nataragung.id – Pemanggilan – Sering kali kita terpukau oleh keutamaan-keutamaan yang mengiringi shalat. Berwudhu menggugurkan dosa. Setiap langkah menuju masjid mengangkat derajat dan menghapus kesalahan. Menunggu shalat setelah shalat disebut sebagai ribath, seakan-akan seorang mukmin sedang berjaga di perbatasan mempertahankan benteng keimanannya. Di antara azan dan iqamah, doa tidak tertolak. Setelah shalat, para malaikat memohonkan ampunan bagi orang yang tetap berada di tempat shalatnya.
Lalu muncul sebuah pertanyaan yang menggugah hati: Jika semua pengantar menuju shalat saja sudah sedemikian agung pahalanya, maka bagaimana dengan shalat itu sendiri?
Jawabannya, shalat adalah puncak dari seluruh perjalanan itu. Semua keutamaan sebelum dan sesudahnya hanyalah jalan yang mengantarkan seorang hamba kepada saat paling mulia: berdiri menghadap Allah.
Jika tetesan air wudhu menghapus dosa, maka shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Jika langkah kaki menuju masjid meninggikan derajat, maka shalat meninggikan ruh hingga merasakan kedekatan dengan Rabb semesta alam.
Jika doa di antara azan dan iqamah tidak ditolak, maka dalam shalat sendiri seorang hamba sedang bermunajat langsung kepada Allah. Terlebih saat sujud, ia berada pada keadaan yang paling dekat dengan Rabbnya.
Jika malaikat mendoakan orang yang selesai shalat, maka Allah sendiri memuji hamba yang menjaga shalatnya dan menjanjikan kemenangan bagi mereka yang khusyuk.
Tidak mengherankan bila shalat disebut sebagai tiang agama, amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat, dan pembeda antara iman dan kekufuran. Seluruh amal yang mengiringinya hanyalah cahaya di sepanjang jalan, sedangkan shalat adalah matahari yang menerangi kehidupan seorang mukmin.
Maka jangan hanya mencintai jalan menuju shalat, tetapi cintailah tujuan akhirnya. Jangan hanya mengejar pahala wudhu, langkah kaki, atau doa setelah shalat, namun hadirkan hati ketika berdiri, rukuk, sujud, dan bermunajat kepada Allah. Sebab di sanalah letak inti seluruh perjalanan seorang hamba.
Sungguh, bila pengantar menuju shalat saja begitu luar biasa, maka shalat itu sendiri adalah perjumpaan paling mulia antara seorang hamba dengan Rabbnya. Dari sanalah lahir ketenangan, kekuatan, ampunan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat. (*/288)
WaAllahu A’lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

