nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah dusun di tepi Way Sekampung, persahabatan lama antara dua keluarga, keluarga Menak Sutan dan keluarga Mas Dipang, retak. Penyebabnya sepele, sebuah kesalahpahaman dalam pembagian hasil kebun lada.
Selama tiga bulan, tidak ada lagi obrolan hangat, tidak ada lagi tawa yang menggema dari rumah ke rumah. Udara di antara kedua rumah terasa berat dan dingin.
Menak Sutan, sebagai yang lebih tua, sebenarnya ingin berdamai, tetapi harga dirinya terasa terluka. Begitu pula dengan Mas Dipang, yang merasa haknya direnggut. Suatu sore, Putri Menak Sutan, seorang gadis bernama Siti, melihat ibunya, Ibu Sutan, dengan tekun menyusun sebuah tepak sirih. Daun sirih hijau segar diatur rapi di atas cerana (wadah), dicampur dengan kapur, pinang, dan gambir.
“Ibu, akan kemana dengan tepak sirih yang begitu indah?” tanya Siti penasaran.
“Ikutilah, Nak. Hari ini kita akan nengah nyappur ke rumah Ibu Dipang,” jawab Ibu Sutan dengan lembut. “Tapi, Bu… bukankah keluarga mereka masih marah?”
“Justru karena itulah kita membawa ini, Putriku. Tepak sirih adalah lidah kita ketika kata-kata tak mampu diucapkan. Ia adalah utusan perdamaian.”
Dengan hati berdebar, mereka berjalan menuju rumah Mas Dipang. Sesampainya di sana, Ibu Sutan tidak langsung masuk. Ia duduk di balai-balai depan rumah, menunggu diizinkan. Ketika Ibu Dipang keluar, wajahnya masih tampak kaku. Ibu Sutan kemudian membuka tepak sirih dan dengan hormat menawarkan selembar sirih yang telah disusun rapi kepada Ibu Dipang.
Dalam keheningan yang penuh arti, Ibu Dipang menerima sirih itu. Ia membejakannya perlahan. Air matanya tiba-tiba menetes. Bukan karena pedasnya sirih, tetapi karena makna di balik pemberian itu. Menerima tepak sirih adalah tanda kesediaan untuk mendengarkan, untuk membuka hati kembali. Pertemuan itu menjadi awal dari rekonsiliasi. Persahabatan yang retak pun berhasil diikat kembali, disatukan oleh simbolisme kearifan yang terdalam dari sebuah tepak sirih.
Dalam masyarakat adat Lampung, kata-kata saja seringkali dianggap tidak cukup untuk menyampaikan pesan yang paling dalam. Di sinilah peran Tepak Sirih atau Puan menjadi sentral. Ia bukan sekadar perlengkapan makan sirih, melainkan sebuah media komunikasi non-verbal yang penuh makna. Filosofi ini tercermin dalam petuah adat yang tertuang dalam Kuntara Raja Niti:
“Sirih penggawa adat, pinang penggawa basa.”
Analisis mendalam terhadap kutipan ini mengungkap lapisan maknanya:
* Sirih penggawa adat: Sirih adalah pemimpin atau pembawa dalam urusan adat. Artinya, hampir tidak ada acara adat yang lengkap tanpa kehadiran sirih. Ia adalah simbol bahwa segala sesuatu yang dilakukan adalah berdasarkan pada tata krama dan aturan yang telah diturunkan oleh leluhur. Kehadiran sirih mengesahkan sebuah pertemuan, mengubahnya dari sekadar kumpul-kumpul biasa menjadi sebuah musyawarah adat yang bermartabat.
* Pinang penggawa basa: Pinang adalah pemimpin dalam tutur kata. Pinang, yang keras, melambangkan keteguhan janji dan kata-kata yang diucapkan. Dalam konteks nengah nyappur, menawarkan pinang berarti menawarkan kesungguhan hati dan komitmen untuk berbicara jujur dan menepati janji.
Dengan demikian, prosesi menawarkan dan menerima tepak sirih adalah sebuah ikrar tidak tertulis. Si pemberi menyatakan niat baiknya yang tulus, sementara si penerima menyatakan kesediaannya untuk mendengarkan dengan hati terbuka. Ritual ini adalah langkah pertama yang krusial sebelum kata-kata diucapkan, yang memastikan bahwa komunikasi akan berlangsung dalam koridor kesantunan dan saling menghargai.
Ketika nengah nyappur dilakukan dalam skala yang lebih besar, seperti dalam kunjungan antarkampung atau penyambutan tamu agung, komunikasi simbolis itu diwujudkan dalam bentuk seni pertunjukan: Tari Cangget dan Tari Adok. Kedua tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah narasi budaya yang hidup.
1. Tari Cangget: Tarian ini biasanya ditarikan oleh para muda-mudi. Gerakannya yang lincah, penuh semangat, dan dinamis melambangkan jiwa masyarakat Lampung yang gesit dan produktif. Dalam konteks nengah nyappur, Cangget menjadi simbol penyampaian salam dan kegembiraan atas kedatangan tamu. Setiap gerakan tangan yang lentik dan langkah kaki yang teratur mencerminkan keterampilan sosial dan kemampuan untuk bergaul dengan luwes. Sebuah legenda dari marga Pubian menyebutkan bahwa dahulu kala, Tari Cangget digunakan untuk menyambut pahlawan yang pulang dari medan perang, sebuah bentuk nengah nyappur tertinggi untuk menghormati jasa sang pahlawan.
2. Tari Adok: Jika Cangget merepresentasikan semangat, Tari Adok (atau Tari Bedana) mencerminkan kelembutan dan kesantunan. Ditarikan dengan gerakan yang lebih kalem dan gemulai, tarian ini sering kali menggambarkan prosesi mempersembahkan sesuatu, seperti tepak sirih, kepada tamu. Gerakan mendekat dan menjauh yang penuh hormat dalam tarian ini adalah visualisasi dari filosofi nemui nyimah (menerima tamu) dan nengah nyappur (mendatangi tamu). Tari Adok adalah perwujudan dari kata-kata yang diucapkan dengan penuh tatakrama, sebuah bahasa tubuh yang mengatakan, “Kami menghormati kedatangan Anda dengan sukacita dan kerendahan hati.”
Setiap elemen yang hadir dalam ritual nengah nyappur sarat dengan pesan.
* Busana Tradisional (Tapis): Kain Tapis yang bersulam emas bukan sekadar menunjukkan status ekonomi. Setiap motifnya memiliki makna. Motif pucuk rebung (tunas bambu) melambangkan kerukunan dan pertumbuhan yang baik, harapan agar silaturahmi yang dijalin dapat berkembang subur. Memakai Tapis dalam acara adat adalah bentuk piil pesenggiri; menunjukkan bahwa kita menghormati orang lain dengan tampil sebaik-baiknya.
* Senjata Tradisional (Terapang): Terapang atau pisau adat yang diselipkan di pinggang, sering kali dianggap sebagai simbol kejantanan. Namun, dalam konteks nengah nyappur, maknanya lebih dalam. Terapang yang masih tersarung rapi melambangkan kesanggupan untuk melindungi, bukan untuk menyerang. Ia adalah janji bahwa dalam pergaulan ini, kita hadir sebagai pelindung dan penjaga keamanan bersama, bukan sebagai ancaman. Ini selaras dengan prinsip sakai sambayan (tolong-menolong).
* Ritual “Adok” (Mempersembahkan Sirih): Seperti dalam cerita fiksi di atas, ritual mempersembahkan sirih adalah puncak dari komunikasi simbolis. Cara menyampaikannya, ekspresi wajah, dan sikap tubuh saat melakukannya menyampaikan pesan yang lebih dalam daripada kata-kata. Menerima sirih tersebut bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah pembicaraan yang sejati. Sebuah naskah kuno dari silsilah keluarga Penyimbang di Sungkai menyebutkan, “Bageimi kuwa sirih, bagendo kuwa jama.” yang artinya “Yang pertama adalah sirih, yang berikutnya adalah bawaannya (maksud hati).” Ini menegaskan bahwa setelah kesepahaman dibangun melalui simbol (sirih), barulah maksud dan tujuan sebenarnya (jama) dapat disampaikan dengan lancar.
Kisah Ibu Sutan dan Ibu Dipang adalah miniatur dari kekuatan nengah nyappur yang diwakili oleh simbol-simbol adat. Tepak sirih berhasil menjadi jembatan di mana kata-kata gagal melakukannya. Ia adalah bahasa universal yang dipahami oleh setiap hati yang masih menjunjung adat. Dalam dunia modern yang dipenuhi oleh komunikasi digital yang cepat dan seringkali hambar, kearifan Lampung dalam “berbicara” melalui Tari Cangget, Tari Adok, dan persembahan Tepak Sirih mengajarkan sebuah pelajaran berharga: bahwa membangun jaringan sosial yang harmonis memerlukan kepekaan, kesantunan, dan kemampuan untuk menyampaikan maksud hati melalui tindakan yang penuh makna. Sebab, sebagaimana diajarkan leluhur, perdamaian yang sejati seringkali dimulai bukan dari perundingan yang rumit, tetapi dari selembar daun sirih yang ditawarkan dengan tulus.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Aman, G. K. (1993). Busana Tapis Lampung: Suatu Kajian Simbolisme. Djambatan: Jakarta.
2. Junus, H. M. (2002). Tata Cara Adat Istiadat Lampung. Penerbit Citra Jaya: Bandar Lampung.
3. Arifin, Z. (2019). Komunikasi Simbolik dalam Tradisi Nengah Nyappur pada Masyarakat Lampung Pepadun. Jurnal Ilmu Komunikasi, 15(2), 145-160. (Tersedia di portal jurnal online terakreditasi).
4. Dokumentasi Video dan Transkripi Wyata Sari (cerita tutur) tentang Asal-Usul Tari Cangget dari Arsip Digital Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

