Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Segubal dalam Tradisi Syukuran Adat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami mewariskan sebuah falsafah yang hingga kini tetap terjaga. Di tanah Lampung yang subur, di antara pepohonan yang rimbun dan aliran sungai yang jernih, lahirlah sebuah tradisi kuliner yang tak sekadar mengenyangkan perut, melainkan juga menyejukkan jiwa. Tradisi itu bernama Segubal.

Alkisah, di sebuah tiyuh (kampung adat) di daerah Lampung Tengah, hiduplah seorang tetua adat bernama Punyimbang Radin Jaya. Beliau dikenal sebagai sosok yang teguh memegang adat dan taat menjalankan syariat. Suatu hari, keluarga besar Radin Jaya hendak menggelar syukuran atas panen raya yang melimpah ruah. Namun, sang istri, wanita yang bijaksana, bertanya, “Apa yang akan kita sajikan untuk para tamu dan sanak saudara, agar hidangan ini tidak hanya mengenyangkan tetapi juga membawa doa dan berkah?”
Punyimbang Radin Jaya pun merenung. Beliau teringat akan nasihat leluhurnya, bahwa makanan dalam syukuran bukanlah sekadar hidangan, melainkan lambang syukur dan penghormatan. Lalu, terpikir olehnya untuk menyajikan Segubal.
Segubal adalah penganan dari beras ketan yang dimasak dengan santan kelapa, lalu dibungkus rapi dengan daun pisang dan diikat dengan tali dari serat alami. Bentuknya yang menggulung dan padat melambangkan kesatuan dan kekompakan. Setiap gulungannya seperti doa yang terkumpul, siap dipanjatkan kepada Allah atas segala nikmat kehidupan.

Legenda Marga dan Filosofi Segubal
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, asal-usul Segubal tak lepas dari sejarah marga-marga besar di Lampung. Ada dua jurai utama yang mewarnai tanah ini: Saibatin dan Pepadun. Dalam manuskrip kuno Kitab Kuntara Raja Niti, disebutkan bahwa masyarakat Lampung sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Kitab yang diyakini sebagai pedoman adat ini memuat tata cara hidup yang harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Dalam salah satu bagian Kitab Kuntara Raja Niti, disebutkan: “Senang negeri: (1) Cawa sepuluh sudi cukup, (2) Muli meranai lamon sai ranta sapun, (3) Raji ni sabar, dan (4) Anak buwoh maka kakira.” Frasa ini mengajarkan bahwa di negeri yang damai, berbicara sepuluh kata sudah cukup (artinya menjaga lisan), para pemuda sopan santun, pemimpinnya sabar, dan warganya bijak dalam menggunakan harta.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Menyambut Idulfitri dengan Jiwa Bersih Menurut Adat (Tamat) Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Kehadiran Segubal dalam setiap syukuran adalah manifestasi dari nilai-nilai itu. Bahan bakunya yang sederhana, ketan dan santan, mengingatkan kita pada pentingnya kesederhanaan.

Proses pembuatannya yang memakan waktu hingga 10 jam, mulai dari merendam, mengukus, hingga membungkus dengan daun pisang, mengajarkan arti kesabaran dan ketekunan. Inilah yang disebut dengan “wat andah wat padah, khapa ulah khaya ulih”, hasil yang kita peroleh tergantung pada usaha yang kita lakukan.
Resep dan Cara Menghidangkan Segubal
Segubal bukanlah makanan yang dibuat dengan tergesa-gesa.

Filosofi pembuatannya adalah tentang ketulusan. Menurut cerita Nenek Sekubal, seorang pembuat Segubal legendaris dari Bandarlampung, kunci kelezatan Segubal terletak pada ketelatenan. Beras ketan yang sudah dicuci bersih dikukus hingga setengah matang. Kemudian, santan kental dari kelapa tua disiramkan ke atas ketan sambil diaduk perlahan. Sedikit garam ditambahkan untuk memberi rasa gurih yang seimbang.
Setelah tercampur rata, ketan dikukus kembali hingga matang sempurna. Adonan yang sudah pulen kemudian dicetak, biasanya dengan cetakan berbentuk bulat atau persegi panjang. Langkah selanjutnya adalah membungkusnya dengan daun pisang yang sudah dilayukan agar lentur. Setiap bungkusan diikat erat dengan tali, lalu direbus selama sekitar dua jam. Proses perebusan inilah yang membuat Segubal menjadi legit dan tahan lama.
Segubal biasanya disajikan dengan lauk-pauk khas seperti rendang daging, gulai, opor ayam, atau serundeng. Dalam tradisi adat, Segubal sering menjadi sesan (buah tangan) saat acara manjau mengian, yaitu kunjungan pengantin pria ke rumah kerabat istrinya. Kehadirannya di meja makan tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menjadi simbol kehormatan. Jika Segubal tidak tersaji dalam acara besar, hal itu bisa menjadi aib atau setidaknya menjadi perbincangan.

Baca Juga :  Tradisi Menyambut Idul Adha di Masyarakat Adat Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Makna Spiritual dan Nilai-Nilai Luhur.

Orang Lampung mewarisi falsafah hidup yang disebut Piil Pesenggiri. Falsafah ini terdiri atas lima pilar utama yang sangat selaras dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila.
Pertama, Pesenggiri, harga diri dan kehormatan. Dalam adat, menyajikan Segubal adalah bentuk menjaga kehormatan keluarga. Seperti tertulis dalam adat, orang Lampung memiliki “rasa malu” atau piil untuk berbuat hal yang tidak terpuji. Menghidangkan makanan terbaik untuk tamu adalah bagian dari menjaga marwah.
Kedua, Juluk-Adok, gelar kehormatan. Setiap penyimbang adat memiliki gelar yang melekat pada identitasnya.

Segubal yang disajikan dalam syukuran adalah bentuk penghormatan kepada para pemangku adat dan tamu undangan.
Ketiga, Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Dalam tradisi Lampung, suka menerima dan memberi tamu adalah kewajiban. Segubal hadir sebagai wujud keramahan yang tulus. Sebuah keluarga yang tidak mampu menyajikan Segubal atau makanan layak dalam hajatan akan merasa kehilangan martabatnya.
Keempat, Nengah Nyappur, keterbukaan dan bersosialisasi. Acara syukuran yang dihadiri oleh berbagai kalangan mencerminkan semangat kekeluargaan dan toleransi. Segubal menjadi pemersatu, tanpa memandang suku atau golongan. Ini sejalan dengan nilai musyawarah dan kebersamaan.
Kelima, Sakai Sambayan, gotong royong. Membuat Segubal dalam jumlah besar untuk syukuran biasanya dikerjakan bersama-sama. Para tetangga dan sanak saudara bahu-membahu, mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi jiwa bangsa.
Keselarasan dengan Syariat dan Nilai Kebangsaan
Meski berakar pada tradisi leluhur, pelaksanaan syukuran adat dengan Segubal tetap berpegang pada syariat Islam. Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Kuntara Raja Niti, hukum adat yang berlaku di Lampung bersumber pada tiga pokok: Igama (hukum agama), Dirgama (hati nurani), dan Karinah (sebab akibat). Dengan demikian, setiap upacara adat yang dilakukan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, ia menjadi wadah rasa syukur yang diwajibkan dalam agama.
Nilai-nilai Pancasila pun terpancar dengan kuat. Sakai Sambayan adalah cermin sila kelima, keadilan sosial. Nengah Nyappur adalah cermin sila ketiga, persatuan Indonesia. Nemui Nyimah merefleksikan sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan demikian, Segubal bukan sekadar makanan. Ia adalah warisan budaya yang memperkuat identitas kebangsaan.
Kini, Segubal mulai langka. Generasi muda lebih memilih makanan instan. Namun, di balik gulungan daun pisang itu, terkandung pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, dan kebersamaan. Saat kita menyantap Segubal, kita tidak hanya mengunyah ketan dan santan, tetapi juga merasakan hangatnya tradisi dan doa nenek moyang. Inilah kekayaan budaya Lampung yang harus terus dijaga, agar tidak tergerus zaman.
Mari kita lestarikan Segubal. Karena dalam setiap gigitannya, ada sejarah, ada harga diri, dan ada syukur kepada Allah.

Baca Juga :  Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 2: Gotong Royong yang Mulai Pudar. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

DAFTAR PUSTAKA
1. Isbedy Stiawan ZS. (2014). Sekubal, Makanan Khas “Ulun” Lampung. Teraslampung.com.
2. Hadikusuma, H. (1989). Adat Istiadat Daerah Lampung. (dalam sumber skripsi).
3. Rizani Puspawidjaja. (2001). Falsafah Piil Pesenggiri. (dalam sumber skripsi).
4. Meza Swastika & Dian Wahyu. (2013). Fokus Segubal Salah Satu Kue Piil. Lampung Post.
5. Kuntara Raja Niti. Manuskrip kuno Lampung. (dalam sumber jurnal).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini