nataragung.id – Bandar Lampung – Di kaki Gunung Seminung, Lampung Barat, hiduplah masyarakat yang memegang teguh falsafah Piil Pesenggiri. Bulan Ramadhan bagi mereka bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah lorong waktu di mana langit dan bumi berbisik, tempat para leluhur turun menyaksikan anak cucu menjalani ujian kesucian. Di sebuah rumah adat Sesat yang agung, kita menyelami kisah Sekala Bekhak, seorang gadis yang berguru pada kehidupan untuk memahami bahwa Idulfitri adalah puncak perjalanan menyucikan jiwa menurut tuntunan adat.
Beberapa hari sebelum Ramadhan, masyarakat adat suku Saibatin mengadakan upacara Nuwouh Bulan. Sekala Bekhak, gadis tujuh belas tahun, duduk di pangkuan Buyut Kandang, pemimpin adat tertua.
“Anakku,” ucap Buyut Kandang, “sebelum masuk ke rumah suci, bersihkan kaki dari debu dunia.”
Dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti yang tersimpan di peti kayu kulintang, tertulis dalam aksara Had Lampung: “Ulu begawai, tengah bayas, tikuh buwasa. Ramadhan ulu, Idulfitri tengah, balak mak beghawi ratong ghik sai.”
(Awalnya persiapan, pertengahan pelaksanaan, akhirnya kebajikan. Ramadhan adalah awal, Idulfitri adalah pertengahan.)
Analisis filosofisnya: masyarakat adat memandang Ramadhan dan Idulfitri sebagai satu prosesi hidup. Ulu adalah fase persiapan mental. Tengah adalah pelaksanaan puasa. Tikuh adalah kembali ke fitrah.
Upacara Nuwouh Bulan diawali bebersih desa. Sekala membantu membersihkan lamban hingga sudut dapur. Mereka menyiram halaman dengan air campur jeruk nipis. Ini simbol ngelapus ghasa, menghilangkan egoisme.
“Air ini,” kata ibunya, “adalah Way Semaka. Ia mengalir dari puncak ke laut. Ia tidak pernah berhenti, ia selalu suci.”
Memasuki Ramadhan, masyarakat memiliki tradisi Berat Sei (berat lidah), yaitu menjaga ucapan. Dalam Kuntara Raja Niti jilid II disebutkan: “Sai mak bepantang, sai mak beghawai, sai mak muakhi, sai mak bepasa, ia sai ulah gaoh.” (Barang siapa tak berpantang, tak beradat, tak bersaudara, tak berpuasa, ia tersesat.)
Analisis: puasa ditempatkan setara dengan berpantang dan bersaudara. Ramadhan adalah momen memperkuat ikatan sosial, bukan sekadar menahan lapar.
Sekala belajar bepantang. Legenda setempat bercerita tentang Putri Gung Gadam, putri marga Peminggir yang gagal bepantang saat Ramadhan. Ia keluar malam menemui kekasihnya dan dikutuk menjadi batu di tepi Danau Ranau. Silsilah marga Peminggir dalam Tambo Peminggir menyebutkan kutukan itu metafora dari “mati rasa sosial”, pelanggar adat akan dikucilkan.
Hari ke-15, Buyut Kandang mengajak Sekala ke ladang memanen padi. Beliau menjelaskan filosofi Khaman, pohon kehidupan yang melambangkan hubungan alam semesta dan bumi.
“Padi ini melalui panas dan hujan,” kata Buyut Kandang. “Begitu kita di bulan ini. Lapar dan haus membuat ghik (jiwa) menjadi matang.”
Malam ke-21, dilakukan Ngengalu (mencari Lailatul Qadar) dengan tapa bisu di makam leluhur. Buyut Kandang melantunkan guritan: “Nyamban mak lemah, nyamban mak wawai. Sai meghawi ghik sai, sai meghawi wat sai.” (Mencari tak lemah, mencari tak kuat. Yang menguasai jiwa, yang menguasai rasa.)
Analisis: pencarian bukan kekuatan fisik, melainkan kekuatan menguasai ghik dan wat. Ritual di makam mengajarkan agar tidak mencintai dunia berlebihan, inti dari puasa.
Hari kemenangan tiba. Sekala pergi ke pancuran bernama Way Sekaki untuk pesiraman. Dalam Pusaka Bujang Semaka tertulis: “Ajar ghik, ajar wat, ajar ngelom. Mandi ghik sai memandikan, mandi wat sai mewayangkan.” (Ajarkan jiwa, ajarkan rasa, ajarkan dzikir. Mandi menyucikan jiwa, mandi mengalirkan rasa.)
Air diambil dari tujuh sumber, melambangkan tujuh lapisan nafsu yang dibersihkan.
Setelah shalat Id, prosesi Ngakuk Ghik di Sesat. Sekala melakukan sembah nyambah, berlutut dengan hidung menyentuh lantai. Buyut Kandang mengusap kepalanya dengan kain lunggi putih, membacakan ijab kabul adat:
“Sai wat, wat sai. Sai ghik, ghik sai. Mak si wat, mak si ghik, nyak bulih pun mak kadang.” (Yang punya rasa, rasa yang punya. Bukan punya rasa, bukan punya jiwa, aku kembali seperti bayi.)
Analisis: ini konsep telu wat (tiga rasa) dan telu ghik (tiga jiwa). Seseorang melepaskan segala rasa duniawi dan mengembalikan jiwa ke titik nol, manifestasi fitrah dalam kemasan adat.
Dalam Pustaka Tuha Peminggir (dokumen lontar 1887), diceritakan leluhur mereka, Ratu Begaway, petapa di Bukit Tanggamus. Beliau menerima wangsit pada malam Lailatul Qadar:
“Nyak mak gham tiyuh, nyak mak gham ratu. Nyak gham ghik sai beghawi wat.”
(Aku bukan desa, aku bukan raja. Aku adalah jiwa yang menguasai rasa.)
Ratu Begaway menyusun adat pepadun dan menetapkan Ramadhan sebagai waktu merapatkan silsilah. Silsilah marga Peminggir menunjukkan hubungan dengan Ratu Sekampung dan Ratu Semaka. Mereka penjaga pintu spiritual di wilayah barat.
Sekala menyadari dirinya bukan hanya anak si A dan si B. Ia bagian dari rantai panjang sejak Ratu Begaway. Idulfitri adalah momen mupus silsilah, membersihkan catatan keturunan dari kesalahan.
Sore Idulfitri, Sekala duduk di beranda lamban. Buyut Kandang mendekat dengan segelas air putih.
“Minumlah, anakku. Kau telah melewati pasa dengan pantang. Kini kau adalah way semaka, bersih dan mengalir.”
Sekala merenungkan perjalanan dari Nuwouh Bulan, Berat Sei, tapa di makam, hingga pesiraman. Ia memahami bahwa adat dan agama menyatu. Jiwa bersih bukan hanya hati tanpa dosa, tetapi juga tangan yang tak mengambil hak saudara, lidah yang tak melukai, kaki yang melangkah ke tempat diridhai.
Dalam Piil Pesenggiri, ada empat pilar: bejuluk (harga diri), bekhagham (keadilan), berkekekhinian (kerukunan), dan sokha (kesucian). Keempatnya diasah di Ramadhan hingga mencapai puncak di Idulfitri, sokha yang terwujud.
Saat beduk petang dipukul menandakan berakhirnya hari raya, jiwa Sekala terasa ringan, seperti kapas yang siap ditenun menjadi kain lunggi, kain putih yang kelak membungkus tubuhnya saat kembali ke pangkuan Buay.
Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju, 1990.
2. Kuntara Raja Niti. Naskah Kuno Adat Lampung. Lampung: Lembaga Adat Pepadun dan Saibatin, 1985.
3. Setyawan, Budi. Arsitektur Rumah Sesat dan Filosofi Kosmologi Masyarakat Lampung Saibatin. Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

