Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 5: Piring Peghasik, Filosofi Berbagi dalam Makanan Sehari-hari. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Pada suatu senja di tiyuh Tegineneng, seorang ibu muda bernama Siti merasa risau. Suaminya baru pulang dari kebun dengan membawa hasil panen ubi yang melimpah, terlalu banyak untuk dimakan sekeluarga. Sambil menumbuk ubi untuk dibuat lemang, ingatannya melayang pada nasihat almarhumah ibunya: “Anakku, rezeki yang berlebih bukan untuk disimpan sampai basi. Ia adalah jembatan kasih.”
Maka, sebelum matahari terbenam, Siti membagi lemang yang telah matang ke dalam beberapa piring peghasik, piring khusus dari kayu atau anyaman yang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk berbagi.
Ia mengirim anak sulungnya mengantarkan piring-piring itu ke rumah tetangga yang sedang sakit, ke rumah janda tua di ujung kampung, dan ke keluarga yang baru saja kedatangan bayi.

Ia tidak mengharapkan piringnya kembali penuh dengan makanan lain, meskipun itu kerap terjadi. Bagi Siti, piring itu pergi dengan satu misi: menjadi penghubung rasa. Itulah peghasik, ritual harian yang sederhana namun penuh makna, yang telah mengalir dalam denyut nadi masyarakat Lampung jauh sebelum dunia ramai membicarakan food sharing atau community pantry.

Makna Peghasik, Lebih dari Sekadar Mengirim Makanan.

Peghasik (dari kata dasar ghasik yang berarti ‘mengirim’ atau ‘mengantarkan’) bukanlah sekadar aktivitas mengirimkan makanan ke tetangga. Ia adalah sebuah filosofi hidup komunal yang dalam.

Dalam struktur masyarakat Lampung yang hierarkis namun egaliter dalam rasa kemanusiaan, peghasik berfungsi sebagai penyeimbang sosial. Ia memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar kelaparan, dan bahwa kebahagiaan (seperti kelahiran anak atau panen melimpah) dibagikan, sehingga berkahnya berlipat ganda.
Aktivitas ini sering kali mengikuti prinsip “sai-sai nengah” (saling menengahi) dan “sai-sai nyappai” (saling mencukupi). Jika sebuah keluarga mengalami musibah atau kesedihan, tetangga akan mengirimkan makanan sebagai bentuk dukungan konkret, mengurungkan keperluan mereka untuk memasak di tengah duka. Sebaliknya, saat sebuah keluarga memiliki hajatan sukacita, mereka akan membagikan sebagian dari hidangan istimewa itu kepada tetangga, mengajak mereka mengecap kebahagiaan yang sama. Dengan demikian, peghasik menjadi sistem keamanan pangan dan jaringan dukungan emosional yang organik dan tidak terucapkan.

Baca Juga :  Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 6: Makan Ngelamak, Ritual Syukur Hasil Bumi Sebelum Menuai. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ritual dalam Kesederhanaan, Tata Cara Peghasik yang Sarat Makna.

Meski terlihat sederhana, peghasik memiliki tata krama yang dipahami bersama, mencerminkan nilai nemui nyimah (saling menemui dan menghormati).
1. Waktu Pengantaran: Biasanya dilakukan pada waktu makan, pagi, siang, atau sore, sebagai isyarat bahwa si pengirim mengingatkan si penerima untuk turut menikmati waktu makan.
2. Wadah: Makanan dikirim menggunakan piring peghasik, bukan mangkuk atau wadah masak. Penggunaan piring khusus ini menandakan bahwa makanan itu memang dipersiapkan untuk dibagikan, bukan sekadar sisa. Piring ini sering kali dibawa pulang oleh si pengantar kosong, atau diisi kembali dengan makanan lain oleh si penerima, menciptakan siklus berbagi yang terus berputar.
3. Jenis Makanan: Makanan yang di-peghasik-kan biasanya adalah makanan pokok atau lauk yang tahan lama dan bisa dinikmati semua usia, seperti lemang, seruit, gulai taboh, atau kue tradisional. Jarang sekali makanan yang mudah basi atau kurang sedap dipanaskan.
4. Sikap Pengantar: Sang pengantar, sering kali anak-anak, diajarkan untuk menyampaikan pesan singkat dan sopan: “Ini dari emak, mau dibagi.” Kalimat sederhana ini mengandung kerendahan hati: si pengirim tidak ingin dianggap sedang pamer atau mengasihani.

Peghasik dalam Sastra dan Naskah Adat, Jejak Panjang Solidaritas
Nilai peghasik tercermin dalam berbagai pantun dan petuah adat Lampung. Salah satu kutipan dari Kitab Pusaka Buay Pubian berbunyi: “Hambak ngaku saibatin, wat piil pesenggiri. Tappai nyak wawai mengan, peghasik nyak hampok nengah.” (Jangan hanya mengaku bersaudara, di atas harga diri. Tapi jika ada rezeki berlebih, peghasik-lah pemersatu tengah.)

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Dari Dapur ke Sesat Harmoni Kehidupan Adat Lampung di Hari Lebaran. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis mendalam terhadap kutipan ini mengungkap lapisan makna yang kaya. Pertama, ia menempatkan peghasik sebagai tindakan nyata yang mengonfirmasi ikatan persaudaraan (saibatin), melampaui sekadar pengakuan lisan. Kedua, frasa “wat piil pesenggiri” (di atas harga diri) sangat penting. Ia mengajarkan bahwa dalam berbagi, ego dan gengsi harus disingkirkan.
Mengirimkan makanan ke tetangga mungkin dianggap ‘remeh’, tetapi justru itulah wujud piil pesenggiri sejati, harga diri yang terpancar dari kedermawanan dan kepedulian, bukan dari kesombongan. Ketiga, “hampok nengah” (pemersatu tengah) menegaskan fungsi peghasik sebagai perekat sosial yang mencegah kesenjangan dan menjaga keseimbangan dalam komunitas.

Filosofi Spiritual, Makanan sebagai Medium Silaturahmi dan Rasa Syukur.

Di balik tindakan material berbagi makanan, tersembunyi filosofi spiritual yang mendalam. Masyarakat adat Lampung memandang makanan bukan semata benda konsumsi, tetapi sebagai anugerah dari Yang Maha Kuasa dan alam. Dengan membagikan makanan, mereka sedang:
1. Mensyukuri Rezeki: Berbagi adalah bentuk syukur yang aktif. Rezeki yang tidak disimpan sendiri diyakini akan mengalir terus dan membawa berkah baru.
2. Memperpanjang Silaturahmi: Makanan yang dibagikan adalah ‘utusan’ yang menjaga kehangatan hubungan antar-lamban (rumah). Ia mencegah “dinginnya hubungan” yang bisa muncul karena kesibukan sehari-hari.
3. Menjaga Keberkahan Makanan: Ada kepercayaan bahwa makanan yang dibagikan akan lebih berkah dan terhindar dari sifat sirik (iri hati) orang lain. Dengan ikhlas memberi, kita melindungi rezeki kita sendiri.

Prinsip ini selaras dengan ajaran “sakai sambayan” (gotong royong) yang menjadi salah satu pilar filosofi hidup Lampung. Peghasik adalah sakai sambayan dalam skala mikro dan harian.

Peghasik di Era Modern, Relevansi yang Tak Pudar.

Di tengah gaya hidup individualistik dan praktik food delivery yang impersonal, filosofi peghasik justru menemukan relevansi barunya. Ia mengajarkan:
* Kepekaan Sosial: Melatih kita untuk peka terhadap keadaan tetangga di sebelah rumah.
* Pengurangan Sisa Makanan: Mencegah food waste dengan membagikan kelebihan makanan sebelum basi.
* Pendidikan Karakter: Mengajarkan anak-anak nilai berbagi dan tanggung jawab sosial sejak dini melalui aksi nyata.
* Ketahanan Komunitas: Membangun jaringan saling percaya dan dukungan yang kuat, yang merupakan modal sosial paling berharga, terutama dalam situasi darurat.

Baca Juga :  Adat dalam Penyelesaian Perkawinan dan Warisan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Piring yang Mengitari Kampung.

Peghasik adalah metafora yang indah tentang kehidupan bermasyarakat. Seperti piring yang berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, membawa rasa, kemudian kembali dengan rasa yang berbeda, demikian pula kebaikan dan kepedulian. Ia terus berputar, menyambung hidup, dan menguatkan ikatan.

Dalam kesibukan dunia modern, nilai peghasik mengingatkan kita pada sebuah kebenaran sederhana: kebersamaan dimulai dari meja makan, dan kasih sayang sering kali diantarkan dalam bentuk paling sederhana, sepiring makanan hangat, yang diberikan dengan tulus, dari hati ke hati.

Tradisi ini bukanlah peninggalan usang, melainkan wisdom lokal yang tetap cemerlang, menunggu untuk dipraktikkan kembali, agar senja-senja di setiap kampung tetap dihangatkan oleh aroma makanan yang dibagi, dan oleh rasa bahwa kita tak pernah benar-benar sendirian.

Sumber Terverifikasi:
* Kitab Pusaka Buay Pubian (Naskah Kulit Kayu, Tuan Uluan Ketibung, 1878) – khususnya bagian yang membahas nilai kemasyarakatan.
* Buku Handak Adat Lampung Pubian (Sayuti Ibrahim/Kiai Paksi).
* Wawancara dan catatan etnografis dengan tetua adat dan penyimbang di Marga Pubian Bukkuk Jadi, Lampung.
* Prinsip hidup masyarakat Lampung: Piil Pesenggiri, Sakai Sambayan, Nemui Nyimah, Bejuluk Beadek, Nengah Nyappur.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini