nataragung.id – Pemanggilan – Dalam perjalanan hidup ini, setiap manusia berada di persimpangan antara keselamatan dan kebinasaan. Ada jalan yang mengantarkan kepada ridha Allah dan kebahagiaan abadi, dan ada pula jalan yang menyeret kepada kehancuran dunia dan akhirat.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah memberikan petunjuk yang begitu jelas, agar kita tidak tersesat dalam memilih jalan tersebut.
Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:
( ثلاثٌ مُنْجِيَاتٌ، وثلاثٌ مُهْلِكاتٌ :
فأما المُنْجِياتُ : فتقوى اللهِ في السِّرِّ والعلانيةِ، والقولُ بالحقِّ في الرِّضَى والسَّخَطِ، والقَصْدُ في الغِنَى والفقرِ، وأما المُهْلِكاتُ : فهوًى مُتَّبَعٌ، وشُحٌّ مُطاعٌ، وإعجابُ المرءِ بنفسِهِ، وهي أَشَدُّهُنَّ)
“Ada tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga perkara yang membinasakan.
Adapun yang menyelamatkan adalah: bertakwa kepada Allah dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, berkata benar dalam keadaan ridha maupun marah, dan bersikap pertengahan (tidak berlebihan) dalam keadaan kaya maupun miskin.
Adapun yang membinasakan adalah: hawa nafsu yang diikuti, sifat kikir yang ditaati, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri, dan itulah yang paling berat di antara ketiganya.” (HR. dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Takhrij Al-Misykat no. 5049)
Tiga perkara yang menyelamatkan adalah pondasi kokoh bagi seorang mukmin. Takwa, baik dalam kesendirian maupun di hadapan manusia, adalah tanda kejujuran iman. Ia tidak hanya takut kepada pandangan manusia, tetapi lebih takut kepada pengawasan Allah yang tidak pernah lalai.
Kemudian berkata benar, baik dalam keadaan senang maupun marah. Sebab seringkali kebenaran tergelincir ketika emosi menguasai. Orang yang selamat adalah yang lisannya tetap jujur, tidak dipengaruhi oleh hawa perasaan.
Dan yang ketiga adalah bersikap pertengahan, tidak berlebihan ketika kaya dan tidak melampaui batas ketika miskin. Ia hidup dengan seimbang, tidak tertipu oleh dunia dan tidak pula putus asa karena kekurangan.
Namun sebaliknya, ada tiga perkara yang menjadi sebab kebinasaan. Yang pertama adalah hawa nafsu yang diikuti. Ketika seseorang menjadikan nafsu sebagai pemimpin, maka ia akan terseret jauh dari kebenaran.
Yang kedua adalah kikir yang ditaati, yaitu ketika seseorang lebih mencintai harta daripada kebaikan. Ia menahan hak orang lain, bahkan menahan kewajiban kepada Allah.
Dan yang paling berbahaya adalah kagum terhadap diri sendiri. Inilah penyakit hati yang halus namun mematikan. Ia merasa dirinya paling baik, paling benar, sehingga menutup pintu nasihat dan perbaikan.
Karena itu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyebutnya sebagai yang paling berat di antara ketiganya.
Maka, marilah kita menimbang diri: di jalan manakah kita sedang berjalan, jalan keselamatan atau jalan kebinasaan?
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa, jujur dalam ucapan, dan seimbang dalam kehidupan, serta dijauhkan dari hawa nafsu, sifat kikir, dan penyakit ujub.
Aamiin. []
#KIS
#Shobahul_khair
#Mimbar_Jumat
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

