Mutiara Pagi : Peradaban yang Tegak di Atas Ilmu dan Keadilan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Para ulama berkata: tidak akan berdiri kokoh suatu peradaban, tidak pula ia akan mencapai puncak kejayaan, kecuali di atas dua tiang utama : ilmu dan keadilan. Bila salah satu runtuh, maka retaklah bangunannya; bila keduanya hilang, maka runtuhlah seluruh peradaban itu tanpa sisa.

Dan sungguh, ketika kita menelusuri jejak Islam sejak awal risalah, kita akan mendapati bahwa agama ini telah menanamkan dua pilar itu sejak detik pertama wahyu diturunkan hingga akhir ayat yang menggetarkan hati manusia.

Allah Subḥanahu wata’ala memulai wahyu-Nya dengan seruan ilmu:

﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ﴾

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Benci dan Cinta (dapat) Membutakan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1–5)

Di sinilah fondasi pertama itu diletakkan: iqra’ ; bacalah. Sebuah perintah yang bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca kehidupan, membaca tanda-tanda kebesaran Allah, membaca diri sendiri. Dari sinilah lahir peradaban ilmu, peradaban yang tercerahkan, yang memuliakan akal dan menuntun manusia keluar dari gelapnya kebodohan.

Namun Islam tidak berhenti pada ilmu semata. Sebab ilmu tanpa keadilan bisa menjadi alat penindasan, dan kecerdasan tanpa iman bisa melahirkan kerusakan.

Maka di penghujung wahyu, Allah Subḥanahu wata’ala menutup dengan peringatan tentang keadilan dan pertanggungjawaban:
﴿وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ﴾

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Kebijakan Harus Dibangun di Atas Ilmu dan Hikmah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

“Dan takutlah kamu pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap jiwa diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.” (QS. Al-Baqarah: 281)

Ayat ini adalah penutup yang agung, sebuah penegasan bahwa keadilan adalah hukum yang tak terelakkan. Tidak ada kezaliman sekecil apa pun yang luput, tidak ada kebaikan sekecil apa pun yang terabaikan. Semua akan ditimbang dengan sempurna di hadapan Allah Yang Maha Adil.

Maka, antara “Iqra’” di awal dan “laa yuzhlamun” di akhir, terbentang jalan panjang sebuah peradaban: peradaban yang dibangun dengan ilmu, dan dijaga dengan keadilan.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Sedikit Yang Dawam Lebih Baik Dari Banyak Yang Terputus. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Jika kita ingin bangkit, maka kembalilah kepada dua pilar ini. Bangun generasi yang mencintai ilmu, dan tegakkan kehidupan yang dipenuhi keadilan.

Sebab peradaban yang berilmu tanpa adil akan hancur oleh kesombongannya,
dan keadilan tanpa ilmu akan rapuh oleh kebodohan.

Namun bila ilmu dan keadilan bersatu, maka di situlah cahaya Islam akan kembali menerangi dunia, mengangkat manusia dari kegelapan menuju cahaya, dan dari kehancuran menuju kemuliaan. (KIS/208)
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini