MIMBAR JUM’AT – Manusia dan Potensi Diri. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – NATAR – Tak dapat dipungkiri bahwa manusia memiliki potensi yang berbeda, dengannya ia dapat mempertahankan kehidupan. Tak satupun manusia dilahirkan kecuali ia memiliki potensi.

Tapi sehebat apapun seseorang pasti memiliki kekurangan, sebab tak ada yang sempurna di dunia ini. Ini juga yang harus kita pahami.

Sebagian kita dititipi Allah potensi pada harta dan tahta. Sebagian lainnya pada skill dan jasa.

Sebagian kita ada yang jika diajak berangkat shalat jamaah ke masjid sangat susah, tapi jika dimintai sumbangan kadang tidak perhitungan.

Dan sebaliknya, sebagian kita ada yang rajin berangkat ke masjid, tak pernah absen shalat berjamaah dan selalu duduk di shaf depan, tapi dalam urusan infaq sangat susah.

Sebagian kita ada yang bila diajak pengajian rutin lesu, bawaannya ngantuk dan tidak semangat. Tapi bila diajak membuka lahan baru dakwah, terjun ke pelosok-pelosok sangat semangat bahkan bisa berhari-hari.

Sebagian kita ada yang bila diminta menghapal Quran, membaca buku dan duduk lama berdzikir terasa berat dan tidak mampu. Tapi ringan tangan, bila dimintai bantuan tidak pernah nolak

Baca Juga :  Mimbar Jum'at : Tiga Jalan Keselamatan dan Tiga Jalan Kebinasaan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Sebagian lainnya, fasih membaca Alquran, hapal banyak dari surat-suratnya, betah berlama-lama duduk di masjid. Tapi dalam hal menolong orang lain sangat berat.

Ada orang yang kalau diserahi tugas mengatur dan mengkoordinir kegiatan ia mahir dan mumpuni, tapi kalau diserahi memegang uang ia tak mampu mengelolanya.

Itulah sebabnya kelak di hari kiamat masing-masing orang dipanggil dari pintu amal yang menjadi kekhususannya di dunia. Ada yang dipanggil dari pintu shalat, pintu shadaqah, pintu jihad dan pintu-pintu lainnya.

Ini isyarat dan sekaligus pengakuan beliau saw atas keberagaman potensi, bahwa seseorang tidak boleh dicelah cuman karena ada kelemahan di satu sisi sementara di sisi lain ia ada kelebihan.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

Baca Juga :  MUTIARA JUM'AT : Sabar, Jangan Terburu-buru. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ « نَعَمْ . وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ »

Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : 5 Amalan Pahalanya Setara Ibadah Haji. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari no. 1897, 3666 dan Muslim no. 1027)

Demikianlah keadaan manusia. Seseorang tidak dapat dipaksa mengerjakan sesuatu yang bukan skill dan kecenderungannya. Pemimpin yang jeli adalah mereka yang dapat melihat setiap potensi yang ada pada prajuritnya lalu memberikan tugas sesuai denga relavansinya.

قُلۡ كُلّٞ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَنۡ هُوَ أَهۡدَىٰ سَبِيلٗا

Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.
[Surat Al-Isra’, Ayat 84].

*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini