Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
nataragung.id – Metro – Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan cara berpikir, budaya, dan psikologi suatu masyarakat. Menariknya, banyak kata yang dahulu memiliki makna netral bahkan mulia, namun seiring perubahan sosial dan budaya mengalami pergeseran menjadi bermakna negatif. Salah satu contohnya adalah kata “bajingan”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ini memiliki dua makna. Pertama, sebagai profesi tradisional, yaitu pengemudi gerobak sapi atau cikar di pulau Jawa, dan kedua. sebagai kata makian yang berarti penjahat, pencopet, atau orang yang kurang ajar. Pada masa lalu, profesi bajingan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat karena menjadi bagian dari sistem transportasi dan distribusi barang. Namun seiring perkembangan zaman, makna tersebut bergeser hingga kini lebih sering dipahami sebagai kata penghinaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan bahasa sering kali dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan budaya.
Teori Pergeseran Makna dalam Psikologi Sosial
Dalam ilmu bahasa, fenomena ini dikenal sebagai peyorasi atau penurunan makna, yaitu perubahan makna dari netral atau positif menjadi negatif. Ahli linguistik Stephen Ullmann dalam Semantics: An Introduction to the Science of Meaning (1962) menjelaskan bahwa makna suatu kata dapat berubah karena perubahan persepsi sosial terhadap objek, profesi, atau kelompok yang dirujuk oleh kata tersebut. Dari sudut psikologi sosial, teori “Social Representation Theory” yang dikembangkan oleh Serge Moscovici menjelaskan bahwa masyarakat membangun pemahaman bersama terhadap suatu istilah melalui pengalaman kolektif, media, cerita rakyat, dan interaksi sosial. Ketika suatu kelompok atau profesi terus-menerus diasosiasikan dengan perilaku negatif, maka makna katanya pun dapat berubah.
Mengapa Makna Kata Bisa Menjadi Negatif?
Pertama. Stereotip dan Generalisasi Sosial. Teori stereotip dari Walter Lippmann menjelaskan bahwa manusia cenderung menyederhanakan realitas dengan memberi label pada kelompok tertentu. Ketika sebagian kecil anggota suatu kelompok melakukan tindakan negatif, masyarakat sering melakukan generalisasi sehingga label kelompok tersebut ikut tercemar. Dalam psikologi kognitif, proses ini disebut “representative heuristic” (Kahneman & Tversky, 1974), yaitu kecenderungan menilai keseluruhan kelompok berdasarkan contoh yang paling mudah diingat;
Kedua. Efek Labelisasi. Teori “Labeling Theory” dari Howard Becker menjelaskan bahwa suatu istilah dapat berubah makna ketika masyarakat secara terus-menerus menggunakannya sebagai label negatif. Semakin sering sebuah kata digunakan untuk menghina, semakin kuat asosiasi negatif yang melekat pada kata tersebut;
Ketiga. Pengaruh Emosi dalam Bahasa. Menurut teori Affective Meaning dari Charles Osgood, emosi yang menyertai penggunaan suatu kata akan memengaruhi maknanya. Kata yang sering digunakan dalam situasi marah, konflik, atau penghinaan akan lambat laun memperoleh makna emosional yang negatif.
Contoh Istilah yang Mengalami Penurunan Makna
Bajingan. Awalnya berarti pengemudi gerobak sapi yang berjasa dalam transportasi tradisional. Kini lebih sering digunakan sebagai makian; Preman. Berasal dari bahasa Belanda vrijman yang berarti “orang bebas” atau “warga sipil yang bukan tentara”. Namun kini identik dengan pelaku kekerasan atau pemerasan;
Kuli. Pada masa kolonial merupakan sebutan bagi pekerja atau buruh. Kini sering digunakan sebagai istilah yang merendahkan status sosial seseorang;
Jongos. Dahulu berarti pembantu laki-laki di rumah tangga atau lingkungan kerajaan. Kini sering digunakan untuk menyebut seseorang yang dianggap rendah atau hanya menjadi suruhan;
Budak. Dalam sejarah Melayu, istilah ini tidak selalu bermakna hina dan kadang digunakan untuk menyebut rakyat atau anak. Namun sekarang identik dengan perbudakan dan penindasan;
Kampungan. Awalnya hanya menunjukkan seseorang yang berasal dari kampung atau desa. Namun kini sering digunakan untuk menggambarkan perilaku yang dianggap tidak beradab atau tidak modern. Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan makna lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi sosial daripada makna asli kata tersebut.
Psikologi di Balik Kebiasaan Memberi Label
Dalam teori “Social Identity Theory” yang dikembangkan oleh Henri Tajfel, manusia cenderung membagi dunia menjadi kelompok “kami” dan “mereka”. Akibatnya, kelompok tertentu lebih mudah diberi stigma atau label negatif. Padahal label yang terus-menerus diberikan dapat memengaruhi harga diri individu maupun kelompok yang menerimanya. Dalam psikologi pendidikan, fenomena ini dikenal sebagai “self-fulfilling prophecy”(Merton, 1948), yaitu ketika seseorang akhirnya bertingkah laku sesuai label yang terus-menerus diberikan kepadanya.
Perspektif Islam: Menjaga Lisan dan Martabat Sesama
Islam mengajarkan agar manusia berhati-hati dalam memberikan julukan atau panggilan kepada orang lain. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujurat: 11). Ayat ini menunjukkan bahwa pemberian label negatif dapat merusak kehormatan seseorang dan menciptakan permusuhan dalam masyarakat. Allah juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12). Ayat ini relevan dengan fenomena stereotip yang sering menjadi penyebab pergeseran makna dan stigma sosial. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan bahwa bahasa memiliki dampak psikologis yang besar terhadap individu maupun masyarakat.
Ketika Yang Mulia Menjadi Hina
Pergeseran makna kata sebenarnya mengajarkan satu pelajaran penting: kemuliaan tidak terletak pada nama, jabatan, profesi, atau gelar semata, tetapi pada perilaku manusia yang menyandangnya. Banyak profesi yang dahulu sangat dihormati menjadi dipandang rendah karena sebagian pelakunya melakukan penyimpangan. Sebaliknya, ada pula istilah yang dahulu biasa saja kemudian menjadi terhormat karena diasosiasikan dengan nilai-nilai positif. Fenomena ini sejalan dengan teori “Symbolic Interactionism” dari Herbert Blumer yang menjelaskan bahwa makna tidak melekat secara permanen pada suatu simbol atau kata, tetapi dibentuk melalui interaksi sosial yang berlangsung terus-menerus.
Akhirnya penting dipahami bahwa perubahan makna kata seperti “bajingan” menunjukkan bahwa bahasa hidup bersama masyarakat. Melalui proses stereotip, labelisasi, asosiasi emosional, dan interaksi sosial, istilah yang awalnya netral atau mulia dapat berubah menjadi bernilai negatif. Kajian psikologi menunjukkan bahwa perubahan tersebut dipengaruhi oleh cara manusia membangun persepsi kolektif terhadap suatu kelompok atau profesi. Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati dalam memberi label dan julukan kepada orang lain. Islam jauh sebelumnya telah mengingatkan agar manusia menjaga lisan, menghindari prasangka, dan tidak memanggil orang lain dengan gelar yang buruk. Sebab, tidak jarang sebuah kata yang awalnya mulia menjadi hina bukan karena maknanya, tetapi karena perilaku manusia yang menggunakannya.Pada akhirnya, yang memuliakan sebuah nama bukanlah bunyi katanya, melainkan akhlak dan perilaku orang-orang yang menyandangnya. (*)

