nataragung.id – Natar – Ada saat dunia terasa lembut, membelai hati dengan kesejahteraan dan tawa.
Namun ada pula masa, ketika langit seolah runtuh, dan dada dipenuhi sempitnya duka.
Di antara dua tepi itulah, Allah menulis kisah jiwa kita, kisah yang tak selalu mudah, tapi selalu bermakna.
Karena andai nikmat itu kekal tanpa jeda, hati akan lupa siapa Pemberinya. Dan andai derita tak pernah reda, ruh akan rapuh kehilangan harap.
Maka, dengan kasih-Nya yang halus, Allah menggilirkan hari-hari, agar kita mengenal makna syukur saat lapang, dan makna sabar saat sempit.
Dialah yang mendidik kita bukan hanya dengan anugerah, tapi juga kehilangan. Bukan hanya dengan tawa, tapi juga air mata.
Setiap pergantian musim hidup adalah madrasah bagi hati,
tempat iman tumbuh, dan cinta kepada-Nya semakin matang.
Maka jangan berduka bila dunia tak memberi sempurna,
karena kekurangan di bumi adalah jembatan menuju kesempurnaan di sisi-Nya.
Dan jangan terlalu tenang dalam bahagia, karena di baliknya ada panggilan lembut agar mata tetap menatap ke langit.
{ لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ }
Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri, [Surat Al-Hadid: 23]
Subḥanallah…
betapa lembut didikan Tuhan, yang menggandeng kita menuju-Nya melalui jalan yang berliku, agar setiap luka menjadi ayat, dan setiap cobaan menjadi tangga menuju kasih-Nya yang tak bertepi. (91)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

