PSU Pesawaran: Momentum Kedua untuk Menangkap Asa dan Merawat Demokrasi

0

Oleh : Muslihudin (Peracik KOPI)

nataragung.id, Bandar Lampung — Pemungutan Suara Ulang (PSU) di Kabupaten Pesawaran bukan sekadar ritual demokrasi lima tahunan yang diulang karena pelanggaran prosedural. Ia menjelma menjadi panggung penentuan arah masa depan, momen refleksi kolektif, dan ujian kedewasaan politik bagi seluruh elemen masyarakat. PSU kali ini bukan hanya soal siapa yang menang, tapi sejauh mana masyarakat masih percaya bahwa demokrasi bisa menjadi jalan perubahan.

Proses demokrasi di Pesawaran sempat tercoreng. Pelanggaran dalam pemilu sebelumnya menimbulkan luka dan keraguan. Namun, keputusan untuk menggelar PSU adalah bentuk koreksi sekaligus komitmen: bahwa suara rakyat tetap sakral, dan setiap suara layak diperjuangkan hingga titik akhir. Inilah kesempatan kedua—yang tak datang dua kali.

Baca Juga :  RAT KPRI Saptawa 2025 Tegaskan Komitmen pada Transparansi, Teknologi, dan Kesejahteraan Anggota

Harapan rakyat Pesawaran pun sederhana, namun sarat makna: mereka mendambakan pemimpin yang bukan hanya hadir di spanduk dan panggung kampanye, melainkan hadir nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mereka ingin sosok yang tak hanya cakap berbicara, tapi piawai bekerja. Bukan pemimpin yang memburu kekuasaan, tapi yang menghayati jabatan sebagai amanah.

Namun, siapa pun nanti yang terpilih, harus sadar: pekerjaan rumah yang menanti tidak ringan. Ketimpangan pembangunan antar desa masih lebar, pengelolaan dana desa kerap dibayang-bayangi isu transparansi, dan kualitas layanan publik masih menjadi keluhan utama. Ditambah lagi, keresahan generasi muda soal minimnya lapangan kerja dan terbatasnya akses pendidikan berkualitas belum mendapat jawaban konkret. Banjir saat musim hujan dan sulitnya akses kesehatan di wilayah perbukitan menjadi “luka lama” yang terus berdarah.

Baca Juga :  Kolaborasi Multi-Pihak Diperkuat, Lampung Siapkan Diri Jadi Sentra Industri Agro

Ini bukan hanya soal pemimpin. Demokrasi menuntut partisipasi aktif rakyat. Kesadaran politik tak boleh berhenti di bilik suara. Setelah memilih, rakyat harus tetap mengawal, mengkritik, dan memberi arah. Demokrasi yang sehat bukan sekadar soal perhitungan suara, tapi tentang keterlibatan kolektif dalam setiap proses pembangunan.

Untuk itu, siapa pun yang memenangkan PSU harus siap merangkul semua pihak, termasuk lawan politiknya. Karena demokrasi sejatinya bukan soal menang dan kalah, tapi soal bersinergi membangun negeri. Pemimpin yang bijak akan menempatkan rival sebagai mitra berpikir, bukan ancaman kekuasaan.

Baca Juga :  Gubernur Lampung: Saya Berjuang untuk Petani, Mari Dialog Secara Baik

PSU di Pesawaran adalah lembar baru. Jangan kotori dengan ego sektoral dan kepentingan sesaat. Mari jadikan momentum ini sebagai awal dari perubahan struktural dan kultural yang membawa Pesawaran ke arah yang lebih maju, inklusif, dan berbudaya. Karena demokrasi bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjuangan panjang membangun keadilan dan kesejahteraan.

Editor  : Muhammad Arya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini