nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Warga masyarakat di Provinsi Lampung, khususnya warga asli suku Lampung, tentu sudah amat familier dengan Siger Lampung.
Siger yang biasa dikenakan oleh wanita/gadis (muli) dalam berbagai kegiatan adat, sesungguhnya mengandung beragam simbol, makna serta asal-usul sejarah keberadaannya
Sejarah dan Asal-Usul Siger Lampung.
Siger adalah mahkota emas khas adat Lampung yang dipakai perempuan dalam upacara pernikahan dan adat, berasal dari dua tradisi besar: Pepadun (lembah/sungai) dan Saibatin (pesisir).
Terdapat dua jenis utama berdasarkan jumlah lekukan:
* Siger Pepadun: sembilan lekukan, melambangkan sembilan marga “Abung Siwo Megou” .
* Siger Saibatin: tujuh lekukan, masing-masing mewakili gelar adat (Sultan, Batin, Radin, dll.).
Lebih jauh, beberapa penelitian akademis menyebut varian lima lekukan (sigokh tuha) berasal dari masa Hindu-Buddha Kerajaan Sekala Brak, sedangkan elemen serupa cadar pada Saibatin berasal dari pengaruh Islam Banten, Cirebon .
Simbol Sosial, Budaya, dan Spiritual.
a. Identitas Sosial dan Status.
Sebagai mahkota adat, siger menandai status peran seseorang: jabatan adat, kematangan, kesuburan, martabat keluarga. Tradisi melarang perempuan belum menikah memakai siger, menegaskan simbolisme peran perempuan dalam keluarga.
b. Filosofi Kehormatan dan Kekerabatan.
Siger menyiratkan nilai-nilai filosofis khas Lampung seperti piil-pusanggiri (harga diri), juluk-adok (gelar sesuai sikap), nemui-nyimah (keramahan), nengah-nyampur (kerjasama), dan sakai-sambaian (saling tolong).
c. Nilai Spiritual & Alam.
Tanduk pada siger dianggap menyerap kekuatan dari alam (tanduk kerbau), mencerminkan hubungan spiritual dan keseimbangan alam, digambarkan sebagai simbol kesucian, kebijaksanaan, kesabaran, keberanian, dan persatuan.
Fungsi dalam Identitas Masyarakat Kontemporer.
a. Penegasan Kebanggaan Lokal di Era Global.
Menara Siger di Bakauhuni menjadi simbol visual penting, “Gerbang Lampung” yang tampil di media sosial, cendera mata, dan promosi daerah. Hal ini mengukuhkan “Ulun Lampung” dalam arus global.
b. Soft Power Budaya dan Ekonomi Kreatif
Motif siger diintegrasikan ke dalam desain busana, kerajinan, genteng, dan souvenir, baik untuk turis maupun pasar daring, mendukung identitas sekaligus ekonomi lokal.
Interaksi dengan Kebijakan Pemerintah.
a. Perda dan Regulasi Pelestarian Budaya.
* Perda Lampung No. 2/2008 & 27/2014 mewajibkan penggunaan simbol budaya (tapis, siger) dalam bangunan publik .
* Di Bandar Lampung, perda No. 65/2010 menetapkan standar siger pada fasad gedung, besar, berbahan logam/cat emas, tatah hias khas, dengan sanksi administratif bagi yang melanggar.
b. Pendidikan Muatan Lokal.
Siger menjadi materi muatan lokal di sekolah, namun sering dihafal secara formal tanpa pemahaman mendalam akan nilai dan sejarahnya. Kurangnya pelatihan guru menyebabkan simbol itu kehilangan konteks kritis.
Tantangan di Isu Kekinian.
a. Digitalisasi dan Estetika Konsumer.
Siger muncul di filter Instagram, TikTok, baju, aksesoris kekinian. Hal ini meningkatkan visibility, namun berisiko kehilangan nilai sakral dan produsen lokal bertransformasi jadi produsen massal tanpa cerita budaya.
b. Pergeseran Nilai Generasi Muda.
Generasi muda mempertanyakan hierarki patriarkal di balik siger, struktur Pepadun dominan laki-laki, serta eksklusivitas gelar dan adat. Ada tuntutan inklusivitas gender dalam simbol budaya.
c. Pariwisata Komersial vs Otentisitas Budaya.
Menara Siger sering jadi latar komersial, komersialisasi simbol kultural tanpa penguatan nilai spiritual asli, mengundang kritik bahwa akar budaya hanyalah background untuk selfie.
d. Konflik Antara Adat dan Hukum Negara.
Proyek perkembangan wilayah adat terkadang dilakukan tanpa partisipasi masyarakat lokal. Simbol adat seperti siger dipakai untuk legitimasi wawasan agraria, tapi tidak diimbangi pengakuan hukum tanah ulayat.
Respons Generasi Muda: Revitalisasi dan Inovasi.
* Komunitas kreatif memodernisasi siger ke dalam bentuk tas, bros, miniatur, memperluas jangkauan melalui e-commerce.
* Tari-tarian kontemporer, seperti tari Cangget yang menggabungkan elemen siger, tampil di festival nasional sebagai identitas hybrid modern–tradisional.
* Namun, sebagian menolak jika simbolisme dianggap diskriminatif, patriarkal, atau menjauhkan dari estetika masa kini, celah diskusi dan reformasi budaya terbuka.
Peran dalam Tata Kelola Sosial Saat Krisis.
a. Konflik Agraria dan Legitimasi Tanah Adat.
Siger dipakai sebagai simbol klaim leluhur, sangat penting dalam konflik agraria, terutama sawit dan tambang. Simbol ini menjadi alat argumentasi legal dan moral dalam menuntut hak ulayat sebagai warisan kolektif.
b. Isu Lingkungan & Solidaritas Komunitas.
Nilai “sakai-sambaian” memicu inisiatif lokal seperti huma (ladang sistem terasering) bersama dan penanaman pohon pelindung. Simbol sier kesenian menjadi titik penggerak komunitas untuk menjaga lingkungan, menghidupkan tradisi gotong royong dalam tantangan lingkungan modern.
Kesimpulan Argumentatif.
Siger Lampung bertahan bukan karena daya estetik, tapi karena instrumen aktif budaya, melayani:
1. Identitas kolektif dalam era global: menegaskan “Ulun Lampung” di tengah homogenisasi budaya nasional.
2. Sistem nilai sosial dan spiritual: menyuarakan piil-pusanggiri, sakai-sambaian, struktur sosial, dan relasi antar-gender.
3. Kekuatan simbolik dalam politik budaya: dipakai dalam perda, pendidikan, dan pelegalan wilayah adat.
4. Rentan terhadap komersialisasi: digitalisasi dan pariwisata mengikis nilai sakral simbol.
5. Element reformasi budaya: generasi muda mengkritisi struktur patriarkal, memulai inklusivitas simbol, dan menjaga keseimbangan antara konservasi dan transformasi.
Rekomendasi Pro-Kultural dan Inklusif.
1. Pelatihan etnografi untuk guru lokal, agar muatan lokal lebih mengena dan bermakna.
2. Regulasi adaptif dan partisipatif, memastikan masyarakat adat dilibatkan dalam pelaksanaan perda.
3. Pendampingan UMKM digital lokal, menjaga kualitas dan cerita budaya produk siger.
4. Dialog lintas generasi, mencakup perspektif feminis dan modern dalam simbol.
5. Revitalisasi simbol ke ranah keberlanjutan, misalnya melalui kampanye lingkungan berbasis nilai siger.
🔖 Daftar Pustaka Singkat
* Berlia & Bangsawan, Historisitas dan Filosofi Siger pada Masyarakat Lampung https://www.sayyesido.com/post/siger-lampung?utm_source https://en.wikipedia.org/wiki/Lampung_people?utm_source. https://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/ijitp/article/view/9308?utm_source
* Salsabila Asyifa, Makna Simbolik Siger Lampung (Kumparan, 2024) https://kumparan.com/salsabila-asyifa/makna-simbolik-siger-lampung-24AW7oAmTQ8?utm_source
* Wira Buana University, Siger: Simbol Keagungan dan Integrasi https://wirabuana.ac.id/artikel/siger-simbol-keagungan-identitas-dan-integrasi-sosial-budaya-masyarakat-lampung/?utm_source
* Tribratanews Lampung, Bentuk, Makna, Penggunaan Siger https://tribratanews.lampung.polri.go.id/detail-post/siger-lampung-simbol-khas-lampung-bentuk-makna-dan-penggunaan?utm_source
* Katakini.com, Makna Tujuh Lekukan Siger Saibatin https://www.katakini.com/artikel/117379/ini-makna-tujuh-lekukan-pada-siger-lampung/?utm_source
* IPHEDIA, Simbol Siger dalam Arsitektur dan Souvenir
* Wikipedia, Siger Tower dan Lambang Provinsi Lampung https://en.wikipedia.org/wiki/Siger_Tower?utm_source
* Wikipedia, Lampung People – Filosofi Hidup https://en.wikipedia.org/wiki/Lampung_people?utm_source
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

