Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri – 4: Jejak Sejarah dalam Kain: Filosofi di Balik Kain Tapis. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, di masa silam, hiduplah seorang putri dari khayangan bernama Putri Siti. Ia memperhatikan kehidupan masyarakat Lampung yang meskipun telah memiliki pedoman hidup Piil Pesenggiri, masih kesulitan untuk mengekspresikan nilai-nilai luhur tersebut dalam bentuk yang kasatmata dan abadi. Dari langit, ia melihat betapa gigihnya para perempuan Lampung menenun kain dengan motif sederhana.

Dengan penuh welas asih, Putri Siti pun turun ke bumi. Ia mengajarkan kepada para perempuan Lampung seni menenun dengan benang emas, menyulamkan motif-motif rumit yang mengandung pesan dan doa. Dalam sebuah mimpi kolektif, para penenun itu diajari untuk menyisipkan setiap helai benang dengan niatan baik, kesabaran (piil), dan kebanggaan akan budaya mereka (pesenggiri). Konon, kain pertama yang berhasil diselesaikan memancarkan cahaya redup, menyimbolkan cahaya kebijaksanaan yang kini terkandung dalam setiap helai kain Tapis.

Legenda ini menegaskan bahwa Tapis bukan sekadar produk kerajinan; ia adalah wahana spiritual, sebuah kitab suci yang tertulis dalam benang dan motif, yang lahir dari penyatuan ilham ilahi dan kerja keras manusia yang penuh martabat.

Kain Tapis Lampung adalah lebih dari sekadar kain; ia adalah kanvas tempat nilai-nilai Piil Pesenggiri dirajut dan diwujudkan. Setiap jahitan, motif, dan warnanya mengandung filosofi hidup yang dalam, menjadikannya sebuah naskah visual yang menceritakan prinsip kemasyarakatan, spiritualitas, dan kosmologi orang Lampung.
Proses pembuatannya sendiri adalah sebuah meditasi dan pelatihan karakter yang merefleksikan keseluruhan pilar Piil Pesenggiri:
* Kesabaran dan Ketekunan (Piil): Menenun Tapis membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Proses ini melatih piil sang penenun untuk tekun, teliti, dan tidak mudah menyerah.
* Martabat dan Keindahan (Pesenggiri): Hasil akhirnya adalah sebuah mahakarya yang memancarkan keindahan dan kemuliaan, mencerminkan pesenggiri si pemakai dan komunitasnya.
* Gotong Royong (Sakai Sambayan): Seringkali, proses menenun dilakukan secara berkelompok, di mana para perempuan saling membantu dan berbagi ilmu.
* Keterbukaan (Nemui Nyimah): Motif-motifnya sering bercerita tentang interaksi dengan alam dan kosmos, menunjukkan keterbukaan terhadap dunia yang lebih luas.
Setiap motif pada Tapis bukanlah hiasan semata, melainkan sebuah kalimat penuh makna dalam bahasa simbol. Beberapa motif utama beserta filsafatnya adalah:
1. Motif Pucuk Rebung (Tunas Bambu): Motif ini melambangkan pertumbuhan, kesinambungan, dan harapan. Seperti rebung yang tumbuh tinggi menjulang, manusia diharapkan dapat terus berkembang secara lahir dan batin, mencapai martabat yang tinggi. Motif ini merepresentasikan nilai pesenggiri yang dinamis, yang harus terus ditingkatkan sepanjang hidup.
2. Motif Perahu: Motif ini mengingatkan pada sejarah migrasi leluhur orang Lampung dari Sekala Brak ke berbagai penjuru. Perahu melambangkan perjalanan hidup, ketangguhan, dan kemampuan beradaptasi (nengah nyappur) dengan lingkungan baru. Seperti perahu yang tetap kokoh dihempas gelombang, manusia harus tetap teguh pada prinsip (piil) di tengah terpaan masalah kehidupan.
3. Motif Hewan (Gajah, Burung): Motif ini sering dikaitkan dengan klan atau marga tertentu. Misalnya, motif gajah dapat dikaitkan dengan marga tertentu yang meyakini hewan itu sebagai simbol kebijaksanaan dan kekuatan. Ini adalah bentuk pesenggiri kolektif sebuah marga, yang mengenalkan identitas dan kebanggaan leluhurnya melalui kain.
4. Motif Bunga dan Tumbuhan: Melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan keharmonisan dengan alam. Motif ini mencerminkan prinsip nemui nyimah, keramahan dan keterbukaan untuk menerima segala berkah yang diberikan oleh alam semesta.

Baca Juga :  Seri Buku: Makanan Khas Lampung. Gulai Taboh dan Nengah Nyappur, Menyatu dalam Perbedaan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sebuah naskah kuno, Kuntara Raja Niti, secara implisit mengisyaratkan pentingnya makna di balik penampilan: “Njaghei memeren tiyuh, nengah nuwowoh, ngehukum adek.” (Menjaga pemerintahan negeri, yang menengah (menengahi) dan menumbuhkan, yang menghukum adat).
Analisis mendalam terhadap petuah ini dapat dikaitkan dengan peran Tapis. Sebagai simbol adat, Tapis berfungsi “ngehukum adek” , yakni menegakkan dan mengingatkan pada aturan adat. Setiap motifnya adalah pengingat visual akan hukum dan nilai yang harus dijunjung tinggi. Ia juga “nengah nuwowoh” , hadir di tengah masyarakat untuk menumbuhkan rasa kebanggaan dan identitas budaya.
Kekayaan motif Tapis juga menjadi penanda identitas kemargaan. Setiap marga besar di Lampung, seperti Pubian, Sungkay, atau Java, seringkali memiliki kekhasan motif, warna, atau teknik sulam tertentu pada Tapis mereka. Kekhasan ini menjadi semacam signature visual, sebuah cara untuk mengekspresikan pesenggiri marga tersebut dan membedakannya dari marga lainnya.
Pengetahuan tentang motif tertentu ini diturunkan dari generasi ke generasi dalam satu marga, seringkali tercatat dalam ingatan kolektif maupun catatan keluarga, menjadi dokumen kuno non-tekstual yang hidup. Seorang perempuan yang mahir menenun Tapis dengan motif marganya tidak hanya dihargai sebagai perajin, tetapi sebagai penjaga martabat dan sejarah keluarganya. Ia adalah living library yang menjaga nyala api identitas kelompoknya.

Baca Juga :  Seri Buku: Makanan Khas Lampung. Kue Engkak dan Nemui Nyimah, Manisnya Menyambut Tamu. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Di tengah gelombang modernisasi dan produksi massal, Tapis tidak kehilangan relevansinya. Justru, nilai filosofisnya semakin bersinar.
• Simbol Resistensi Budaya: Tapis tangan yang dibuat dengan proses tradisional menjadi simbol perlawanan terhadap homogenisasi budaya. Ia mewakili ketahanan dan kebanggaan akan identitas lokal.
* Media Diplomasi Budaya: Dalam event-event internasional, Tapis sering menjadi duta budaya Indonesia, menyampaikan pesan tentang kekayaan filosofi dan nilai luhur Nusantara tanpa perlu banyak kata-kata.
* Inspirasi tanpa Batas: Nilai-nilai Piil Pesenggiri yang terkandung dalam Tapis, seperti kesabaran, ketekunan, dan perhatian pada detail, menjadi inspirasi bagi semua lapisan masyarakat, termasuk para profesional dan seniman modern, untuk menjalani hidup dan karier dengan lebih bermartabat.
Kain Tapis Lampung adalah bukti bahwa nilai-nilai luhur tidak hanya hidup dalam kata-kata dan tindakan, tetapi juga dapat dirajut menjadi sebuah mahakarya visual yang abadi. Ia adalah perwujudan dari seluruh esensi Piil Pesenggiri: kesabaran dalam prosesnya, martabat dalam hasilnya, keramahan dalam motifnya, dan semangat komunitas dalam tradisinya. Dengan memahami makna di balik setiap helai benangnya, kita tidak hanya mengapresiasi sebuah kerajinan tangan, tetapi sedang membaca kitab suci yang menuturkan cara hidup bermartabat ala masyarakat Lampung. Dalam denyut motif-motifnya, jiwa Piil Pesenggiri terus hidup dan berbicara, melampaui zaman.

Baca Juga :  Seri Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun (Pengantar dari 6 sesi Tulisan). Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Astuti, T. M. (2019). Symbolic Meanings in Lampungese Tapis Embroidery: A Semiotic Study. Indonesian Journal of Social Sciences. (Artikel Jurnal Digital Terverifikasi)
2. Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandar Lampung: Mandar Maju. (Buku Format Fisik)
3. Yulifar, L. (2017). Tapis Lampung: Kain Berharga Seribu Nilai. Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung. (Buku Format Fisik/Digital)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini