nataragung.id – Pemanggilan – Ada manusia yang memandang hidup dari sisi beban, sehingga setiap nikmat yang Allah titipkan berubah menjadi alasan untuk mengeluh. Padahal, sering kali beban itu hanyalah bayangan yang mengiringi cahaya nikmat. Seperti pohon yang tinggi, semakin menjulang ke langit, semakin panjang pula bayangannya di bumi.
Di sebagian negeri, beban itu bernama pajak. Di negeri lain, ia berganti nama menjadi denda, retribusi, atau aturan yang tak kalah berat. Nama boleh berbeda, tetapi hakikatnya sama: kehidupan di dunia tidak pernah dipisahkan dari tanggung jawab.
Maka, jangan biarkan hati sibuk menghitung apa yang keluar, hingga lupa mensyukuri apa yang telah Allah masukkan ke dalam kehidupan kita.
Jika engkau mengeluh karena pajak kendaraan, berhentilah sejenak. Pandanglah kendaraan itu dengan mata syukur. Betapa banyak kaki yang masih berjalan di bawah terik matahari, sementara engkau telah diberi kemudahan untuk menempuh perjalanan.
Jika engkau mengeluh karena pajak ketika makan di rumah makan, ingatlah bahwa masih ada saudara-saudara kita yang menahan lapar, bukan karena sedang berpuasa, tetapi karena memang tidak ada yang dapat mereka santap. Keluhanmu lahir dari meja yang penuh hidangan, sedangkan doa mereka lahir dari perut yang kosong.
Jika engkau mengeluh karena pajak bumi dan bangunan, renungkanlah bahwa Allah telah memberimu tempat berteduh. Berapa banyak manusia yang setiap malam memandang langit sebagai atap dan tanah sebagai kasur, sementara engkau mengeluh di dalam rumah yang kokoh.
Bukankah mungkin apa yang hari ini engkau keluhkan, dahulu adalah doa yang engkau panjatkan dengan linangan air mata pada sepertiga malam? Dahulu engkau memohon rezeki, kendaraan, rumah, dan keluasan hidup. Kini Allah mengabulkannya, lalu hati lupa bahwa setiap nikmat membawa amanah.
Syukur bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan atau berhenti menyampaikan kritik yang benar. Syukur adalah menjaga agar keluhan tidak memadamkan cahaya nikmat. Sebab hati yang dipenuhi syukur akan melihat bahwa setiap karunia selalu datang bersama tanggung jawab, dan setiap tanggung jawab menjadi ringan ketika dipikul dengan iman.
Maka, sebelum lisan mengucapkan, “Mengapa aku harus membayar?”, biarkan hati terlebih dahulu berbisik, “Alhamdulillah, Allah masih mempercayaiku memiliki sesuatu yang harus kujaga.”
Karena sesungguhnya, nikmat yang disyukuri akan menjadi tangga menuju ketenangan, sedangkan nikmat yang hanya dikeluhkan perlahan akan kehilangan manisnya, meskipun jumlahnya semakin bertambah.
“Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang lebih banyak menghitung nikmat-Mu daripada menghitung beban hidup kami, dan jangan Engkau cabut rasa syukur dari hati kami sebelum Engkau cabut nyawa dari jasad kami.” (*/308).
WaAllahu A’lam
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Tinggalkan Balasan