Cermin Retak: Selosabrang. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Desa Selosabrang, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menjadi viral. Di masa seperti sekarang ini, banyak orang enggak membayangkan, para petani desa itu berani menolak pembangunan Batalyon Territorial di wilayahnya.

Sebagai warga tetangga desa, Pakde Kliwon terlihat tersenyum bangga. Tangan kanannya dengan kokoh memegang pisang goreng olahan Yuk Nah yang tiada tara. Setidaknya menurut Pakde Kliwon. Dan orang paham penilaiannya sangat subyektif, melihat latar belakang saat mereka kuliah di dulu.

Mata Pakde Kliwon terus menatap tajam video penolakan warga itu. Entah di mana tempatnya, mungkin di Balai Desa, mungkin juga di kantor Kecamatan.

“Tidak bisa dipastikan lokasinya,” kata Pakde Kliwon penasaran. Sebagai aktivis jurnalistik di pers mahasiswa, lokasi menjadi kunci informasi dalam penulisan berita.

Baca Juga :  Lebaran: Pinjol dan Paylater Meningkat*

“Ini perlawanan,” kata Yuk Nah tetap menyala-nyala sama persis dengan nyalaan api di tungku dapur warungnya.

Pakde Kliwon tepuk tangan berkali-kali, saat petani berdiri di antara teman-teman sedesanya. Dengan tegas ia mengatakan penolakan itu. Alasannya jelas, lahan yang akan menjadi lokasi pembangunan Batalyon itu merupakan tanah olahan mereka untuk bertani.

“Ini mematikan penghidupan mereka,” ungkap Pakde Kliwon disusul anggukan Yuk Nah. Pakde Kliwon sumringah, sebab baru kali ini Yuk Nah langsung setuju pendapatnya tanpa catatan.

Pakde Kliwon juga bilang, para petani itu sangat cerdas dalam mengungkapkan argumentasinya. Mereka bilang proyek pembangunan Batalyon itu juga akan menjadi proses pemiskinan warga desa.

Tentu ini menjadi paradoks. Ketika negara berjanji akan menghilangkan kemiskinan, bahkan dikatakan angka kemiskinan ekstrem sudah tidak ada lagi. Secara bersamaan melakukan berbagai proyek yang justru memiskinkan.

Baca Juga :  DUNIA WANITA  - 6 Hal yang Membuat Kamu Menjadi Wanita yang Elegan dan Berkelas

Gaya-gaya pelaksanaan dan merebut lahan sesuka hatinya juga terjadi saat pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Tulungagung dan Blitar. Pembangun ini mengorbankan anak-anak yang seharusnya bisa belajar dengan tenang.

Jika memang hendak membangun kenapa enggak memilih lahan yang memang kosong, kenapa menggusur lahan pertanian warga desa dan membongkar gedung SD tempat anak-anak belajar?

“Entahlah, suara warga dan anak-anak sekolah enggak akan didengar,” ujar Pakde Kliwon dengan suara melemah. Air matanya mengalir perlahan dari dua sudut mata rapuhnya.

“Kau menangis?” tanya Yuk Nah lirih mengalir seperti angin dengan membawa aroma embun di pagi hari.

Baca Juga :  Rahasia Tetap Bugar Selama Ramadan yang Jarang Diketahui!

Pakde Kliwon tak menjawab. Ia menengadah entah memandang apa di atap jerami warung Yuk Nah. Atau mungkin ia hendak menahan air mata yang terus memberontak, meronta-ronta dari balik kelopak matanya.

“Kenapa saya mesti menyaksikan kesewenang-wenangan pada batas usia senjaku,” lanjut Pakde Kliwon.

Yuk Nah mengangsurkan dua lembar tisu, dan Pakde Kliwon menerimanya. Air matanya menderas kembali. Namun, ia tidak tahu air mata itu karena nasib warga negeri ini atau karena uluran tangan Yuk Nah, perempuan pujaannya. (*/41)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini