Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 3: Piil Pesenggiri – Harga Diri yang Melahirkan Santun. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di Kampung Bumi Agung, hiduplah seorang pemuda dari marga (klan) Abung Siwo Mego bernama Bujang Gemilang. Ia dikenal gagah perkasa dan kaya raya. Namun anehnya, warga sering membicarakannya di belakang. Bukan karena iri, tapi karena ia suka memotong pembicaraan orang, suara kerasnya kerap menggelegar di sesat (balai adat), dan setiap kali ada tamu ia makan lebih dulu.
Suatu senja, Punyimbang (tetua adat) Dalom Ratu Ngerang memanggilnya ke sesat. Sambil menghela napas, Dalom berkata, “Nak, kau kaya harta, tapi mungkin miskin Piil Pesenggiri. Mari kuceritakan apa itu harga diri yang sejati.”

Lima Dasar Piil Pesenggiri.

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, manuskrip kuno yang ditulis dengan aksara Lampung dan huruf Arab gundul, tercantum lima unsur falsafah hidup masyarakat Lampung. Falsafah ini mengajarkan bahwa harga diri bukanlah kesombongan, melainkan kemampuan menjaga kehormatan diri dan orang lain.
Dalom pun membacakan satu per satu.

Nemui nyimah – ramah dalam memberi tempat
“Nemui artinya menerima tamu, nyimah artinya memberi tanpa pamrih,” jelas Dalom. Inilah inti keramahan Orang Lampung. Di Kampung Kiluan, ketika ada musafir singgah, tuan rumah akan menyajikan kopi dan makanan tanpa menunggu diminta. Bukan karena tamu itu kaya atau terpandang. Tapi karena nemui nyimah mengajarkan bahwa memberi adalah cermin jiwa yang mulia.
Menurut syarak, ini sejalan dengan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 1 yang memerintahkan manusia untuk bertakwa kepada Tuhan yang menciptakan mereka dari jiwa yang satu. Takwa diwujudkan dengan memuliakan sesama, termasuk tamu yang datang.

Nengah nyampur – pandai bergaul tanpa kehilangan diri
Dalom melanjutkan, “Nengah nyampur berarti pandai bergaul dengan siapa saja, tapi jangan sampai kehilangan jati diri.” Orang Lampung harus terbuka terhadap siapa pun, pedagang dari Jawa, pendatang dari Batak, atau perantau dari Palembang. Namun dalam pergaulan itu, ia tetap memegang teguh adat dan Pesenggiri-nya.
“Inilah bedanya,” kata Dalom. “Berkunjung dan dikunjungi bukan sekadar silaturahmi. Ini adalah sikap saling menghormati”.
Dalam Islam, ini selaras dengan perintah Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Kesunyian Siang dan Makna Kontemplasi Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sakai sambayan – ringan tangan membantu
“Sakai sambayan,” Dalom tersenyum, “adalah gotong royong. Tolong-menolong dalam suka dan duka”.
Bujang Gemilang teringat akan kejadian di Kampung Sukamarga. Seorang warga kehilangan rumah karena terbakar. Tanpa menunggu perintah, seluruh kampung bergerak. Ada yang menyumbang beras, ada yang mengumpulkan pakaian, ada yang membantu membangun kembali. Tidak ada yang bertanya, “Ini keluarga siapa?” Sebab sakai sambayan tidak mengenal sekat.
Dalam Islam, tolong-menolong adalah kewajiban. Rasulullah saw. bersabda, “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya” (HR. Muslim). Dan dalam Pancasila, nilai ini hidup dalam sila ke-3 (Persatuan Indonesia) dan ke-5 (Keadilan Sosial).

Bejuluk beadek – menjaga nama baik
“Bejuluk beadek,” Dalom menatap tajam Bujang, “adalah gelar kehormatan yang harus kau jaga mati-matian.”
Dalam masyarakat Lampung, setiap orang yang telah dewasa menyandang juluk (gelar). Bukan sekadar panggilan. Gelar adalah beban moral. Jika kau menyandang “Gemilang”, maka hidupmu harus memancarkan kemuliaan. Jika kau menyandang “Ratu Ngerang”, maka kau harus bijaksana seperti raja. Menjaga nama baik adalah menjaga martabat keluarga dan suku.
Jujur mak ghedang – jujur dan tidak membual
“Inilah yang paling berat,” Dalom menghela napas. “Jujur mak ghedang, jujur dan tidak membual.”
Orang yang suka membual dianggap menghina akal sehat orang lain. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti pasal 23, disebutkan bahwa “anak lelaki piil-nya berhati-hati dalam bicara”. Hati-hati berarti tidak sembarangan berucap, tidak mengumbar janji palsu, dan tidak membesar-besarkan diri.
Dalam Islam, Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 70:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha wa qûlû qaulan sadîdâ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

Asbabun nuzul ayat ini adalah ketika kaum munafik di Madinah sering mengucapkan kata-kata yang tidak benar, maka Allah memerintahkan kaum mukmin untuk berkata jujur dan lurus.

Santun Bukan Lemah, Bukan Sombong

Setelah menjelaskan kelima dasar, Dalom mengajak Bujang berjalan ke luar sesat.
“Kau lihat pohon kelapa itu?” tanyanya sambil menunjuk ke arah sebuah pohon yang menjulang. “Ia tegap, tidak membungkuk. Tapi saat angin kencang, ia melentur. Kalau ia kaku seperti batu, ia akan patah.”
Menunduk bukan berarti takut
Bujang mengangguk. Dalom melanjutkan, “Dalam Piil Pesenggiri, Pesenggiri berarti harga diri. Harga diri yang sejati tidak butuh ditunjukkan dengan dagu terangkat atau suara keras. Ia ditunjukkan dengan kemampuan merunduk saat diperlukan, tanpa merasa hina.”
Dalom lalu mengisahkan sebuah legenda dari Kerajaan Sekala Bekhak, kerajaan kuno di kaki Gunung Pesagi yang menjadi cikal bakal masyarakat Lampung. Konon, Raja Sekala Bekhak dikenal sangat disegani, bukan karena ia galak, tapi karena ia selalu mendengarkan rakyatnya dengan kepala sedikit menunduk. “Itulah Pesenggiri,” kata Dalom. “Berani dalam kebenaran, lembut dalam bertutur”.
Berbicara pelan bukan berarti kalah

Baca Juga :  Buku Seri - Nengah Nyappur, Seni Merajut Silaturahmi dan Memperluas Pergaulan. Seri – 3: Merantau di Bumi Sekala Brak. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Di Kampung Pugung, ada tradisi musyawarah yang disebut himpun. Semua Punyimbang duduk melingkar. Tidak ada yang meninggikan suara. Jika seseorang berbicara dengan nada tinggi, ia akan ditegur. Sebab dalam adat Lampung, suara pelan adalah tanda bahwa kita mengendalikan emosi, bukan diperbudak olehnya.
“Kalah bukan diukur dari siapa yang lebih keras,” kata Dalom. “Kemenangan sejati adalah ketika kedua belah pihak pulang dengan hati damai.”
“Sopan itu senjata orang bijak di Lampung”
Dalom mengutip sebuah pepatah tua: “Tandani ulun Lampung, wat piil-pusanggiri. Mulia heno sehitung, wat liom ghega dighi”, Cirinya orang Lampung, memiliki Piil Pesenggiri. Kehormatan selalu diperhitungkan, memiliki malu dan harga diri.
“Sopan bukan kelemahan,” tegas Dalom. “Sopan adalah senjata. Dengan sopan, kita bisa masuk ke hati siapa pun. Dengan sopan, kita bisa menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Dengan sopan, orang akan menghormati kita tanpa kita paksa.”
Contoh Sehari-hari dari Petuah Leluhur
Untuk memperjelas ajarannya, Dalom memberikan tiga contoh konkret dari kehidupan sehari-hari.

Mengalah saat berebut jalan setapak
“Kau ingat kejadian di jembatan bambu pekan lalu?” tanya Dalom. Bujang menunduk. Ia hampir terlibat perkelahian dengan pemuda lain karena sama-sama tidak mau mengalah saat melewati jembatan sempit.
“Piil Pesenggiri mengajarkan bahwa mengalah bukan kalah. Mengalah adalah nemui nyimah, memberi tempat kepada orang lain. Saat kau mengalah, kau menunjukkan bahwa kau memiliki harga diri yang cukup untuk tidak bertengkar hanya karena urusan sepele”.

Memotong pembicaraan adalah penghinaan halus
Dalom menceritakan tentang seorang Punyimbang muda di Kampung Kenali yang sering memotong pembicaraan orang. Akibatnya, ia tidak pernah diundang ke musyawarah penting. Bukan karena ia bodoh, tapi karena ia dianggap tidak memiliki adab.
“Dalam Kitab Kuntara Raja Niti pasal 13 tentang tata tertib adat, berbicara harus bergiliran. Memotong pembicaraan adalah penghinaan halus karena kau mengatakan bahwa perkataanmu lebih penting dari perkataan orang lain. Dan itu bertentangan dengan bejuluk beadek, menjaga nama baik.”
Dalam Islam, Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ yaskhar qaumum ming qaumin ‘asâ ay yakûnû khairam min-hum wa lâ nisâ’um min nisâ’in ‘asâ ay yakunna khairam min-hunn, wa lâ talmizû anfusakum wa lâ tanâbazû bil-alqâb, bi’sa lismul-fusûqu ba‘dal-îmân, wa mal lam yatub fa ulâ’ika humudh-dhâlimûn
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”

Baca Juga :  Perkawinan Adat di Zaman Modern. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Tidak makan sebelum tamu mulai.
Dalom mengisahkan sebuah tradisi di Kampung Bumi Dipasena. Ketika ada kenduri, tuan rumah akan mempersilakan tamu terlebih dahulu. Anak-anak menahan lapar melihat gulai ikan di meja. Ini adalah bentuk Nemui Nyimah yang paling nyata.
“Rasulullah saw. bersabda dalam HR. Bukhari: ‘Man kāna yu’minu billāhi wal yaumil ākhiri falyukrim dhayfah’, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”

Dalom tersenyum. “Jadi, tidak makan sebelum tamu mulai bukan hanya adat. Ini ajaran agama.”
Malam itu, Bujang Gemilang pulang dengan hati yang berubah. Ia sadar bahwa selama ini ia salah. Ia mengira Pesenggiri berarti harus selalu menang, harus selalu didengar, harus selalu dilayani. Padahal Piil Pesenggiri yang sejati justru mengajarkan sebaliknya: mengalah bukan kalah, merunduk bukan takut, dan memberi lebih dulu sebelum diminta.

Keesokan harinya, ia memulai kebiasaan baru. Ia menyapa lebih dulu. Ia mempersilakan tamu makan sebelum ia mulai. Ia mendengar lebih banyak daripada berbicara.
Dalom Ratu Ngerang yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum. “Itulah Piil Pesenggiri,” bisiknya pelan. “Harga diri yang melahirkan santun. Bukan dengan suara keras, tapi dengan hati yang lembut.” (*)

Daftar Pustaka
1. Kitab Kuntara Raja Niti (Manuskrip kuno aksara Lampung & Arab gundul)
2. Bahagianda, Mohammad Medani. (2022). Serial Buku – Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung Buku 2: Sembah Rasa, Sopan dalam Bahasa. Pemerintah Provinsi Lampung – JDIH
3. Wikipedia. Piil Pesenggiri
4. Repository IAIN Raden Intan. Falsafah Piil Pesenggiri dalam Masyarakat Lampung
5. Al-Qur’an dan Terjemahannya (Surat An-Nisa, Al-Ahzab, Al-Hujurat)
6. HR. Bukhari (Hadits tentang memuliakan tamu)
7. HR. Muslim (Hadits tentang menolong saudara)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini