Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Benjak Enjak dalam Tradisi Kekeluargaan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di sebuah tiyuh yang terletak di pesisir selatan Lampung, hiduplah sebuah keluarga besar yang dipimpin oleh seorang puyang bijak bernama Umpu Ngegalang Paksi. Beliau adalah keturunan dari marga Tulang Bawang yang terkenal dengan kebijaksanaannya. Keluarga ini dikenal sangat rukun dan gemar berkumpul di serambi rumah panggung mereka setiap sore, menikmati angin laut yang berhembus sepoi-sepoi sambil bercerita tentang pengalaman sehari-hari.
Suatu hari, si puyang kebingungan menyambut kedatangan seluruh anak cucunya yang pulang dari ladang dan laut secara bersamaan. Mereka datang dari berbagai penjuru, ada yang dari kebun lada, ada yang dari tambak ikan, dan ada pula yang baru saja selesai melaut. Stok makanan di dapur hanya tersisa beras ketan dan beberapa sisir pisang raja yang sudah tua. Daging durian pun telah habis, dan sepertinya tidak ada bahan untuk membuat hidangan istimewa.
Lalu, nini sang istri tersenyum penuh ide. Beliau mengambil beras ketan yang tersisa, merendamnya sejenak dalam air bersih, lalu mengukusnya hingga setengah matang. Pisang raja yang sudah tua dikupas dengan hati-hati, lalu diremas bersama gula merah yang disisir halus. Semua dicampur jadi satu dalam wadah besar, dibungkus daun pisang yang sudah dilayukan di atas api, lalu direbus hingga matang sempurna. Saat disajikan, aroma manis harum memenuhi seluruh ruangan, membuat semua orang yang hadir langsung penasaran.
“Benjak Enjak ini, cucuku,” kata nini sambil tersenyum lebar. “Rasanya manis seperti ikatan keluarga kita.” Dalam bahasa Lampung, “benjak” berarti tercampur aduk atau bercampur menjadi satu, sedangkan “enjak” menggambarkan sensasi mengunyah yang kenyal dan tekstur yang lembut di lidah. Nama ini lahir begitu saja, menggambarkan proses pembuatan dan kenikmatan menyantapnya.
Anak-anak kecil pun bersorak gembira, berebut mengambil kue hangat yang baru diangkat dari rebusan.
Sejak hari itu, Benjak Enjak menjadi sajian wajib setiap kali keluarga besar berkumpul. Ia bukan sekadar kudapan pengganjal perut, melainkan simbol kebersamaan yang manis dan gurih. Setiap kali kue ini disajikan, selalu ada cerita dan tawa yang mengiringinya. Inilah awal mula kue tradisional yang kini menjadi salah satu ikon kuliner Lampung.

Benjak Enjak mengajarkan kita tentang nilai Piil Pesenggiri, terutama Sakai Sambayan, gotong royong dan kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Lampung. Dalam falsafah hidup orang Lampung, Sakai Sambayan adalah semangat saling membantu tanpa pamrih, dan inilah yang terlihat jelas saat keluarga membuat kue ini bersama-sama.
Membuat Benjak Enjak sering menjadi kegiatan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Ibu-ibu mengukus ketan dengan teliti, memastikan teksturnya pas tidak terlalu lembek. Bapak-bapak menyiapkan daun pisang, membersihkan dan melayukannya di atas api agar lentur dan mudah dibentuk. Anak-anak pun ikut meremas adonan, tangannya yang mungil bermain-main dengan campuran ketan dan pisang yang lengket. Inilah wujud nyata bahwa dalam keluarga, setiap anggota punya peran penting dan saling melengkapi.
Kue ini juga mencerminkan Nemui Nyimah, karena disajikan untuk tamu yang berkunjung, sebagai lambang keramahan dan kemurahan hati dalam menjamu. Menurut adat Lampung, memberi makanan terbaik kepada tamu adalah bagian dari menjaga kehormatan keluarga atau Pesenggiri. Tamu yang datang bukan sekadar pengunjung, melainkan “utusan Tuhan” yang harus dihormati dan dimuliakan dengan hidangan terbaik yang bisa disajikan.
Bahkan dalam proses pembuatannya, kue yang dibungkus berpasangan dan diikat tali melambangkan Nengah Nyappur, keterbukaan dan kebersamaan. Dua bungkus yang disatukan menjadi satu mengingatkan bahwa setiap hubungan, baik antar anggota keluarga atau dengan tamu, perlu diikat dengan kasih sayang dan saling pengertian. Tidak ada yang berdiri sendiri dalam tradisi Lampung; semua saling terhubung dalam ikatan kebersamaan.

Baca Juga :  Buku Seri : Siger, Mahkota Emas yang Menyala dalam Setiap Upacara. Seri - 4: Nengah Nyappur. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam naskah kuno Kitab Kuntara Raja Niti yang menjadi rujukan para Punyimbang, pemuka adat yang disegani karena kebijaksanaan dan pengetahuannya tentang hukum adat, disebutkan bahwa orang Lampung memiliki “piil” yang keras dan pendirian teguh. Namun dengan masuknya Islam yang dibawa oleh para ulama seperti Sunan Gunung Jati dan akulturasi melalui perjanjian Dalung Kuripan, nilai-nilai kelembutan dan kasih sayang semakin ditekankan, termasuk dalam hal berbagi makanan dengan sesama.
Kutipan dari Kitab Kuntara Raja Niti menyebutkan: “Piil pusangghiri, juluk-adok, nemui nyimah, nengah nyappur, sakai sambayan.” Ini adalah lima pilar falsafah hidup orang Lampung yang menjadi pedoman dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam tradisi kuliner. Benjak Enjak yang sederhana ini adalah perwujudan dari kelima nilai tersebut dalam bentuk yang paling nyata dan dapat dirasakan.
Benjak Enjak yang terbuat dari pisang raja, ketan, dan gula merah adalah perwujudan kesederhanaan yang diajarkan Islam. Tidak ada bahan yang mahal atau langka, semua mudah ditemukan di kebun dan ladang masyarakat Lampung. Proses “remas-meremas” adonan mengingatkan kita pada filosofi tawadhu’ (rendah hati) dalam mengelola ego. Semua bahan dicampur menjadi satu, saling melengkapi, sebagaimana manusia diajarkan untuk saling menghargai dan menyayangi tanpa memandang status sosial.

Menurut cerita lisan yang diwariskan turun-temurun, Benjak Enjak atau yang di Lampung Selatan disebut Bebai Makhing sudah ada sejak zaman Kerajaan Tulang Bawang yang berjaya di pesisir timur Lampung. Kue ini selalu hadir dalam bancakan (kenduri atau selamatan) dan Begawi (pesta adat besar yang melibatkan seluruh warga kampung). Kehadirannya tidak pernah bertentangan dengan Islam karena bahan dasarnya halal, proses pembuatannya sederhana, dan tujuannya mulia, untuk mempererat silaturahmi antar sesama.

Berikut resep warisan dari para leluhur Lampung untuk membuat Benjak Enjak yang otentik. Resep ini saya dapatkan dari cerita nini saya dulu, yang selalu membuat kue ini setiap kali keluarga besar berkumpul.
Bahan-bahan yang diperlukan:
* 250 gram beras ketan putih kualitas baik, pilih yang butirannya utuh dan tidak patah agar hasilnya pulen
* 300 gram pisang raja yang sudah tua, semakin tua semakin legit dan manis rasanya
* 125-150 gram gula merah atau gula tebu, sesuai selera tingkat kemanisan
* Sejumput garam untuk menyeimbangkan rasa manis
* Daun pisang untuk membungkus, layukan di atas api sebentar agar lentur dan tidak mudah sobek

Cara membuat dengan penuh cinta:
1. Cuci beras ketan hingga airnya jernih, rendam selama 30 menit agar butiran ketan menyerap air dan hasilnya lebih pulen
2. Kukus ketan dalam dandang yang sudah dipanaskan sebelumnya hingga setengah matang, jangan terlalu matang karena nanti masih akan direbus lagi
3. Angkat ketan setengah matang, sisihkan dalam wadah besar agar uapnya hilang
4. Kupas pisang raja dengan hati-hati, buang serat-seratnya, lalu campur dengan gula merah yang sudah disisir halus
5. Remas-remas pisang dan gula dengan tangan hingga benar-benar hancur dan tercampur rata, proses ini yang membuat kue terasa istimewa karena sentuhan tangan
6. Masukkan ketan setengah matang ke dalam campuran pisang dan gula. Aduk-aduk dengan tangan hingga semua bahan tercampur merata, tidak ada yang menggumpal
7. Ambil selembar daun pisang yang sudah dilayukan, beri dua sendok makan adonan ketan pisang, lalu gulung memanjang dan lipat kedua ujungnya. Bentuknya menyerupai lemper atau wajik yang padat
8. Ambil dua bungkus adonan yang sudah jadi, satukan dan ikat dengan tali pada ujung-ujungnya. Ini adalah simbol kebersamaan dua insan dalam ikatan kasih, sepasang selalu lebih baik dari sendiri
9. Rebus dalam air mendidih yang cukup banyak hingga matang sempurna, sekitar 20-30 menit. Tanda matang adalah ketika bungkusan mengapung dan daun pisang berubah warna menjadi lebih gelap
10. Angkat, tiriskan, dan sajikan selagi hangat

Baca Juga :  Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 5: Piring Peghasik, Filosofi Berbagi dalam Makanan Sehari-hari. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Benjak Enjak biasa dinikmati hangat-hangat dengan secangkir kopi robusta Lampung yang pekat atau teh manis yang harum. Dalam tradisi, kue ini disusun rapi di dulang (talam besar dari kayu atau rotan) dan dipersembahkan kepada tamu sebagai simbol kehormatan dan keramahan. Anak-anak biasanya paling antusias menyambutnya, karena rasanya yang manis dan teksturnya yang kenyal membuat mereka selalu meminta tambahan. Dalam acara adat, kue ini juga menjadi bagian dari bancakan yang dibagikan kepada seluruh hadirin sebagai tanda syukur dan kebersamaan.

Benjak Enjak adalah pelajaran berharga tentang bagaimana makanan sederhana mampu menyatukan keluarga dan merawat persaudaraan. Proses pembuatan yang memakan waktu dan tenaga mengajarkan kesabaran dan tawakal, berserah diri kepada Tuhan bahwa hasil akhir akan baik jika dikerjakan dengan ikhlas. Sementara menyantapnya bersama-sama mengajarkan kebersamaan dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan.

Setiap kali kita menyantap Benjak Enjak, kita sedang merayakan Piil Pesenggiri dalam bentuk yang paling sederhana. Kita menjaga Pesenggiri dengan menyajikan makanan terbaik. Kita menghormati Juluk-Adok dengan menjaga nama baik keluarga saat menerima tamu. Kita mempraktikkan Nemui Nyimah dengan berbagi makanan. Kita mengamalkan Nengah Nyappur dengan duduk bersama semua kalangan. Dan kita menghidupkan Sakai Sambayan dengan gotong royong membuat kue ini bersama-sama.
Nilai ini sejalan dengan Pancasila, terutama sila ke-3: Persatuan Indonesia. Di meja makan, perbedaan usia, pekerjaan, jabatan, atau karakter tidak berarti apa-apa; semua duduk bersama, menikmati kue yang sama dari daun pisang yang sama. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semua setara di hadapan makanan yang disajikan. Inilah kearifan lokal yang perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda.
Seperti yang sering diucapkan para ulun tuha (tetua adat): “Pusatken ghik mak ngelapah, sinji ghik mak bejuluk.” Artinya, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Benjak Enjak adalah cerminan bahwa dalam kebersamaan, ada kekuatan dan kebahagiaan yang manis seperti gula merah dan kenyal seperti ketan.

Baca Juga :  Ngelappah Terakhir di Tiyuh Mahoga. 2 Hari Sebelum Idul Adha. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam konteks keislaman, kebersamaan ini sejalan dengan ajaran Rasulullah tentang pentingnya silaturahmi dan berbagi makanan dengan sesama.
Generasi muda Lampung kini mungkin lebih akrab dengan makanan modern dan cepat saji, padahal Benjak Enjak menyimpan cerita dan makna yang tak ternilai. Kue ini hadir dari kreativitas nenek moyang yang memanfaatkan bahan lokal di sekitar mereka dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Ia mengajarkan bahwa makanan bukanlah sekadar pengisi perut, melainkan juga ikatan batin yang mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Di tengah arus globalisasi yang deras, kita perlu berusaha menjaga warisan kuliner ini agar tidak punah. Mulailah dari hal kecil, buatlah Benjak Enjak di rumah saat ada acara keluarga. Ceritakan kepada anak-anak tentang asal-usul kue ini dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ajak mereka ikut membuatnya, merasakan prosesnya, dan memahami bahwa di balik setiap gigitan ada sejarah dan falsafah yang patut dihargai.

Dengan melestarikan Benjak Enjak, kita bukan saja menjaga warisan kuliner, tetapi juga merawat nilai-nilai luhur: Piil Pesenggiri, keislaman, dan kebangsaan. Kita menjaga identitas sebagai orang Lampung sekaligus memperkuat jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk namun tetap bersatu. Mari kita hidupkan kembali Benjak Enjak di meja-meja makan kita, karena di situlah keluarga bersatu, rasa manis itu tak pernah lekang oleh waktu, dan warisan leluhur tetap hidup dalam setiap generasi.
“Segagham ni ghik sebambangan, sai mak gham kenal mak gham sayang”, makanan yang dimasak bersama, yang tidak kita kenal tidak kita sayangi. Mari kenali dan sayangi kuliner khas Lampung kita, mulai dari Benjak Enjak yang sederhana namun sarat makna ini.

Daftar Pustaka
1. Kompas.com. (2016). Ini Bejak Enjak, Jajanan Pasar Khas Lampung.
2. Republika Online. (2016). Benjak Enjak, Kue Tradisional Manis dari Lampung.
3. KASKUS. (2020). Mengenal Kue Benjak Enjak Khas Lampung! + Resep.
4. Cookpad. (2020). Resep Benjak Enjak (Kue Tradisional Khas Lampung).
5. Detikcom. (2024). Resep Renjak Enjak, Kue Tradisional Khas Lampung.
6. Resep Masakan Bunda. (2013). Cara Membuat Kue Benjak Enjak dan Kue Maksuba.
7. Sadewo, P.A., dkk. (2025). Gastronomy In The Perspective Of Local Wisdom Of Lampung Community.
8. Anggraini, D. (2017). Kuliner Lampung: menyeruit, yuk!
9. Nurdin, M. F. Seruit and the Construction of Lampungese in Digitalized Multicultural Urban Setting.
10. Hadikusuma, H. (1990). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Penerbit Alumni.
11. Kitab Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno Adat Lampung Pepadun).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini