Siger Beradu di Pelataran Masjid. 1 Hari Sebelum Idul Adha. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami mengajarkan bahwa mahkota bukanlah sekadar perhiasan di kepala. Ia adalah cerminan harga diri, sejarah, dan tempat seseorang dalam adat. Namun, terkadang mahkota justru menjadi duri ketika dua dunia yang berbeda bertemu.
Begitulah yang terjadi satu hari sebelum Idul Adha, di pelataran Masjid Agung sebuah pekon di Lampung Selatan. Usai salat Id, suasana yang tadinya khusyuk berubah menjadi hiruk-pikuk pembagian hewan kurban dengan sistem nampah, mengantarkan daging kurban langsung ke rumah-rumah warga.
Di tengah keramaian itu, dua wanita berdiri saling berpandangan. Melati, muda-mudi dari keluarga Saibatin, mengenakan Siger berkait tujuh di kepalanya. Mahkota keemasan itu melambangkan tujuh adok (gelar adat) dalam masyarakat Saibatin, suttan, raja jukuan, batin, radin, minak, kimas, dan mas/itton. Baginya, Siger itu adalah warisan leluhur yang tak ternilai.
Di hadapannya, Kirana yang berasal dari sistem Pepadun juga mengenakan Siger. Namun berbeda, Siger miliknya memiliki sembilan lekukan, melambangkan sembilan marga dalam adat Pepadun. Dengan hiasan bunga yang indah, mahkota itu mencerminkan falsafah bahwa dalam Pepadun, gelar diraih berdasarkan prestasi dan kepemimpinan, bukan sekadar keturunan.

Seekor kerbau telah disembelih. Dagingnya ditimbang dan dibungkus dengan daun pisang. Sekarang saatnya pembagian. Seorang Punyimbang tua berdiri di tengah, memegang daftar nama.
“Daging ini untuk keluarga Suttan Ratu,” sebutnya.
Tanpa sadar, nada suaranya terdengar lebih hormat ketika menyebut gelar-gelar tinggi dari garis Saibatin.
“Rasanya setiap tahun begitu,” bisik seseorang di belakang Melita.
Namun Kirana mendengarnya. Wajahnya berubah masam. Ia melangkah maju.
“Maaf, Wan,” sapa Kirana dengan suara tegas namun tetap hormat. “Daging kurban ini hak semua yang berhak menerima. Apa karena Siger saya hanya bertanduk dan berhias bunga, maka keluarga saya dianggap kurang?”
Keributan kecil mulai terjadi. Beberapa orang mendekat. Melati ikut melangkah maju. Matanya menyipit.
“Bukan begitu, Dik Kirana. Ini bukan soal besar-kecilnya mahkota. Ini soal adat. Di Saibatin, kami memiliki hierarki yang diwariskan turun-temurun sejak zaman kerajaan dulu. Bukan saya yang membuat aturan ini.”
Kirana geleng-geleng kepala. “Tapi ini hari raya Idul Adha, Mbak. Di hadapan Allah, apa beda saya dengan Mbak? Pepadun mengajarkan bahwa gelar adalah tanggung jawab, bukan hak istimewa di meja makan.”

Ketegangan meregang. Dua falsafah berbeda kini beradu di pelataran masjid. Sementara anak-anak muda mulai memilih sisi masing-masing.
Siger berkait tujuh dan Siger bertanduk kini bukan lagi sekadar mahkota. Ia adalah simbol dari dua dunia: Saibatin dengan sistem hierarkisnya yang kental, dan Pepadun dengan semangat meritokrasi yang menghargai prestasi.
Di tengah suasana yang mulai memanas, seorang tokoh adat tua muncul. Beliau adalah Punyimbang Agung, sesepuh yang dihormati oleh kedua sistem adat karena garis keturunannya yang bercabang ke dua ruwa jurai.
Ia tidak membentak atau memerintah. Ia hanya duduk di atas batu besar di halaman masjid dan memanggil kedua wanita itu.
“Ayo duduk, anak-anakku. Kalian tahu isi Kitab Kuntara Raja Niti?” tanyanya lembut.
Melati dan Kirana menggeleng samar. Mereka tahu kitab itu, tapi belum pernah menyelaminya.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Petuah Leluhur tentang Sabar dan Rendah Hati. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Punyimbang Agung lalu membuka naskah lontar yang selalu ia bawa. Ia membaca sebuah penggalan: “Jangan membunuh, jangan menghambat jalannya air, jangan melanggar sumpah, jangan merubah surat perjanjian, jangan menerima suap, jangan merubah keputusan tetua adat, jangan merusak hutan, jangan menjual hewan hasil tangkapan, jangan berbuat yang tidak senonoh”
“Anak-anakku, ini adalah sebagai dari Larangan dalam Kuntara Raja Niti. Perhatikan, tidak ada satu pun larangan yang menyebutkan bahwa Siger yang lebih tinggi lebih mulia. Tidak ada. Justru sebaliknya, kitab ini mengajarkan sikap asah, asih, dan asuh yang harus ada pada jiwa seluruh orang Lampung, terlebih para Punyimbang dan Sebatin.”
Ia memandang Melati. “Kamu Saibatin, Nak. Kamu punya kebanggaan dengan tujuh gelar leluhurmu. Itu hakmu. Tapi ingat, Piil Pesenggiri bukan berarti merasa paling tinggi. Pesenggiri adalah harga diri yang tegak karena sikap, bukan karena menundukkan orang lain.”
Beliau lalu berpaling pada Kirana. “Dan kamu, dari Pepadun. Semangatmu untuk kesetaraan itu baik. Tapi jangan lupa, Nemui Nyimah mengajarkan kita untuk ramah, bukan merendahkan. Perbedaan cara bukan berarti permusuhan.”
Punyimbang Agung kemudian mengambil sebilah ranting dan menggambar di tanah. Ia menggambar lima kelopak bunga.
“Lihat. Piil Pesenggiri itu bukan satu, tapi lima. Seperti lima kelopak kembang penghias Siger di lambang provinsi kita”.
Ia menunjuk satu per satu.
“Pesenggiri: harga diri dan kehormatan. Jangan sampai kalian kehilangan itu dengan bertengkar di depan umum.
“Juluk-Adok: gelar kehormatan. Bukan hanya milik Saibatin, setiap orang Lampung berhak menyandangnya setelah melalui proses adat.
“Nemui Nyimah: keramahan dan saling memberi. Bukankah di hari raya ini kita justru dianjurkan berbagi, bukan bertengkar?
“Nengah Nyappur: keterbukaan dan bersosialisasi. Kalian berdua tinggal di pekon yang sama, kenapa harus dipisahkan oleh bentuk Siger?
“Dan Sakai Sambayan: gotong-royong. Tanpa itu, daging kurban ini tidak akan sampai ke rumah siapa pun.”

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Adab Makan dan Minum Saat Berbuka Puasa. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Punyimbang Agung lalu mengambil dua bungkusan daging dan memberikan masing-masing ke Melati dan Kirana.
“Sekarang, antarkan nampah ini bersama-sama. Jalan berdua. Biar warga desa melihat bahwa Saibatin dan Pepadun bisa berbaur.”
Malam harinya, seusai membantu pembagian daging, Melati dan Kirana duduk di beranda rumah Punyimbang Agung. Dua Siger yang tadi pagi “beradu” kini diletakkan bersebelahan di atas meja. Entah bagaimana, keduanya justru terlihat indah beriringan.
“Maafkan saya tadi pagi, Mbak Melati,” ucap Kirana pelan.
“Saya juga minta maaf, Dik. Saya terlalu membanggakan gelar,” balas Melati.
Punyimbang Agung yang mendengar itu tersenyum. Ia lalu mengambil sebuah kitab kecil dan membacakan ayat yang sangat populer, namun sering dilupakan di saat emosi memuncak:
QS. Al-Hujurat (49): 13
“Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja’alnākum syu’ūbaw wa qabā`ila lita’ārafū, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr”
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”.

Ia lalu menjelaskan asbāb al-nuzūl (sebab turunnya) ayat ini.
“Dulu, ketika Rasulullah SAW berhasil menaklukkan Mekkah (Fathu Makkah), Bilal bin Rabah naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Beliau adalah seorang mantan budak berkulit hitam. Beberapa orang Quraisy yang masih sombong dengan keturunan mereka berkata, ‘Budak hitam inikah yang azan di atas Ka’bah?’ Ada juga yang menyebut Bilal sebagai ‘burung gagak’. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai teguran”.
“Intinya,” lanjut Punyimbang Agung, “Allah ingin mengatakan bahwa perbedaan suku, marga, bahkan bentuk Siger bukan untuk membuat kita saling merendahkan. Justru untuk saling mengenal, lita’ārafū. Di hadapan-Nya, yang membedakan hanyalah ketakwaan.”
Ia menatap Melati dan Kirana bergantian.
“Jadi, besok saat Idul Adha tiba, ingatlah. Siger kalian hanya mahkota. Tapi hati yang bertakwa, itulah yang akan diangkat oleh Allah.”

Kisah Siger yang beradu di pelataran masjid ini sejatinya adalah cerminan dari kehidupan berbangsa kita. Masyarakat adat Lampung yang terdiri dari dua sistem besar, Saibatin dan Pepadun, adalah miniatur Indonesia yang penuh dengan keberagaman.
Piil Pesenggiri dengan lima falsafahnya ternyata selaras dengan butir-butir Pancasila.
• Pesenggiri (harga diri) → Sila ke-2: Kemanusiaan yang adil dan beradab, karena harga diri harus dihormati pada setiap manusia tanpa kecuali.
• Juluk-Adok (gelar kehormatan) → Sila ke-4: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, karena gelar dalam Pepadun adalah bentuk pengakuan atas prestasi dan kepemimpinan.
• Nemui Nyimah (keramahan) → Sila ke-3: Persatuan Indonesia, karena keramahan adalah lem yang merekatkan perbedaan.
• Nengah Nyappur (keterbukaan) → Sila ke-5: Keadilan sosial, karena tanpa keterbukaan, keadilan hanya akan menjadi slogan.
• Sakai Sambayan (gotong royong) → Sila ke-3 dan ke-5 sekaligus, karena gotong royong adalah inti dari persatuan dan keadilan sosial.
Tidak ada yang perlu dipertentangkan antara adat, agama, dan negara. Ketiganya berjalan beriringan, seperti Sungai Way Sekampung yang mengalir tenang membawa air ke sawah-sawah warga.

Baca Juga :  Buku Seri : Siger, Mahkota Emas yang Menyala dalam Setiap Upacara. Seri - 4: Nengah Nyappur. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dua hari setelah Idul Adha, tradisi nampah sudah selesai. Melati dan Kirana menjadi sahabat baik. Mereka sering terlihat bersama, bahkan kadang saling bertukar Siger untuk dicoba, setelah meminta izin pada tetua adat, tentu saja.
Punyimbang Agung berkata suatu sore, “Lihatlah, anak-anakku. Siger berkait tujuh dan Siger bertanduk, jika diletakkan bersebelahan, ia tetap indah. Tidak ada yang perlu saling menunduk. Yang perlu adalah saling memberi ruang.”
Kirana tersenyum. “Seperti Nemui Nyimah ya, Wan?”
“Tepat sekali. Dan seperti Piil Pesenggiri itu sendiri, harga diri sejati adalah ketika kita bisa menghormati orang lain tanpa kehilangan jati diri.”
Matahari sore itu tenggelam dengan indah di balik perbukitan Lampung. Warna jingganya memantul di permukaan Siger yang tergantung di dinding rumah adat. Dua mahkota yang sempat beradu, kini bersanding dalam damai.

Daftar Pustaka
1. Indonesia Kaya. “Siger, Simbolisasi Status dan Identitas Masyarakat Lampung.”
2. Kitab Kuntara Raja Niti (Koentara Radjaniti) dalam koleksi Pustaka BPK XII.
3. Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat (49): 13.
4. NU Online. “Asbabun Nuzul Ayat tentang Lita’arafu.” 2022.
5. Wikipedia. “Piil Pesenggiri.”
6. IDN Times. “Falsafah Hidup Masyarakat Lampung.” 2020.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini