nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, hiduplah seorang lelaki tua di Tanah Abung. Namanya Ompung Junjungan. Setiap malam Jumat, ia mengumpulkan anak-anak kampung di sesat, balai adat yang bertiang kayu ulin itu. Di tangannya, sebuah naskah usang Kuntara Raja Niti selalu ia genggam. Di hatinya, cahaya Al-Qur’an tak pernah padam. “Dengarlah,” katanya dengan suara lirih namun tegas. “Aku akan ceritakan bagaimana Islam datang menyapa, dan Piil justru bersinar kian terang.”
Apa yang membuat Piil Pesenggiri begitu istimewa? Bukan sekadar karena usianya yang tua. Bukan pula karena ia lahir dari rahim adat yang kuat. Tapi karena falsafah ini, yang kemudian menjadi lima tiang kehormatan itu, sanggup berjumpa dengan Islam. Bukan untuk bertengkar, melainkan untuk bersenyawa.
Dalam salah satu naskah Kuntara Raja Niti pasal 46, kita bisa membaca baris yang sangat berani pada zamannya: “Pokok manusia ada tiga perkara: Islam, Sarani, dan Kapir”.
Artinya, kitab adat tertua masyarakat Lampung itu sudah mengakui keragaman keyakinan sejak berabad lalu. Namun bagi masyarakat Ulun Lampung yang memeluk Islam, Piil Pesenggiri lalu dibacakan dalam bingkai syariat.
Menurut penelitian para budayawan, nilai-nilai dalam Piil Pesenggiri merupakan pengejawantahan dari ajaran Islam itu sendiri. Para Punyimbang, pemegang adat, paham betul bahwa menjaga harga diri adalah perintah Allah.
Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat (49): 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
Asbāb al-nuzūl: Ayat ini turun tatkala Nabi Muhammad memasuki Kota Mekkah (Fathu Makkah). Bilal bin Rabah, seorang bekas budak berkulit hitam, naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan azan. Sebagian penduduk Mekkah yang belum terbiasa berkata sinis, “Budak hitam inikah yang azan di atas Ka’bah?”. Maka turunlah ayat ini, menegaskan bahwa bukan keturunan atau jabatan yang menentukan kemuliaan, melainkan ketakwaan.
Bukankah ini sejalan dengan ruh Piil Pesenggiri? Bahwa harga diri (Pesenggiri) bukanlah gengsi buta, melainkan amal saleh. Bahwa gelar (Juluk Adok) bukan alat menyombong, melainkan beban moral.
Dalam dunia Islam, ada istilah muru’ah, sikap menjaga kehormatan diri dengan menjauhi segala hal yang merendahkan martabat. Seorang Muslim dengan muru’ah tidak akan berbohong, khianat, atau berbuat curang, karena semua itu memalukan. Bukankah itu inti dari Piil? Rasa malu yang terpuji.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Al-hayā’u min al-īmān” (Rasa malu adalah sebagian dari iman).
Para ulama menjelaskan: rasa malu yang dimaksud bukanlah malu karena kemiskinan atau keterbatasan fisik. Bukan pula malu yang membuat seseorang enggan bertanya tentang agama. Tapi al-hayā’ adalah rasa malu untuk berbuat dosa, malu untuk menampakkan aurat, malu untuk bersikap sombong di hadapan sesama.
Nah, di sinilah letak keindahan Piil. Leluhur Lampung telah lebih dulu memiliki rasa malu itu. Mereka malu jika melanggar adat. Malu jika tak ramah. Malu jika tak ikut gotong royong. Lalu, ketika Islam datang, rasa malu itu tidak dihilangkan. Justru diberi arah: malu karena Allah, bukan takut dicela manusia semata.
Bayangkan. Seorang Ulun Lampung di zaman dulu akan sungkan meminta-minta meski hidup susah. Mengapa? Karena nemui nyimah justru mengajarkan “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Rasa malu itu mengajarkannya untuk bekerja, untuk menjaga izzah (harga diri). Bukankah Islam juga mengajarkan demikian? Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik makanan adalah yang dihasilkan dari kerja keras seseorang.”
Saya ingin bercerita tentang Buyut Khairuddin. Beliau adalah seorang Punyimbang dari Suku Abung yang hidup di akhir abad ke-19. Setiap hari, ia mengajar mengaji di surau kecil. Namun, ketika ada cangget adok, upacara pemberian gelar adat, ia hadir dengan pakaian kebesaran. Gelar Suntan disandangnya dengan bangga. Tidak ada yang merasa aneh. Sebab, bagi masyarakat Lampung, Islam dan adat adalah dua sisi mata uang yang sama.
Kisah ini ingin mengatakan: kebanggaan sebagai suku Lampung tidaklah dilarang. Yang dilarang adalah takabur, merasa diri lebih hebat dari yang lain.
Dalam sebuah riwayat, ketika penaklukan Mekkah, Rasulullah berdiri di depan Ka’bah dan bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan (kebanggaan) jahiliah dan kebanggaan terhadap bapak-bapak (leluhur). Manusia (terdiri dari) orang yang bertakwa dan orang celaka. Kalian semua anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah.”
Tetapi perhatikan, sabda ini tidak serta-merta menghapus identitas suku. Allah sendiri mengakui keberadaan “berbangsa-bangsa dan bersuku-suku” dalam QS. Al-Hujurat: 13. Yang diperbaiki adalah niatnya: jangan sampai kebanggaan suku membuat kita merendahkan suku lain.
Para Punyimbang di Lampung paham betul hal ini. Gelar Sultan, Raden, Pangeran, atau Minak mereka sandang untuk menjaga adat, bukan untuk menghina. Mereka juga yang paling dulu menegakkan shalat, membayar zakat, dan berpuasa. Mereka adalah bukti hidup bahwa Piil Pesenggiri bukanlah penghalang menuju surga, melainkan jembatan.
Nemui Nyimah, keramahan, adalah salah satu pilar Piil yang paling membekas di hati saya. Setiap kali saya berkunjung ke rumah saudara di Lampung, selalu disambut dengan kopi robusta panas dan senyum tulus. Bahkan, saat saya datang tanpa diundang sekalipun.
Tahukah Anda, bahwa Rasulullah SAW adalah teladan tertinggi dalam hal ini? Beliau bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” Para ulama menjelaskan bahwa memuliakan tamu adalah sunnah yang sangat dianjurkan, memberi makan, menyediakan tempat menginap, dan menyambut dengan wajah cerah.
Nabi juga bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Coba kita renungkan. Bukankah nemui nyimah itu intinya adalah mencintai orang lain? Menganggap setiap tamu yang datang sebagai “saudara” yang harus dihormati. Dalam skala yang lebih luas, nemui nyimah juga berarti membina silaturahmi, bukan hanya dengan generasi sekarang, tapi juga dengan para pendahulu dan mereka yang akan datang.
Dalam sebuah hadis lain, Rasulullah SAW bersabda: “Pangkal akal setelah iman adalah mencintai manusia dan berbuat baik kepada setiap orang, baik ia orang baik maupun orang jahat.” (HR. Thabrani).
Islam mengajarkan untuk berbuat baik kepada semua orang, tanpa pandang bulu. Ini sejalan dengan nemui nyimah yang mengharuskan tuan rumah berlaku ramah kepada siapa pun yang datang, baik ia dari kalangan atas, menengah, atau bawah.
Namun, perlu diingat: keramahan itu ada batasnya. Seorang Muslim tidak boleh merendahkan dirinya demi menyenangkan tamu yang meminta kemaksiatan. Nemui nyimah bukan alasan untuk menghidangkan minuman keras, atau membuka aurat. Di sinilah letak keseimbangan: nemui nyimah ala Rasulullah adalah ramah, tapi tegas pada prinsip syariat.
Sebagai penutup bab ini, mari kita dengarkan kembali nasihat Ompung Junjungan yang duduk di sesat itu:
“Anak cucuku, jangan kau pisahkan Islam dari adat, dan jangan kau pertentangkan adat dengan Islam. Karena Piil Pesenggiri adalah perahu, dan Islam adalah nahkodanya. Bersama, mereka akan mengantarkanmu ke tepian yang selamat, dunia dan akhirat.”
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

