nataragung.id – Pemanggilan – Suasana Kebatinan Penghuni Neraka dalam Surat Yāsīn Ayat 59–65
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ وَأَنِ اعْبُدُونِي ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا ۖ أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾
(QS. Yasin: 59–65)
Ayat-ayat ini tidak sekadar menggambarkan azab fisik penghuni neraka. Yang lebih mengerikan adalah azab batin yang mereka rasakan. Rasa takut, penyesalan, kehinaan, dan keterasingan menyatu menjadi penderitaan yang tidak pernah mereka bayangkan ketika masih hidup di dunia.
Saat Pemisahan Menjadi Awal Penyesalan
Allah membuka adegan itu dengan firman-Nya:
﴿وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ﴾
“Berpisahlah kalian pada hari ini, wahai orang-orang yang berdosa.”
Kalimat ini begitu singkat, tetapi sangat mengguncang.
Di dunia, mereka hidup bersama orang-orang beriman.
Mereka berjalan di jalan yang sama.
Tinggal di kota yang sama.
Mungkin mereka memiliki hubungan darah dengan orang-orang saleh.
Namun pada hari itu, seluruh ikatan dunia diputuskan.
Mereka dipisahkan dari rombongan ahli surga.
Dipisahkan dari rahmat Allah.
Dipisahkan dari setiap harapan.
Tidak ada lagi kesempatan untuk berkata, “Izinkan aku kembali.”
Hari itu adalah hari pemisahan yang abadi.
Saat Nurani yang Lama Dibungkam Kembali Berbicara
Allah bertanya:
﴿أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ…﴾
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, wahai anak cucu Adam…”
Bukan karena Allah membutuhkan jawaban.
Pertanyaan itu adalah bentuk penegasan bahwa mereka sebenarnya telah mengetahui kebenaran, tetapi memilih berpaling darinya.
Mereka pernah mendengar ayat.
Pernah mendengar azan.
Pernah menerima nasihat.
Namun mereka lebih memilih mengikuti bisikan setan daripada petunjuk Allah.
Kini, suara kebenaran yang dahulu mereka abaikan berubah menjadi penyesalan yang tidak lagi berguna.
Saat Ilusi Dunia Runtuh Seketika
Allah berfirman:
﴿هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Inilah Jahannam yang dahulu dijanjikan kepadamu.”
Semua yang dahulu mereka anggap dongeng kini berdiri nyata di hadapan mata.
Tidak ada lagi ruang untuk mengingkari.
Tidak ada lagi filsafat yang dapat menolak.
Tidak ada lagi logika yang dapat melarikan diri.
Yang dahulu hanya mereka dengar dengan telinga, kini mereka lihat dengan mata.
Kebenaran yang mereka tolak akhirnya menjadi kenyataan yang harus mereka hadapi.
Saat Lisan Kehilangan Hak Membela Diri
Inilah puncak suasana batin yang paling menggetarkan.
Allah berfirman:
﴿الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ﴾
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka.”
Di dunia, mereka pandai berbicara.
Pandai berdalih.
Pandai memutarbalikkan fakta.
Pandai membela kesalahan.
Namun di akhirat, lisan yang dahulu menjadi alat pembelaan tidak lagi diberi kesempatan berbicara.
Lalu siapa yang menjadi saksi?
﴿وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم﴾
“Tangan mereka berbicara kepada Kami, dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Betapa dahsyatnya saat itu.
Tangan yang dahulu menerima suap bersaksi.
Kaki yang dahulu melangkah menuju maksiat bersaksi.
Mata, telinga, dan seluruh anggota tubuh menjadi saksi yang tidak mungkin berdusta.
Mereka ingin membela diri, tetapi tubuh mereka sendiri mengungkapkan seluruh kenyataan.
Tidak ada pengkhianatan yang lebih menyakitkan bagi seorang pendosa selain ketika anggota tubuhnya sendiri menjadi saksi atas dosanya.
Renungan
Surat Yāsīn ayat 59–65 mengajarkan bahwa azab terbesar penghuni neraka bukan hanya panasnya api, tetapi kesadaran bahwa semua itu sebenarnya dapat mereka hindari.
Mereka pernah memiliki kesempatan untuk bertobat.
Mereka pernah mendengar peringatan.
Mereka pernah diberi akal untuk berpikir.
Namun kesempatan itu mereka sia-siakan.
Hari itu, tidak ada lagi alasan.
Tidak ada lagi pembelaan.
Tidak ada lagi jalan kembali.
Yang tersisa hanyalah penyesalan yang kekal.
Karena itu, selama lisan ini masih mampu beristighfar, gunakanlah untuk memohon ampun kepada Allah. Selama kaki ini masih mampu melangkah ke masjid, arahkanlah menuju ketaatan. Selama tangan ini masih mampu berbuat baik, jadikanlah ia saksi yang akan membelamu, bukan yang akan menuntutmu.
Sebab pada hari ketika mulut dibungkam dan seluruh anggota tubuh berbicara, tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan manusia selain rahmat Allah dan amal saleh yang pernah ia kerjakan dengan ikhlas di dunia. (*/293).
WaAllahu A’lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

