nataragung.id – Pemanggilan – Ada satu penyakit yang sering menyelinap ke dalam hati seorang hamba tanpa ia sadari. Penyakit itu bukan malas beribadah, bukan pula meninggalkan amal saleh. Penyakit itu adalah ketika seseorang mulai merasa bahwa amalnya telah cukup untuk menyelamatkannya.
Ia menghitung rakaat salatnya, menghitung sedekahnya, menghitung puasanya, bahkan menghitung air matanya ketika berdoa. Seakan-akan surga dapat dibeli dengan hitungan amal, dan keridaan Allah dapat ditukar dengan banyaknya ibadah.
Padahal, semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari bahwa seluruh amalnya hanyalah setetes embun di hadapan lautan nikmat-Nya.
Karena itu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan agar seorang mukmin selalu berjalan di antara kesungguhan beramal dan kerendahan hati.
Beliau bersabda:
قَارِبُوا وَسَدِّدُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ
“Berusahalah mendekati kesempurnaan, bersikaplah lurus, dan ketahuilah bahwa tidak seorang pun di antara kalian akan selamat hanya karena amalnya.”
Para sahabat yang mendengar sabda itu merasa heran. Mereka bertanya:
“وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟”
“Termasuk engkau juga, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ
“Ya, termasuk aku. Kecuali jika Allah melimpahkan kepadaku rahmat dan karunia-Nya.” (HR. Muslim)
Betapa agung pelajaran ini.
Jika manusia yang paling mulia, yang dosanya telah diampuni, yang dijamin surga, masih menggantungkan harapannya kepada rahmat Allah, maka bagaimana mungkin kita berani bersandar kepada amal-amal yang penuh kekurangan?
Salat kita sering kehilangan kekhusyukan. Sedekah kita kadang bercampur dengan riya’. Puasa kita masih disertai kelalaian. Zikir kita sering hanya bergerak di bibir, belum menyentuh hati.
Lalu amal yang manakah yang pantas kita banggakan di hadapan Allah?
Namun hadis ini bukanlah ajakan untuk bermalas-malasan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memulai sabdanya dengan perintah:
قَارِبُوا وَسَدِّدُوا
“Berusahalah mendekati kesempurnaan dan bersikaplah lurus.”
Artinya, seorang mukmin tetap diperintahkan untuk beramal sebaik-baiknya, menjaga istiqamah, dan memperbaiki kekurangannya setiap hari. Ia tidak putus asa karena belum sempurna, dan tidak pula sombong karena merasa telah banyak beramal.
Amal adalah jalan menuju rahmat Allah, bukan pengganti rahmat Allah.
Karena itu Allah berfirman:
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Masuklah kalian ke dalam surga karena amal-amal yang telah kalian kerjakan.” (QS. An-Nahl: 32)
Ayat ini menunjukkan bahwa amal saleh merupakan sebab yang Allah tetapkan untuk memperoleh surga. Akan tetapi, kemampuan untuk beramal, keikhlasan dalam beramal, diterimanya amal tersebut, hingga masuknya seorang hamba ke dalam surga, semuanya adalah karunia dan rahmat Allah.
Maka seorang mukmin berjalan dengan dua sayap.
Sayap pertama adalah amal. Ia salat, berpuasa, bersedekah, membaca Al-Qur’an, berbakti kepada orang tua, dan berbuat baik kepada sesama.
Sayap kedua adalah harap kepada rahmat Allah. Ia tidak pernah memandang amalnya besar, sebab ia selalu memandang kebesaran Rabb yang disembahnya.
Semakin tinggi pohon berbuah, semakin rendah dahannya. Demikian pula seorang mukmin. Semakin banyak amalnya, semakin dalam kerendahan hatinya. Ia tidak berkata, “Aku pasti selamat.” Yang ia ucapkan adalah, “Ya Allah, terimalah amal kami dan limpahkanlah rahmat-Mu kepada kami.”
Sesungguhnya pada hari kiamat nanti, manusia tidak diselamatkan oleh banyaknya amal semata, tetapi oleh amal yang diterima. Dan amal tidak akan diterima kecuali dengan keikhlasan, mengikuti tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, serta karena rahmat Allah yang meliputinya.
Maka jangan pernah berhenti beramal karena merasa amalmu sedikit. Jangan pula merasa aman karena amalmu banyak.
Beramallah seakan-akan surga berada di depan matamu. Berendah hatilah seakan-akan seluruh amalmu belum cukup. Dan berharaplah kepada Allah sebagaimana seorang musafir berharap melihat cahaya rumahnya setelah perjalanan yang panjang.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bersungguh-sungguh dalam amal, ikhlas dalam niat, istiqamah dalam ketaatan, serta diselimuti oleh rahmat dan karunia-Nya pada hari ketika tidak ada yang dapat menyelamatkan seorang pun selain rahmat-Nya.
اللهم تغمدنا برحمتك وفضلك، واجعل أعمالنا خالصة لوجهك، وتقبلها منا، وأدخلنا الجنة برحمتك يا أرحم الراحمين.
“Ya Allah, limpahkanlah kepada kami rahmat dan karunia-Mu. Jadikanlah amal-amal kami ikhlas karena-Mu, terimalah amal tersebut, dan masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.” Aamiin. <>
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mimbar Jum’at
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

