampung akan tetap hidup dari generasi ke generasi.
Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandung: Alumni.
3. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
4. Syarifuddin, A. Piil Pesenggiri: Falsafah Hidup Orang Lampung. Bandar Lampung: Pusat Studi Budaya Lampung.
5. Manuskrip Kuntara Raja Niti. Arsip Tradisi Lampung.
6. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatra Barat. Tradisi Lisan Masyarakat Lampung.
7. Al-Qur’an al-Karim.
8. Al-Nawawi. Riyadhus Shalihin. Beirut: Dar al-Fikr.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

