Buku Seri: Saibatin dan Pepadun, Keberagaman Sistem Adat Lampung. Seri 8 – Hidup Berdampingan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di tanah pesisir barat yang berombak gemulak, hiduplah seorang Punyimbang dari kaum Saibatin. Beliau memegang teguh gelar pusaka yang diwariskan dari buyut ke buyut. Di daerah pedalaman yang subur di tengah pulau, bertahtalah seorang Penyimbang dari kaum Pepadun. Gelar agungnya disandang setelah melalui musyawarah mufakat dan upacara yang sakral. Dua sistem adat yang berbeda ini sering disalahartikan oleh orang luar sebagai sumber perpecahan. Namun, bagi Ulun Lampung (orang Lampung), mereka bagaikan dua sisi mata uang yang sama; atau lebih indah lagi, bagaikan air yang mengalir dari hulu ke hilir.
Masyarakat Saibatin yang bermukim di kawasan pesisir seperti Melinting, Pubian, dan Krui, hidup dengan adat yang kental akan “kekukuhan” dan struktur vertikal. Gelar di sini adalah darah. Sementara masyarakat Pepadun yang mendiami daratan luas seperti Lampung Tengah, Way Kanan, dan Tulang Bawang, hidup dengan filosofi musyawarah yang egaliter. Gelar adalah buah dari jasa.
Namun, tahukah Anda? Perbedaan ini justru menjadi lem yang merekatkan, bukan air yang memisahkan. Dalam manuskrip kuno Kuntara Raja Niti, tersimpan butir-butir kebijaksanaan bahwa kekuatan adat Lampung terletak pada Sakai Sambayan (gotong royong) yang melampaui batas golongan.
Orang tua-tua dulu berkata: “Kami berbeda cara menapaki jalan, namun tujuan kami satu, menuju gunung yang sama”. Metafora “gunung” ini adalah cita-cita luhur untuk mencapai kemuliaan hidup (Piil Pesenggiri).

Dalam naskah kuno Kuntara Rajaniti (Kitab Adat Pepadun), disebutkan: “Raja piilnya wanita, lemah lembut terhadap masyarakat. Punyimbang piilnya gadis, selalu berupaya mendapatkan kecintaan masyarakat.”
Kutipan di atas sangat menarik. Ia menunjukkan bahwa meskipun sistemnya berbeda (Saibatin yang feodal dan Pepadun yang musyawarah), tujuan esensialnya sama: melayani dan mengayomi. “Raja” dalam konteks Saibatin dan “Punyimbang” dalam konteks Pepadun sama-sama dituntut untuk memiliki kelembutan (seperti wanita) dan kecintaan (seperti kekasih). Ini membuktikan bahwa perbedaan hanyalah “baju luar”, sedangkan “daging” dari adat Lampung adalah tanggung jawab sosial.
Mari kita menyelami sejarah. Alkisah, para leluhur Lampung datang dengan perahu besar yang sama. Setibanya di Selat Sunda, mereka berpisah. Kelompok yang memilih bermukim di pesisir mengembangkan sistem Saibatin (berasal dari kata Saibat yang berarti “saling mengikuti” garis keturunan). Mereka berinteraksi dengan pedagang asing, sehingga sistem kekuatan dan kekayaan (harta pusaka tinggi) menjadi sangat penting untuk menjaga kewibawaan di bandar-bandar pelabuhan.
Sementara itu, kelompok yang berlayar menyusuri sungai ke pedalaman mengembangkan sistem Pepadun (dinamakan dari kursi kayu Pepadun yang digunakan dalam upacara pengangkatan). Di pedalaman, ancaman datang dari alam dan binatang buas, sehingga kebersamaan dan kekuatan kolektif lebih utama daripada kekayaan individu. Dari sinilah lahir tradisi musyawarah yang kuat di kalangan Pepadun.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan dan Rasa Tanggung Jawab Sosial. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam dokumen kuno berupa Piagam Ulun Lampung (yang tersimpan secara turun-temurun dalam bentuk hafalan), disebutkan sebuah sumpah: “Keno mak kenang, mak gik gham mak gawi ratong” (Tidak akan terlupakan, tidak akan mundur, dan kita akan terus bekerja bersama).
Kerukunan antara Pepadun dan Saibatin adalah wujud nyata dari 5 pilar falsafah hidup masyarakat Lampung:
1. Piil Pesenggiri (Rasa Harga Diri): Orang Saibatin memiliki harga diri untuk mempertahankan warisan leluhurnya. Orang Pepadun memiliki harga diri untuk menghormati hasil musyawarah. Harga diri ini tidak membiarkan mereka saling menjatuhkan, karena saling menjatuhkan berarti kehilangan martabat sebagai Ulun Lampung.
2. Sakai Sambayan (Gotong Royong): Saat ada musibah atau pesta adat besar, baik Saibatin maupun Pepadun bahu-membahu. Tidak peduli apakah anda menggunakan gelar kebangsawanan atau gelar fungsional, yang terpenting adalah “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.
3. Nemui Nyimah (Ramah Tamah): Seorang tamu dari adat Pepadun yang datang ke wilayah Saibatin akan disambut dengan tangan terbuka, begitu pula sebaliknya. Sikap Nemui Nyimah menghilangkan sekat-sekat teritorial adat.
4. Nengah Nyappur (Suka Bergaul): Masyarakat Lampung dituntut untuk pandai bergaul. Dalam forum-forum rembug desa atau musyawarah pembangunan, para tetua adat dari kedua sistem duduk bersama. Mereka saling belajar: Saibatin belajar musyawarah ala Pepadun, Pepadun belajar struktur hierarki ala Saibatin.
5. Bejuluk Beadok (Pemberian Gelar): Gelar adat adalah doa. Orang Saibatin memiliki gelar kebangsawanan seperti Sutan, Radin, atau Dalom. Orang Pepadun memiliki gelar fungsional seperti Khai, Minak, atau Kimas. Meski bunyinya berbeda, fungsi gelar-gelar ini sama: mengingatkan pemiliknya untuk berbuat adil dan bijaksana. Gelar bukan untuk disombongkan, tetapi untuk “diemban” (dipikul) sebagai amanah.

Baca Juga :  Serial Buku - Dapur dan Warisan: Cerita Makanan Adat Lampung Buku 3 - Gulai Taboh, Sajian untuk Tamu Mulia. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Mungkin ada yang bertanya, “Apakah adat yang berbeda ini tidak bertentangan dengan Islam?” Tentu tidak. Adat Lampung berpegang teguh pada syariat.
Firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Ayat ini adalah landasan mengapa perbedaan sistem Pepadun dan Saibatin justru diberkati. Allah sendiri yang menciptakan perbedaan (syu’uban wa qabaila). Tujuan perbedaan itu adalah lita’arafu (saling mengenal). Dengan adanya dua sistem adat, masyarakat Lampung menjadi lebih kaya, lebih saling mengisi, dan lebih mengenal sejarah satu sama lain. Bukan untuk bermusuhan, tetapi untuk berlomba dalam kebaikan.
Bahkan dalam Surah Hud ayat 118, Allah berfirman:

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلَا يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَۙ
walau syâ’a rabbuka laja‘alan-nâsa ummataw wâḫidataw wa lâ yazâlûna mukhtalifîn
“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia akan menjadikan manusia umat yang satu. Namun, mereka senantiasa berselisih (dalam urusan agama),”

Ini mengajarkan bahwa keragaman adalah kehendak Tuhan (sunnatullah). Tugas kita bukanlah menghilangkan perbedaan, melainkan mengelolanya dengan bijak.
Selaras dengan itu, Pancasila, khususnya Sila ke-3: Persatuan Indonesia, menjadi bingkai pemersatu. Pepadun dan Saibatin adalah “kebinekaan” yang konkret. Mereka adalah contoh nyata bahwa “Bhinneka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tetapi tetap satu) bukan hanya semboyan di dinding, melainkan denyut nadi kehidupan di Bumi Sai Bumi Ruwa Jurai.

Secara spiritual, keberadaan dua sistem ini mengajarkan umat manusia tentang keseimbangan. Saibatin mengajarkan bahwa masa lalu (leluhur, tradisi, pusaka) itu penting. Pepadun mengajarkan bahwa masa depan (musyawarah, prestasi, adaptasi) itu penting. Jika hanya ada Saibatin, adat Lampung akan kaku dan sulit berubah. Jika hanya ada Pepadun, adat Lampung akan kehilangan akar historisnya yang dalam.
Dalam setiap upacara adat besar seperti Cangget Agung atau perkawinan, kita bisa melihat harmoni ini. Para Punyimbang Saibatin duduk di kursi kebesaran, sementara para Penyimbang Pepadun duduk melingkar. Mereka berdiskusi, kadang berdebat sengit, namun diakhiri dengan gelak tawa dan makan bersama. Ini adalah tontonan yang indah: perbedaan pendapat yang tidak merusak persaudaraan.
Seri ini ingin mengajak kita semua, terutama generasi muda Lampung, untuk tidak malu atau bermusuhan hanya karena perbedaan adat. Jangan ada lagi stigma bahwa “Saibatin itu sombong” atau “Pepadun itu kurang ajar”. Itu adalah pandangan picik yang tidak memahami filsafat luhur.

Baca Juga :  Buku Seri - Nengah Nyappur, Seni Merajut Silaturahmi dan Memperluas Pergaulan. Seri 4: Gadis Penenun Tapis dan Pria Pemburu Badak. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Mari kita petik pelajaran dari Kuntara Raja Niti dan dari hembusan angin di pesisir serta gemericik air di pedalaman. Bahwa sejatinya, Saibatin dan Pepadun adalah dua saudara yang dipisahkan oleh sungai, namun disatukan oleh air yang sama. Air itu adalah nilai-nilai keislaman, falsafah Piil Pesenggiri, dan semangat Pancasila.
Hiduplah berdampingan, karena dalam perbedaan itulah terletak kekuatan sejati Bumi Lampung.

Referensi yang Digunakan:
1. Indra, G. L., & Mu’in, F. (2025). Family Conflict Resolution Based on Lampung Customary Local Wisdom. Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya.
2. Agustina, E. S., & Ariyani, F. (2015). Pengembangan Nilai Karakter Berbasis Kelokalan (Piil Pesenggiri). Universitas Lampung.
3. Tim Redaksi. (2024). Tafsir Surat Hud Ayat 118: Jalan Menuju Persatuan di Tengah Keragaman. NU Online.
4. Manggala, S. (2019). Pancasila dan Persatuan Indonesia. BINUS University.
5. Kemdikbud. (2018). Warisan Budaya Takbenda: Piil Pesinggiri. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.
6. Bahagianda, M. M. (2026). Pepadun dan Saibatin, Dua Saudara, Satu Rumpun. Portal Berita Natar Agung.
7. Wikipedia. (2019). Piil Pesenggiri.
8. IKIM. (2021). Cabaran Kepelbagaian Dalam Mencapai Kesatuan. Institut Kefahaman Islam Malaysia.
9. Hukumonline. (2024). Penerapan Sila Ketiga Pancasila dalam UUD 1945.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini