Ahmad Nausrau: Muslim Papua yang Meniti Jalan Dakwah, Pendidikan, dan Politik hingga Menjadi Wakil Gubernur Papua Barat Daya. Begini Perjalanan Kariernya

0

nataragung.id – Papua – Tidak semua pemimpin lahir dari ruang kekuasaan. Ada yang memulai perjalanan dari masjid, majelis ilmu, dan pengabdian kepada masyarakat sebelum akhirnya dipercaya memimpin daerah. Ahmad Nausrau adalah salah satu sosok tersebut. Perjalanannya bukan dibangun oleh popularitas semata, melainkan oleh pendidikan, dakwah, pengabdian sosial, dan konsistensi dalam membangun persatuan di Tanah Papua.

Ahmad Nausrau lahir di Kaimana, Papua Barat, pada 28 Juni 1982. Sejak usia muda, ia menunjukkan minat yang besar terhadap pendidikan Islam. Perjalanan intelektualnya membawanya menempuh pendidikan di berbagai lembaga Islam ternama. Ia pernah belajar di Pesantren Al-Irsyad Pasuruan, melanjutkan pendidikan di MAN 2 Madiun, kemudian memperdalam Bahasa Arab di Ma’had Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar. Semangat menuntut ilmu mengantarkannya hingga ke Mesir untuk belajar di Universitas Al-Azhar, salah satu pusat pendidikan Islam paling berpengaruh di dunia, sebelum menyelesaikan pendidikan sarjananya di Institut Agama Islam Al-Aqidah Jakarta.

Bekal pendidikan tersebut membentuk karakter Ahmad Nausrau sebagai seorang dai, pendidik, dan pemimpin umat. Pada usia yang relatif muda, ia dipercaya menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kaimana. Kepercayaan tersebut menjadikannya salah satu Ketua MUI termuda di Indonesia pada masanya. Amanah itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya dalam membina kehidupan keagamaan dan memperkuat peran umat Islam di Papua.

Baca Juga :  Cagub-Cawagub Terpilih Mirza-Jihan Jemput Bola ke Pusat

Kemampuan Ahmad Nausrau dalam membangun komunikasi, merangkul berbagai kalangan, serta menjaga keharmonisan sosial membuat perannya semakin luas. Ia kemudian dipercaya memimpin Majelis Ulama Indonesia Papua Barat selama dua periode. Dalam kapasitas tersebut, ia aktif mendorong penguatan pendidikan Islam, pembinaan generasi muda, pemberdayaan umat, serta mempererat hubungan antarumat beragama yang hidup berdampingan dalam keberagaman Papua.

Sebagai tokoh agama, Ahmad Nausrau dikenal memiliki pandangan bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia, pendidikan, moralitas, dan kesejahteraan masyarakat. Prinsip inilah yang kemudian menjadi fondasi dalam setiap langkah pengabdiannya.

Baca Juga :  Fahri Hamzah Dorong Desain Ulang Masa Depan Bima dan Pulau Sumbawa

Selain aktif dalam dunia dakwah dan organisasi keagamaan, Ahmad Nausrau juga mulai terlibat dalam dunia politik. Ia bergabung dengan gerindra dan dipercaya memegang berbagai peran strategis. Pada Pemilu 2019, ia maju sebagai calon anggota DPR RI. Ia juga dipercaya menjadi Ketua Tim Pemenangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno di Papua Barat. Pada Pilpres 2024, kembali ia mendapat amanah sebagai Ketua Tim Relawan Prabowo-Gibran untuk wilayah Papua Barat.

Pengalaman panjang dalam organisasi, dakwah, dan politik membuat Ahmad Nausrau semakin dikenal masyarakat. Ketika Papua Barat Daya memasuki babak penting dalam pembangunan daerahnya, ia bersama Elisa Kambu maju dalam Pilkada Papua Barat Daya 2024. Pasangan ini memperoleh dukungan luas dari masyarakat dan berhasil memenangkan kontestasi politik tersebut.

Kemenangan tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah Papua Barat Daya sebagai provinsi termuda di Indonesia. Pada 20 Februari 2025, Ahmad Nausrau resmi dilantik sebagai Wakil Gubernur Papua Barat Daya periode 2025–2030. Jabatan tersebut menandai perjalanan panjang seorang santri, ulama, dan tokoh masyarakat yang kini mendapat amanah untuk melayani seluruh masyarakat Papua Barat Daya.

Baca Juga :  Wapres Gibran Wakili Presiden Prabowo di KTT G20. Seskab Ungkap Alasannya

Dalam menjalankan tugasnya sebagai Wakil Gubernur, Ahmad Nausrau menaruh perhatian besar pada peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengembangan generasi muda, serta penguatan kerukunan antarumat beragama. Ia meyakini bahwa kemajuan Papua Barat Daya hanya dapat dicapai melalui persatuan, kerja sama, dan pembangunan manusia yang berkelanjutan.

Kisah Ahmad Nausrau menjadi bukti bahwa pendidikan, ketekunan, dan pengabdian yang panjang dapat mengantarkan seseorang menuju kepemimpinan. Dari ruang-ruang pengajian hingga ruang pemerintahan, ia menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam, toleransi, dan pengabdian sosial dapat berjalan beriringan dalam membangun daerah dan memperkuat persatuan bangsa. (*)

Sumber Referensi:
id.wikipedia.org
papuabarat.kemenag.go.id
hidayatullah.com
ikabari.com
kpud-papuabaratdaya.go.id
papuabaratdaya.go.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini