Membaca Diri, Menemukan Ilahi: Literasi Batin yang Terlupakan. Oleh: Kiagus Bambang Utoyo *)

0

nataragung.id – SIDOMULYO – Di tengah gelombang informasi yang tak henti berdebur, manusia modern tenggelam dalam hiruk-pikuk kata namun kehilangan makna. Kita membaca banyak, menulis cepat, namun jarang merenung. Padahal, manusia diciptakan bukan semata untuk menjadi makhluk kognitif, tetapi makhluk batiniah yang mengenal dan kembali kepada Tuhannya—Ar-Rahman, Dzat yang menciptakan kita dari segumpal tanah dan menghembuskan ruh dari sisi-Nya.

Manusia diciptakan bukan tanpa maksud. Firman-Nya dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56 menjadi pondasi literasi tertinggi: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku.” Inilah misi keberadaan manusia yang seharusnya menjadi roh dalam setiap tulisan, bacaan, dan narasi hidup: ibadah dalam pengertian yang holistik—menyatu dengan kehendak Ilahi.

Literasi dari Langit: Jejak Para Nabi

Para Nabi adalah tonggak literasi langit yang mengajarkan bahwa membaca bukan hanya aktivitas akademik, tapi peristiwa ruhani. Nabi Adam ‘alaihissalam, manusia pertama, belajar nama-nama dari Tuhannya (QS. Al-Baqarah: 31), yang menjadi awal dari pengenalan diri dan dunia.

Baca Juga :  Pendidikan, Warisan Termahal Bagi Anak (Menyambut Hari Anak Nasional ke 41 Tahun 2025) Oleh : Gunawan Handoko *)

Ibrahim ‘alaihissalam memandang langit dan menafsirkan bintang-bintang sebagai ayat, hingga akhirnya menyatakan: “Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi…” (QS. Al-An’am: 79). Ia membaca realitas dan menemukan hakikat.

Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sang penutup Nabi, menerima wahyu pertama bukan di istana, tetapi di gua—dalam sepi, dalam sunyi. “Iqra’!” (Bacalah!) adalah perintah pertama dari langit. Tapi bukan sekadar baca teks, melainkan membaca hidup, semesta, dan diri.

Warisan Salafus Shalih: Menulis untuk Kehidupan

Setelah para Nabi, tongkat estafet ilmu dipegang para salafus shalih. Abu Bakar menuliskan keteguhan. Umar mendokumentasikan keadilan. Utsman menyatukan mushaf, dan Ali menulis hikmah dalam setiap ucapannya. Para imam besar seperti Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Ahmad bukan sekadar faqih, tapi sastrawan spiritual yang memaknai setiap kata sebagai bentuk ibadah.

Baca Juga :  Otonomi Daerah dan Kesejahteraan Rakyat. Oleh : M.Habib Purnomo *)

Mereka menjadikan ilmu bukan semata pengisi kepala, tapi pemurni hati. Mereka tidak sekadar belajar untuk mengerti, tapi menulis untuk menghidupkan umat. Itulah literasi profetik—yang menyatu antara fikir dan zikir.

Kesadaran Baru di Era Digital

Zaman kita hari ini dijejali teknologi, namun gersang dari nilai. Banyak yang membaca untuk menang debat, bukan untuk menangkap hikmah. Banyak yang menulis untuk viral, bukan untuk menyambung cahaya risalah. Di sinilah kita perlu kembali: kepada literasi yang membebaskan dari belenggu ego, yang menanamkan kesadaran bahwa segala ilmu adalah jalan pulang kepada Al-Hakim, Sang Maha Bijaksana.

Literasi batin harus kita hidupkan kembali. Ia tidak sekadar membaca buku, tapi membaca semesta. Ia tidak hanya menulis opini, tapi menulis diri. Sebab ketika batin menyatu dengan fikir, lahirlah kebijaksanaan yang menembus zaman.

Baca Juga :  Wacana Desa Masuk Kota Menguat, DOB Bandar Negara Terancam. Oleh : Gunawan Handoko *)

Jalan Sunyi yang Terang

Literasi spiritual bukan jalan massal yang ramai, tapi jalan sunyi yang terang. Jalan para Nabi, Rasul, dan ulama. Jalan orang-orang yang menulis bukan karena pandai, tetapi karena tunduk. Yang membaca bukan karena ingin tahu, tapi karena ingin pulang.

Maka di tengah kegelapan informasi hari ini, mari kita hidupkan cahaya: membaca dengan hati, menulis dengan ruh, dan hidup dengan kesadaran bahwa semua berasal dari Al-Awwal, dan akan kembali kepada Al-Akhir.

Karena sejatinya, membaca diri adalah menemukan Tuhan, dan menulis tentang-Nya adalah zikir yang tak pernah mati. ***

*) Penulis adalah : Aktifis Sosial Kemasyarakatan, tinggal di Sidomulyo, Lampung Selatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini