nataragung.id – Bandar Lampung – Buku seri fiksi tradisional ini disusun sebagai upaya menghadirkan kembali denyut kehidupan adat masyarakat Lampung dalam bingkai kisah, filosofi, dan analisis nilai spiritual yang hidup hingga kini. Ramadhan, sebagai bulan suci dalam Islam, tidak hadir sebagai ruang kosong dalam masyarakat adat Lampung, melainkan menyatu dengan adat, busana, tata krama, dan kesopanan yang diwariskan turun-temurun.
Melalui cerita rakyat, legenda marga, serta penelusuran makna ritual, buku ini mengajak pembaca menelusuri jejak hidup masyarakat Lampung yang menyambut Ramadhan dengan kegembiraan, ketundukan, dan kebijaksanaan adat.
Pada suatu masa, ketika Gunung Pesagi masih dianggap sebagai poros dunia oleh orang-orang Lampung, hiduplah sebuah marga tua bernama Marga Pagar Dewa. Di marga itulah tinggal seorang gadis bernama Sekar Intan, anak dari Penyimbang adat Saibatin. Menjelang Ramadhan, Sekar Intan melihat perubahan di kampungnya. Para ibu menyiapkan kain tapis sederhana, para pemuda membersihkan balai adat, dan para tetua berkumpul membaca naskah kuno beraksara Lampung.
Pada malam pertama Ramadhan, bulan menggantung bening di atas pantai Teluk Lampung. Sekar Intan mengenakan busana adat yang sederhana, tanpa perhiasan berlebihan. Siger emas peninggalan leluhurnya hanya dikenakan oleh ibunya sebagai simbol tanggung jawab adat. Dalam suasana cangget yang khidmat namun penuh kegembiraan, masyarakat menari bukan untuk kemewahan, melainkan sebagai ungkapan syukur menyambut bulan suci.
Konon, menurut cerita yang diwariskan, siapa pun yang menyambut Ramadhan dengan kesederhanaan dan kesopanan akan dijaga marwahnya oleh leluhur. Kisah Sekar Intan menjadi cerita rakyat yang terus diceritakan dari generasi ke generasi, sebagai pengingat bahwa adat dan agama berjalan seiring dalam kehidupan orang Lampung.
Masyarakat adat Lampung secara garis besar terbagi ke dalam dua kelompok adat besar, yaitu Saibatin dan Pepadun. Kedua sistem adat ini memiliki akar sejarah yang panjang dan terdokumentasi dalam legenda lisan, silsilah marga, serta naskah kuno.
Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, sebuah naskah adat Lampung yang ditulis dalam aksara Lampung kuno, disebutkan: “Adat iku payung hidup, sai nyangga urip sai betik.”
Secara harfiah berarti, adat adalah payung kehidupan yang melindungi hidup yang beretika. Kutipan ini menunjukkan bahwa sejak awal, adat Lampung menempatkan tata busana, kesopanan, dan perilaku sebagai bagian dari sistem moral.
Marga-marga tua seperti Marga Buay Belunguh, Buay Pernong, dan Buay Nuban menurunkan silsilah mereka melalui garis keturunan yang jelas.
Dalam dokumen adat Pepadun, disebutkan bahwa perubahan status adat selalu disertai sumpah untuk menjaga kesederhanaan dan tidak melampaui batas kepantasan, terutama dalam bulan-bulan suci.
Ramadhan kemudian diterima sebagai bulan penguat nilai adat. Leluhur Lampung melihat puasa sebagai laku spiritual yang sejalan dengan prinsip piil pesenggiri, yakni harga diri yang dijaga melalui pengendalian diri.
Dalam masyarakat Lampung, Ramadhan bukan sekadar ritual agama, melainkan peristiwa sosial-adat. Penyimbang adat akan mengeluarkan petuah khusus menjelang Ramadhan, mengingatkan tentang busana sederhana dan larangan berlebih-lebihan.
Dalam manuskrip lisan Pepadun, terdapat petuah adat yang berbunyi: “Sai betik makai, sai pantang ngelawan adat.”
Maknanya, yang baik dipakai, yang pantang jangan dilanggar adat. Analisis dari kutipan ini menunjukkan bahwa kesederhanaan berpakaian selama Ramadhan bukanlah simbol kemiskinan, melainkan bentuk kepatuhan terhadap tatanan sosial dan spiritual.
Busana adat Lampung, baik Saibatin maupun Pepadun, pada bulan Ramadhan cenderung dipilih yang sederhana: warna cerah namun tidak mencolok, tapis tanpa sulaman emas berlebihan, dan siger hanya dikenakan dalam upacara adat tertentu. Nilai ini mengajarkan keseimbangan antara keindahan dan kesopanan.
Busana adat Lampung mengandung simbol kosmologis. Kain tapis melambangkan kesabaran karena ditenun dengan waktu yang panjang. Dalam konteks Ramadhan, tapis sederhana menjadi simbol laku puasa: menahan diri, tekun, dan bersih niat.
Siger, mahkota adat Lampung, dalam filosofi adat hanya pantas dikenakan oleh perempuan yang memegang tanggung jawab adat. Pada Ramadhan, penggunaan siger dibatasi sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian bulan. Ini menunjukkan bahwa adat Lampung mengajarkan etika visual, bahwa tidak semua kemegahan harus ditampilkan setiap waktu.
Nilai kesopanan juga tercermin dalam gerak tubuh saat cangget. Tarian dilakukan dengan gerak halus, tanpa hentakan keras. Analisis filosofisnya menunjukkan bahwa masyarakat Lampung memahami ibadah sebagai ketenangan, bukan euforia berlebihan.
Ritual begawi yang dilakukan menjelang Ramadhan biasanya bersifat kecil dan terbatas. Tujuannya bukan perayaan besar, melainkan penguatan silaturahmi. Dalam catatan adat Saibatin, disebutkan: “Begawi sai cukup, ulah sai lampah.”
Artinya, upacara secukupnya, jangan berlebihan. Kutipan ini sejalan dengan ajaran Islam tentang kesederhanaan. Analisis ini memperlihatkan adanya dialog harmonis antara adat dan agama.
Masyarakat berkumpul, saling memaafkan, dan menyiapkan diri secara lahir dan batin. Inilah inti spiritual Ramadhan dalam adat Lampung: membersihkan hubungan sosial sebelum membersihkan jiwa melalui puasa.
Bagi masyarakat Lampung, Ramadhan adalah momentum menjaga identitas adat di tengah perubahan zaman. Busana sederhana dan nilai kesopanan menjadi penanda bahwa adat tidak kehilangan ruhnya.
Cerita rakyat seperti kisah Sekar Intan terus diceritakan agar generasi muda memahami bahwa kegembiraan menyambut Ramadhan tidak harus mewah. Cukup dengan adat yang dijalankan, kesopanan dijaga, dan kebersamaan dirawat.
Ramadhan dalam jejak hidup dan adat Lampung adalah pertemuan antara iman dan tradisi. Melalui busana sederhana dan nilai kesopanan, masyarakat Lampung mewariskan ajaran luhur tentang keseimbangan hidup. Buku ini diharapkan menjadi jembatan antara cerita rakyat, sejarah adat, dan refleksi spiritual yang relevan bagi pembaca masa kini.
Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Kuntara Raja Niti. Manuskrip Adat Lampung. Arsip Daerah Lampung.
3. Sukadana, A. Piil Pesenggiri: Falsafah Hidup Orang Lampung. Bandar Lampung: Pusat Kajian Budaya Lampung.
4. Arsip Lisan Penyimbang Adat Saibatin dan Pepadun, Kabupaten Lampung Barat dan Lampung Tengah.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

