Ketika Mengemis Menjadi Pilihan: Kajian Psikologi di Balik Maraknya Pengemis, Pengamen, dan Badut Jalanan di Lampu Merah

0

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA (Dosen Uin Jurai Siwo Lampung)

nataragung.id – Metro – Fenomena pengemis, pengamen, manusia silver, dan badut jalanan di persimpangan lampu merah semakin sering dijumpai di berbagai kota di Indonesia. Jika dahulu aktivitas tersebut identik dengan kemiskinan ekstrem dan keterpaksaan, kini muncul realitas yang lebih kompleks. Tidak sedikit laporan menunjukkan bahwa sebagian pelaku mampu memperoleh pendapatan harian yang relatif tinggi, bahkan dalam beberapa kasus melebihi penghasilan pekerja sektor informal seperti buruh harian, asisten rumah tangga, atau pekerja serabutan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan psikologis yang menarik: mengapa sebagian orang tetap memilih bertahan di jalanan meskipun terdapat risiko keselamatan, stigma sosial, dan ketidakpastian? Mengapa sebagian masyarakat terus memberi, sementara pemerintah berulang kali mengimbau untuk menghentikan pemberian uang secara langsung?

Psikologi Pilihan yang Menguntungkan.

Dalam perspektif “Behaviorisme”, perilaku manusia cenderung diulang apabila menghasilkan keuntungan. Teori “Operant Conditioning” dari B.F. Skinner (1953) menjelaskan bahwa perilaku yang mendapatkan penguatan (reinforcement) akan semakin sering dilakukan. Ketika seorang pengemis atau badut jalanan memperoleh uang setiap hari dari pengguna jalan, maka uang tersebut menjadi penguat perilaku. Semakin besar hasil yang diperoleh, semakin kuat kecenderungan untuk mengulangi aktivitas yang sama. Secara psikologis, seseorang akan berpikir: “Mengapa harus bekerja lebih berat jika dengan cara ini saya tetap memperoleh penghasilan?”. Akibatnya, aktivitas mengemis atau mengamen tidak lagi dipandang sebagai keadaan darurat sementara, tetapi berubah menjadi strategi ekonomi yang dianggap efektif.

Learned Success: Ketika Keberhasilan Membentuk Kebiasaan.

Psikologi umumnya mengenal konsep “Learned Helplessness” dari Martin Seligman (1975), yaitu kondisi ketika seseorang merasa tidak berdaya karena terus mengalami kegagalan. Namun pada kasus pengemis profesional, justru terjadi kebalikannya, yang dapat disebut sebagai “learned success” atau keberhasilan yang dipelajari. Pengalaman berulang memperoleh uang dengan relatif mudah membentuk keyakinan bahwa cara tersebut merupakan pilihan terbaik. Lama-kelamaan muncul zona nyaman psikologis yang membuat individu enggan berpindah ke pekerjaan lain yang memerlukan keterampilan, disiplin waktu, atau tanggung jawab yang lebih besar.

Baca Juga :  1 Januari 2026, Tahun Baru yang Dimulai dengan Bakwan, Berikut Tips Buat Bakwan Gurih dan Nikmat

Hilangnya Rasa Malu dan Normalisasi Perilaku.

Psikolog sosial Albert Bandura (1999) menjelaskan konsep “Moral Disengagement”, yaitu proses ketika seseorang menormalkan perilaku yang sebelumnya dianggap kurang pantas. Pada awalnya seseorang mungkin merasa malu mengemis di jalan. Namun setelah dilakukan berulang kali dan menghasilkan keuntungan ekonomi, rasa malu tersebut berangsur-angsur berkurang. Lebih jauh lagi, ketika lingkungan sekitar melakukan hal yang sama, maka terbentuk proses “normalisasi sosial”, yaitu kondisi ketika perilaku tertentu dianggap wajar karena banyak orang melakukannya. Akibatnya, standar sosial bergeser dari: “Saya malu menjadi pengemis.” menjadi
“Semua orang di sini melakukan hal yang sama cara nyari duitnya.”

Psikologi Pemberi: Mengapa Orang Tetap Memberi?

Fenomena ini tidak hanya terkait dengan psikologi pengemis, tetapi juga psikologi pemberi. Menurut teori “Empathy-Altruism” dari Daniel Batson (1991), manusia memiliki kecenderungan membantu ketika melihat orang yang dianggap menderita. Kostum badut, membawa anak kecil, berpakaian lusuh, atau menampilkan kondisi fisik tertentu dapat memunculkan empati spontan dari pengguna jalan. Masalahnya, empati sering bekerja secara emosional dan cepat, bukan berdasarkan evaluasi rasional. Akibatnya, masyarakat memberikan uang karena merasa iba, tanpa mengetahui apakah bantuan tersebut benar-benar menyelesaikan masalah atau justru memperkuat ketergantungan dan justru tidak mau bekerja di sektor lain, lebih nyaman menjadi pengemis dan profesi serupa.

Baca Juga :  DUNIA WANITA  - 6 Hal yang Membuat Kamu Menjadi Wanita yang Elegan dan Berkelas

Efek Ketergantungan Sosial.

Dalam psikologi sosial, bantuan yang terus-menerus diberikan tanpa mendorong kemandirian dapat menimbulkan “dependency syndrome” atau sindrom ketergantungan. Individu menjadi terbiasa menerima daripada berusaha mengembangkan kemampuan untuk memperoleh penghasilan melalui cara yang lebih produktif. Hal ini menjelaskan mengapa penertiban yang dilakukan pemerintah sering kali tidak memberikan efek jangka panjang. Selama masih ada aliran uang dari masyarakat, motivasi untuk kembali ke jalan dan tempat strategis untuk mengemis akan tetap tinggi.

Potensi Eksploitasi Anak.

Aspek yang paling memprihatinkan adalah keterlibatan anak-anak. Menurut teori perkembangan Urie Bronfenbrenner (1979), lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Ketika anak sejak kecil diajak mengemis atau mengamen di jalan, mereka berisiko mempelajari bahwa meminta lebih mudah daripada bekerja, pendidikan tidak terlalu penting dan belas kasihan orang lain dapat menjadi sumber penghasilan. Kondisi ini dapat membentuk siklus kemiskinan dan ketergantungan yang berlanjut hingga generasi berikutnya.

Perspektif Islam: Membantu dengan Bijaksana.

Islam sangat menganjurkan membantu orang yang membutuhkan, tetapi juga mendorong umat untuk bekerja dan menjaga kehormatan diri. Allah SWT berfirman: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39). Ayat ini menegaskan pentingnya usaha dan kerja sebagai jalan memperoleh rezeki. Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang yang mengambil tali lalu mencari kayu bakar dan memikulnya di punggungnya lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain.” (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa pekerjaan sederhana sekalipun lebih mulia daripada menjadikan meminta-minta sebagai kebiasaan hidup. Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Islam mengajarkan pemberdayaan, bukan pelestarian ketergantungan.

Baca Juga :  Bobby Kertanegara Masuk Istana, Ini Cerita soal Kucing Kesayangan Prabowo

Membantu atau Memelihara Masalah?

Pertanyaan penting yang perlu direnungkan masyarakat adalah: Apakah uang yang diberikan di lampu merah benar-benar membantu, atau justru membuat mereka semakin betah di jalan?. Dari perspektif psikologi perilaku, pemberian uang secara langsung sering kali menjadi penguat yang mempertahankan perilaku mengemis dan mengamen di jalan. Jika aktivitas tersebut terus memberikan keuntungan ekonomi yang relatif mudah, motivasi untuk mencari pekerjaan yang lebih produktif menjadi semakin rendah. Karena itu, bantuan yang lebih tepat adalah melalui lembaga zakat, lembaga sosial, masjid, panti sosial, atau program pemberdayaan ekonomi yang dapat membantu mereka keluar dari ketergantungan, bukan sekadar bertahan di dalamnya.

Akhirnya penting dipahami bahwa maraknya pengemis, pengamen, manusia silver, dan badut jalanan di lampu merah tidak semata-mata persoalan kemiskinan, tetapi juga berkaitan dengan mekanisme psikologis berupa penguatan perilaku, ketergantungan sosial, normalisasi meminta-minta, dan empati masyarakat yang sering kali tidak disertai pertimbangan jangka panjang. Ketika aktivitas tersebut terus menghasilkan keuntungan yang dianggap menguntungkan, rasa malu perlahan memudar dan jalanan berubah menjadi tempat mencari nafkah yang dianggap lebih mudah daripada bekerja di sektor formal maupun informal lainnya. Oleh karena itu, solusi yang diperlukan bukan hanya penertiban, tetapi juga edukasi masyarakat agar membantu dengan cara yang lebih bijak dan memberdayakan. Sebab bantuan terbaik bukanlah yang membuat seseorang nyaman dalam ketergantungan, melainkan yang mendorongnya menjadi mandiri, bermartabat, dan mampu berdiri di atas usahanya sendiri. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini