Seri Buku: Makanan Khas Lampung. Sambal Asam dan Sakay Sambayan, Pedasnya Gotong Royong. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di sebuah tiyuh (kampung adat) di wilayah adat Pubian, Lampung Tengah, hiduplah sekelompok masyarakat dari berbagai marga dalam naungan Pepadun, golongan adat Lampung pedalaman yang menganut sistem kepemimpinan musyawarah dan pencapaian gelar. Mereka hidup dengan damai, bertani di ladang, dan menangkap ikan di sungai.
Namun suatu musim, kemarau panjang melanda. Sawah mengering, kebun layu, dan ikan-ikan di sungai mulai sulit ditemukan. Warga mulai resah. Persediaan makanan menipis. Beberapa keluarga bahkan mulai bertengkar soal pembagian air yang tersisa.
Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan, seorang Punyimbang, tetua adat yang disegani karena kebijaksanaannya, memanggil seluruh warga ke balai adat.
“Anak cucuku,” katanya dengan suara tenang namun tegas, “kemarau ini menguji kita. Tapi ingatlah, leluhur kita mengajarkan Sakay Sambayan, gotong royong dan tolong-menolong. Justru di saat sulit seperti inilah kita harus bersatu, bukan bercerai.”
Beliau lalu mengajak semua warga untuk mengumpulkan apa pun yang masih tersisa dari kebun dan ladang. Ada yang membawa ikan kecil hasil tangkapan di anak sungai, ada yang membawa buah kemang, kerabat mangga yang masam segar, dari pohon yang masih tersisa, ada pula yang membawa cabai dan rempah dari pekarangan rumah.
“Hari ini kita akan membuat sambal asam kumbang bersama,” kata Punyimbang itu sambil tersenyum. “Ikannya sedikit, tapi sambalnya pedas dan segar. Dengan nasi secukupnya, kita akan kenyang bersama. Tidak ada yang makan sendirian, dan tidak ada yang kelaparan.”
Maka berkerjalah seluruh warga bahu-membahu. Yang muda memanjat pohon kemang, yang tua membersihkan ikan, yang lainnya mengulek cabai dan rempah di atas cobek batu. Dari dapur-dapur adat, tercium aroma harum bawang, terasi bakar, dan rasa asam khas kemang yang menggugah selera.

Sambal asam kumbang adalah salah satu kuliner tradisional khas Lampung yang hingga kini masih diwariskan dari generasi ke generasi. Keunikan sambal ini terletak pada penggunaan buah kemang, buah dari keluarga Mangifera, masih satu keluarga dengan mangga, namun memiliki rasa yang jauh lebih asam dan aroma yang sangat khas.
Berbeda dengan sambal pada umumnya yang hanya mengandalkan cabai dan garam, sambal asam kumbang mendapatkan kekayaan rasanya dari perpaduan sempurna antara bahan-bahan lokal. Buah kemang yang matang tetapi belum terlalu lunak diulek bersama cabai, bisa cabai merah besar untuk warna merah menggoda atau cabai rawit untuk tingkat kepedasan lebih tinggi, lalu dicampur dengan bawang merah, bawang putih, terasi bakar, garam, dan sedikit gula aren.
Hasilnya adalah sambal dengan tekstur kasar namun menyatu, menghadirkan sensasi segar yang menggugah selera. Tidak seperti sambal pada umumnya yang hanya mengandalkan rasa pedas, sambal ini memiliki lapisan rasa: asam dari kemang, pedas dari cabai, gurih dari terasi, dan sedikit manis dari gula aren.

Bagi masyarakat Lampung, sambal asam kumbang bukan sekadar pelengkap makanan. Ia adalah bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Biasanya disajikan sebagai pendamping ikan bakar, terutama di wilayah Lampung Tengah, atau ayam panggang, bebek goreng, hingga lalapan sederhana seperti timun dan kemangi.
Yang menarik, sambal ini sering dibuat dengan tingkat kepedasan cukup tinggi, sesuai dengan selera masyarakat Lampung yang dikenal menyukai makanan pedas. Namun dalam konteks kebersamaan, tingkat kepedasan itu justru menjadi metafora kehidupan: tantangan yang harus dihadapi bersama, rasa ‘pedas’ yang akan terasa lebih ringan jika ditanggung bergotong royong.
Cerita tentang sambal asam kumbang dan perjuangan warga kampung melewati kemarau panjang tak lepas dari falsafah Sakay Sambayan, salah satu pilar utama dalam Pi’il Pesenggiri, pandangan hidup masyarakat adat Lampung.

Baca Juga :  Buku Seri - Nengah Nyappur, Seni Merajut Silaturahmi dan Memperluas Pergaulan. Seri – 2: Tepak Sirih, Pengikat Yang Retak. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Apa itu Sakay Sambayan? Secara harfiah, sakay berarti memberikan sesuatu kepada orang lain dalam bentuk barang atau jasa, meskipun di kemudian hari ada imbalan, sementara sambayan berarti memberi tanpa pamrih, murni untuk kepentingan bersama, tanpa mengharap balasan.
Dalam Pi’il Pesenggiri, Sakay Sambayan mengandung ajaran: senang tolong-menolong dan bergotong royong dalam hubungan persaudaraan dan kekeluargaan, sehingga persoalan bersama dapat diselesaikan pula secara bersama-sama.
Nilai ini sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Lampung dari kedua golongan adat, baik Pepadun maupun Saibatin (golongan adat pesisir yang menganut sistem hierarkis), dan menjadi landasan dalam membangun relasi sosial. Dalam kondisi kritis sekalipun, masyarakat Lampung terus saling menjaga dengan menggaungkan falsafah Sakai Sambayan.
Masyarakat adat Lampung menyadari bahwa Sakai Sambayan merupakan prinsip kerja sama atau kebersamaan yang sangat penting karena mengedepankan konsep gotong-royong.

Dalam penelitian tentang aktualisasi nilai Pi’il Pesenggiri dalam upacara adat Lampung, Sakai Sambayan tercatat sebagai nilai yang paling menonjol, teraktualisasi melalui gotong royong dalam mempersiapkan segala keperluan bersama, juga sebagai wujud toleransi, kepedulian lingkungan, dan kepedulian sosial.
Dalam kitab adat Kuntara Raja Niti, yang digunakan oleh para Punyimbang masyarakat Lampung dan ditulis pada era Majapahit, terdapat petuah tentang pentingnya Sakay Sambayan. Pada pasal-pasal tertentu dalam kitab ini diatur tentang prinsip Pi’il Pesenggiri dalam berbagai lapisan masyarakat, dan Sakai Sambayan menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh elemen.
Salah satu petuah yang sering dikutip dalam tradisi lisan adalah: “Sakai sambayan ghik jadi penjaga tiyuh. Hilang sakai sambayan, hilang kekuatan adat.”
Kurang lebih artinya: “Gotong royong menjadi penjaga kampung. Hilang gotong royong, hilang kekuatan adat.”
Analisis sederhana dari kutipan ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Lampung, Sakay Sambayan bukan sekadar nilai pelengkap. Ia adalah fondasi yang menopang eksistensi kampung adat itu sendiri. Tanpa gotong royong, kampung akan rapuh. Tanpa kebersamaan, adat tak akan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan, baik bencana alam, paceklik, maupun konflik sosial.
Inilah yang membuat Sakay Sambayan dianggap sebagai salah satu “kekuatan sosial masyarakat Lampung”. Nilai ini tidak hanya relevan di masa lalu, tetapi terus dihidupkan hingga kini, termasuk dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat secara bersama-sama antara warga, aparat, pemerintah, tokoh adat, dan tokoh agama.

Baca Juga :  Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 8 – PERAN PEMERINTAH, ANTARA KOMITMEN DAN KENYATAAN. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Apakah nilai Sakay Sambayan ini sejalan dengan ajaran Islam? Sangat sejalan. Bahkan, nilai ini merupakan cerminan langsung dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah tentang tolong-menolong dan persaudaraan.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 2:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًاۗ وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْاۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tuḫillû sya‘â’irallâhi wa lasy-syahral-ḫarâma wa lal-hadya wa lal-qalâ’ida wa lâ âmmînal-baital-ḫarâma yabtaghûna fadllam mir rabbihim wa ridlwânâ, wa idzâ ḫalaltum fashthâdû, wa lâ yajrimannakum syana’ânu qaumin an shaddûkum ‘anil-masjidil-ḫarâmi an ta‘tadû, wa ta‘âwanû ‘alal-birri wat-taqwâ wa lâ ta‘âwanû ‘alal-itsmi wal-‘udwâni wattaqullâh, innallâha syadîdul-‘iqâb
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitulharam sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya! Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 2)

Ayat ini turun (asbāb al-nuzūl) sebagai petunjuk bagi umat Islam tentang pentingnya kerja sama dalam kebaikan. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini mencakup segala bentuk bantuan timbal balik, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Sakay Sambayan dengan semangat gotong royongnya adalah wujud nyata dari “ta’awun” yang diperintahkan Allah.
Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim No. 2699)

Hadis ini mengajarkan bahwa tolong-menolong bukan sekadar ajaran sosial, tetapi juga ibadah yang mendatangkan pertolongan Allah. Ketika warga kampung bahu-membahu membuat sambal asam kumbang dan berbagi makanan di masa sulit, mereka tidak hanya mengenyangkan perut, mereka juga sedang mengundang rahmat dan pertolongan dari langit.
Selaras dengan itu, nilai Sakay Sambayan juga sangat sejalan dengan sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia. Presiden Soekarno dalam berbagai pidatonya menegaskan bahwa gotong royong adalah kepribadian Indonesia. Beliau menyatakan bahwa jika Pancasila diperas menjadi satu, ia akan menghasilkan satu kata: gotong royong.
Ketika seluruh komponen masyarakat, tanpa memandang marga, tanpa memandang status Pepadun atau Saibatin, bersatu dalam semangat Sakay Sambayan, mereka sedang mengamalkan nilai persatuan yang menjadi fondasi bangsa.
Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga terwujud dalam semangat berbagi. Tidak ada yang makan sendirian saat warga lain kelaparan. Setiap orang mendapat jatah, sekecil apa pun. Inilah keadilan dalam skala kampung, dimulai dari kebersamaan di atas daun pisang, di sekitar cobek berisi sambal asam kumbang.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Menjaga Hubungan Sosial di Tengah Lapar dan Dahaga. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Setelah berjam-jam bekerja bersama, sambal asam kumbang pun siap. Warga duduk melingkar di balai adat. Nasi secukupnya dibagikan. Ikan yang sedikit dipotong kecil-kecil agar semua kebagian. Dan sambal, pedasnya menyengat, asamnya menyegarkan, menjadi bumbu yang menyatukan segalanya.
Sang Punyimbang mengambil sepotong kecil ikan, mencelupkannya ke dalam sambal, lalu berkata:
“Anak cucuku, perhatikan sambal ini. Ia pedas, tapi pedasnya terasa lebih ringan karena kita makan bersama. Ia asam, tapi asamnya terasa lebih segar karena kita buat bergotong royong. Begitulah Sakay Sambayan. Cobaan hidup memang terasa berat jika ditanggung sendiri. Tapi jika kita bekerja sama, bahu-membahu, maka cobaan seberat apa pun akan terasa lebih ringan.”
Warga terdiam merenung. Beberapa orang meneteskan air mata, bukan karena pedasnya sambal, tetapi karena haru. Mereka sadar bahwa di saat sulit, persatuanlah yang menyelamatkan mereka, bukan harta atau kekuatan individu.
Sejak hari itu, warga kampung sepakat untuk selalu mengadakan mengan seruit (makan bersama) setiap kali ada kesulitan melanda. Bukan karena makanan yang melimpah, tetapi justru untuk mengingatkan bahwa di saat kekurangan, gotong royong adalah jalan keluar yang paling utama.
Sambal asam kumbang mengajarkan bahwa rasa pedas dan asam tidak selalu terasa menyakitkan, ia bisa menjadi nikmat jika dinikmati bersama orang-orang yang kita sayangi. Demikian pula cobaan hidup: ia akan terasa lebih ringan jika kita hadapi dengan gotong royong, dengan Sakay Sambayan, bahu-membahu, tolong-menolong, tanpa pamrih.
Mari kita jaga warisan leluhur ini. Di tengah arus individualisme yang semakin deras, semangat Sakay Sambayan harus terus dinyalakan. Seperti sambal yang pedas namun membangkitkan selera, gotong royong mungkin terasa ‘pedas’ di awal, karena membutuhkan pengorbanan dan kerja ekstra, namun pada akhirnya akan terasa manis di hati.
Karena pada hakikatnya, seperti kata pepatah Lampung kuno: “Sakai sambayan ghik jadi penjaga tiyuh”, gotong royong menjadi penjaga kampung. Dan kampung yang terjaga akan menjadi rumah yang aman bagi semua warganya, dari generasi ke generasi, dari Pepadun hingga Saibatin, dari zaman leluhur hingga akhir zaman.

Daftar Pustaka
1. Liputan6.com. (2025). Sambal Asam Kumbang, Kuliner Lampung dengan Aroma Menggugah Selera.
2. Wikipedia. (2019). Piil Pesenggiri – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini