nataragung.id – Bandar Lampung – Di tanah Lampung yang dibingkai gunung dan laut, Ramadhan tidak hanya dipahami sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga sebagai ujian sosial. Lapar dan dahaga bukan sekadar pengalaman fisik, melainkan jalan untuk merasakan denyut kehidupan orang lain. Dalam masyarakat adat Lampung, puasa selalu berkait erat dengan tanggung jawab menjaga hubungan sosial.
Buku ini menyajikan kisah fiksi rakyat yang berakar pada sejarah dan adat marga Lampung, disertai analisis filosofis terhadap nilai-nilai yang hidup di dalamnya. Fokusnya tidak melebar, melainkan menelisik satu inti persoalan: bagaimana Ramadhan membentuk dan memelihara hubungan sosial di tengah keterbatasan diri.
Pada suatu masa di Kampung Way Kanan, hiduplah seorang pemimpin adat Saibatin bernama Minak Ratu Buay Lunik. Ia dikenal sebagai penjaga piil pesenggiri dan penghafal silsilah marga.
Menjelang Ramadhan, ia mengumpulkan warga di tepi sungai yang mengalir dari kaki gunung. Senja memerah, dan udara terasa tenang.
“Puasa,” katanya perlahan, “adalah menahan diri. Tetapi menahan diri bukan berarti memutuskan hubungan.”
Seorang pemuda bertanya, “Bagaimana menjaga hubungan ketika perut lapar dan emosi mudah tersulut?”
Minak Ratu tersenyum. Ia mengutip pepatah lama yang tertulis dalam naskah adat keluarga: “Lidah dijaga, hati ditata, persaudaraan dipelihara.”
Malam itu, warga sepakat untuk saling mengingatkan agar tidak saling menyakiti selama Ramadhan. Jika ada perselisihan, diselesaikan sebelum berbuka. Jika ada kesalahpahaman, dibicarakan setelah tarawih.
Hikayat ini diwariskan turun-temurun sebagai pengingat bahwa puasa adalah latihan sosial, bukan sekadar ritual pribadi.
Masyarakat adat Lampung terbagi dalam dua sistem besar: Saibatin dan Pepadun. Dalam Saibatin, garis keturunan dan hierarki memegang peranan penting. Dalam Pepadun, kepemimpinan dapat diperoleh melalui musyawarah dan pemberian gelar adat.
Akar genealogis masyarakat Lampung sering ditelusuri hingga Sekala Brak. Empat paksi besar, Buay Pernong, Buay Belunguh, Buay Nyerupa, dan Buay Bejalan Diway, menjadi titik mula penyebaran marga.
Dalam manuskrip Kuntara Raja Niti terdapat ungkapan: “Adat itu pagar negeri, dan budi itu sendinya.”
Ungkapan ini menekankan bahwa struktur sosial tidak cukup dijaga oleh aturan, tetapi oleh akhlak. Dalam konteks Ramadhan, akhlak diuji melalui pengendalian diri.
Konsep piil pesenggiri, yang berarti harga diri atau kehormatan, menjadi landasan utama. Namun piil bukan kesombongan. Ia adalah kesadaran bahwa tindakan seseorang mencerminkan martabat marga.
Dalam kondisi lapar dan dahaga, seseorang mudah tersinggung. Di sinilah piil diuji. Menjaga hubungan sosial berarti menjaga kehormatan diri dan keluarga.
Al-Qur’an menyatakan:
Yaa ayyuhal laziina aamanuu kutiba ‘alaikumus Siyaamu kamaa kutiba ‘alal laziina min qablikum la’allakum tattaquun
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183)
Kata “tattaqūn” menjadi kunci. Takwa bukan hanya ketaatan ritual, tetapi kesadaran moral yang memengaruhi perilaku sosial.
Dalam tafsir klasik dijelaskan bahwa takwa mencakup menahan diri dari ucapan buruk. Nabi Muhammad saw. bersabda: “Fa idzā kāna yaumu shaumi ahadikum falā yarfuts walā yashkhab.” (Jika salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak.)
Hadis ini sangat relevan dalam adat Lampung yang menjunjung tinggi tata krama berbicara. Dalam musyawarah adat, suara tidak boleh meninggi. Puasa memperkuat etika itu.
Secara filosofis, lapar menjadi alat pendidikan karakter. Dahaga mengajarkan empati. Ketika seseorang merasakan kekurangan, ia lebih memahami penderitaan orang lain.
Di kampung-kampung Lampung tempo dulu, setiap sore warga berkumpul menjelang berbuka. Mereka duduk melingkar tanpa memandang status.
Tradisi nemui nyimah, yaitu menerima dan menghormati tamu, semakin terasa pada bulan puasa. Rumah-rumah terbuka untuk musafir atau tetangga yang membutuhkan tempat berbuka.
Sakai sambayan, prinsip gotong royong, diwujudkan dalam persiapan makanan bersama. Para perempuan memasak secara kolektif, sementara laki-laki menyiapkan tempat.
Jika terjadi perselisihan antar-keluarga sebelum Ramadhan, para tetua adat akan mengadakan musyawarah untuk mendamaikan. Mereka percaya bahwa puasa tidak akan sempurna jika hati masih menyimpan dendam.
Dalam arsip lisan Buay Pernong terdapat ungkapan: “Puasa tanpa rukun kampung, ibarat perahu tanpa dayung.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa ibadah pribadi harus disertai harmoni sosial.
Menahan lapar dan dahaga adalah pengalaman universal. Namun dalam masyarakat adat Lampung, pengalaman ini diberi makna sosial.
Pertama, lapar menumbuhkan kesadaran akan keterbatasan diri. Kesadaran ini meruntuhkan kesombongan.
Kedua, dahaga melatih kesabaran. Kesabaran memperkecil potensi konflik.
Ketiga, kebersamaan saat berbuka menjadi simbol rekonsiliasi. Tidak ada permusuhan yang dibawa ke meja makan.
Secara sosiologis, Ramadhan berfungsi sebagai mekanisme penyelesaian konflik. Ia memberi ruang refleksi dan mendorong permintaan maaf.
Dalam transliterasi naskah adat Lampung yang disimpan di arsip daerah, terdapat anjuran: “Pada bulan puasa, hendaklah orang tua menasihati yang muda, dan yang muda menghormati yang tua, supaya berkah turun atas negeri.”
Kalimat ini menegaskan pentingnya hubungan antargenerasi.
Sejarah kolonial juga mencatat bahwa masyarakat Lampung memiliki solidaritas kuat dalam menghadapi tekanan eksternal. Solidaritas itu diperkuat oleh tradisi musyawarah dan gotong royong yang semakin intens pada bulan Ramadhan.
Dengan demikian, menjaga hubungan sosial bukan hanya kewajiban moral, tetapi strategi bertahan hidup sebagai komunitas.
Hubungan sosial di Lampung tidak hanya terjadi dalam satu kampung, tetapi juga antarmarga. Pada bulan Ramadhan, kunjungan silaturahmi dilakukan setelah tarawih.
Momen ini menjadi ruang untuk memperbarui ikatan genealogis. Silsilah dibacakan kembali, mengingatkan bahwa semua berasal dari akar yang sama.
Dalam konteks ini, Ramadhan menjadi jembatan sejarah. Ia menghubungkan generasi tua dan muda, serta mempererat persaudaraan.
Menjaga hubungan sosial di tengah lapar dan dahaga adalah inti dari Ramadhan dalam adat Lampung. Puasa melatih pengendalian diri, dan pengendalian diri menjaga keharmonisan.
Melalui kisah Minak Ratu dan jejak sejarah marga Sekala Brak, terlihat bahwa adat dan syariat berjalan seiring. Nilai piil pesenggiri, nemui nyimah, dan sakai sambayan menemukan makna paling nyata dalam bulan suci.
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan makan dan minum. Ia adalah waktu memperbaiki hubungan, memaafkan kesalahan, dan memperkuat persaudaraan.
Seperti pepatah adat yang sering diucapkan para tetua: “Lebih baik kehilangan kenyang daripada kehilangan saudara.”
Selama nilai itu dijaga, selama itu pula adat Lampung akan tetap hidup dalam setiap Ramadhan.
Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Adat Istiadat Lampung. Bandung: Alumni, 1989.
2. Pemerintah Provinsi Lampung. Kuntara Raja Niti: Transliterasi dan Kajian Naskah Adat Lampung. Bandar Lampung: Arsip Daerah Lampung, 1994.
3. Iskandar, Syamsudin. Sekala Brak dan Asal-Usul Marga Lampung. Bandar Lampung: Dinas Kebudayaan Lampung, 2005.
4. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
5. Al-Qur’an al-Karim.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

