Kembali ke Pinggiran. Catatan : Herry Tjahyono *)

0

nataragung.id – JELAJAH NUSANTARA – Jokowi menolak saat diwacanakan menjadi Ketua Umum PPP. Dengan senyum khasnya, ia berkata sederhana: “Saya di PSI saja.”

Sebagian orang mungkin membaca ini sekadar manuver politik. Tapi bagi yang mengikuti jejak Jokowi dari awal, ini bukan sekadar pilihan partai. Ini adalah pilihan jalan hidup. Jokowi–meski pernah berada di puncak kekuasaan–selalu tampak nyaman di jalur sepi, tempat di mana kerja keras lebih berarti ketimbang kemewahan struktur.

Ia berangkat dari mebel kecil di Solo, masuk politik tanpa dinasti, memimpin kota, lalu provinsi, hingga negeri. Tapi yang paling menarik: ia tetap punya kecenderungan untuk “memulai dari kecil”. Bahkan ketika sudah menjadi besar.

Baca Juga :  Kisah Inspiratif Restu Ramadhan: Anak Desa Saik yang Melampaui Prediksi Masuk Top 6 dan Raih Atribut Photogenic PPKR 2026

Karakter seperti ini–dalam psikologi kepemimpinan–dikenal sebagai “𝗹𝗼𝘄 𝗽𝗼𝘄𝗲𝗿 𝗱𝗶𝘀𝘁𝗮𝗻𝗰𝗲 𝗼𝗿𝗶𝗲𝗻𝘁𝗮𝘁𝗶𝗼𝗻”—pemimpin yang tidak merasa perlu menegaskan jarak atau superioritas (Hofstede, 1984). Dalam budaya Jawa, ini sering disebut sebagai “ngeli, tapi ora keli”: 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘢𝘭𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘢𝘳𝘶𝘴, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘳𝘢𝘩.

Dengan memilih PSI–partai yang belum besar, belum stabil, bahkan belum tentu lolos parlemen–Jokowi seperti mengulang fase awalnya di Solo. Ia seolah ingin kembali ke meja sederhana, mendengarkan suara-suara kecil, mengasah ide tanpa beban sejarah partai besar.

Baca Juga :  Pubian Telu Suku Lampung Tengah

Apakah ini langkah politis? Mungkin. Tapi juga ada dimensi filosofis yang tak bisa diabaikan: bahwa kekuasaan bukan soal di mana engkau berada, tapi untuk siapa engkau bekerja. Dan dari partai kecil inilah, ia mungkin sedang mengirimkan pesan: besar itu bukan soal struktur, tapi tentang keberanian memulai lagi.

Bagi bangsa, karakter seperti ini penting. Di tengah politik yang sering lapar kekuasaan, seorang mantan presiden yang justru nyaman di partai kecil memberi pelajaran: bahwa kerendahan hati dan keberanian membangun dari bawah tak pernah usang sebagai sebuah nilai.

Baca Juga :  Pulau Miangas, Tapal Batas Indonesia yang Lebih Dekat ke Filipina

𝘐𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯. 𝘐𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪.

—𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗿𝘂𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗯𝘂𝗸𝗮,
𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗸𝗲𝗰𝗶𝗹, 𝗮𝗴𝗮𝗿 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗺𝗲𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝘀𝗮𝗿 : 𝗿𝗮𝗸𝘆𝗮𝘁.

Herry Tjahjono ✍️
*) Penulis adalah Profesional (Former), CEO Perusahaan Swasta, Penulis Buku, Kolumnis KOMPAS.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini