Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu-Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan, Yang Tetap di Pegang Teguh Oleh Generasi Penerus Saat Ini. Buku 1 – Jejak Leluhur, Asal Usul Marga Pubian BukukJadi Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di tengah hamparan bukit hijau dan lebatnya hutan Lampung bagian tengah, hiduplah seorang penyimbang muda bernama Sutan Gajah Ratu, pewaris garis keturunan tua dari marga Pubian.
Sutan Gajah dikenal karena keberaniannya menolak kekuasaan raja asing yang hendak menaklukkan wilayah adat mereka.
Ia memilih bertapa selama tujuh musim di kaki Gunung Pesagi untuk mencari petunjuk leluhur tentang cara mempertahankan tanah adat dan nilai budaya.

Suatu malam, di bawah cahaya bulan purnama, ia mendapat petunjuk melalui mimpi: seekor burung Bukuk (burung hutan yang terbang lurus dan tak pernah melengkung jalannya) datang dan hinggap di atas batu datar, lalu berkata dalam bahasa leluhur: “Jadilah seperti aku, Bukuk yang telah Jadi. Yang tegak lurus dan tidak terpecah.”

Ketika ia terbangun, ia pun mengikrarkan janji: bahwa anak cucunya akan hidup mengikuti garis lurus adat, tidak menyimpang dari nilai-nilai luhur, tidak tunduk pada kekuasaan luar yang mengancam moral dan struktur adat.

Sejak hari itu, komunitas yang ia pimpin dikenal dengan sebutan BukukJadi, nama yang menjadi lambang keteguhan, kematangan, dan integritas moral.
Janji itu kemudian menjadi sumpah adat yang diwariskan, dan seluruh anggota marga Pubian BukukJadi hidup menjaga garis itu. Tidak ada yang boleh berkhianat pada nilai musyawarah, kejujuran, dan kesetiaan terhadap adat. Cerita ini masih hidup di antara anak-anak marga hingga hari ini, diceritakan ulang setiap kali begawi adat digelar.

Baca Juga :  Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun. SERI 5: Tantangan dan Transformasi Institusi Penyimbang di Era Modern. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Secara historis, masyarakat adat Lampung terdiri dari dua sistem utama: Saibatin (pesisir) dan Pepadun (pedalaman). Marga Pubian termasuk dalam struktur Pepadun, yang mengedepankan musyawarah, keterbukaan terhadap proses sosial, dan pelantikan penyimbang melalui upacara cakak pepadun.

Marga Pubian BukukJadi merupakan salah satu subkelompok penting dari Pubian Telu Suku, bersama dengan Suku Tatow dan Suku Tegineneng. Mereka bermukim terutama di wilayah tengah Provinsi Lampung, termasuk daerah Kalirejo, Sendang Agung, Gunung Sugih, dan sekitarnya.

Dalam struktur masyarakatnya, marga menjadi satuan sosial utama yang menaungi buay (kelompok keturunan), tiyuh (kampung adat), dan suku. Di atas semua struktur ini berdiri penyimbang adat, yaitu pemimpin adat yang naik melalui prosesi cakak pepadun dan diakui oleh komunitas. Dalam konteks BukukJadi, penyimbang tidak hanya dipilih karena garis keturunan, tetapi juga karena integritas moral dan pengetahuan adat.

Secara linguistik dan filosofis, nama “BukukJadi” berasal dari dua kata:
* Bukuk: berarti tegak, lurus, tidak bengkok
* Jadi: berarti matang, utuh, telah terbentuk secara sempurna

Nama ini tidak hanya sekadar simbol, melainkan juga pedoman hidup. Seorang warga BukukJadi diajarkan sejak kecil untuk menjadi pribadi yang lurus pikirannya, matang tindakannya, dan utuh dalam menjaga adat dan moral.

Baca Juga :  Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 1: Hakikat Pi’il Pesenggiri – Filosofi Dasar Martabat Manusia. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam praktik adat, filosofi ini tercermin dalam berbagai ritual:
* Musyawarah mufakat dalam menyelesaikan konflik
* Konsistensi dalam menyelenggarakan begawi dan cakak pepadun
* Pendidikan moral dan adat kepada generasi muda secara turun-temurun

Dalam struktur adat Pepadun, semua keputusan diambil melalui musyawarah para penyimbang, termasuk pengangkatan gelar, penyelesaian sengketa, hingga pembagian tanah ulayat. Nilai ini memperlihatkan bahwa masyarakat BukukJadi telah menerapkan prinsip demokrasi partisipatif jauh sebelum sistem politik modern diperkenalkan.
Kegiatan seperti begawi, mbangun rumah, dan acara kematian selalu dilakukan secara bersama. Semua warga saling membantu tanpa pamrih. Ini menunjukkan kuatnya nilai solidaritas sosial dalam tatanan adat BukukJadi.

Bahasa Lampung, khususnya dialek Pubian, masih digunakan dalam musyawarah adat, acara begawi, dan komunikasi sehari-hari di kampung. Ini menjadi tameng dari hilangnya identitas.
Kesenian seperti tari pepadun, nyambai, dan alat musik gamelan dan gambus masih menjadi bagian dari upacara adat. Mereka bukan sekadar hiburan, tapi juga media edukasi budaya.

Sumpah adat Uppu-Tuyuk adalah bentuk spiritualitas yang menyatu dalam relasi sosial. Makna “Mak Segangguan, Mak Secadangan” menunjukkan janji yang bersifat abadi, tidak bisa dicabut atau digantikan.

Dalam kepercayaan lokal, leluhur tetap hidup dalam nilai dan ritual. Gunung, sungai, dan batu dianggap sebagai saksi janji. Oleh karena itu, adat BukukJadi mengajarkan keselarasan dengan alam sebagai wujud hormat kepada leluhur.

Baca Juga :  Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 9: Dari Piring Tembaga ke Piring Plastik: Adaptasi Nilai dalam Generasi Digital. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Di era digital, nilai-nilai ini menghadapi tantangan besar:
* Migrasi ke kota dan hilangnya bahasa ibu
* Minimnya partisipasi generasi muda dalam kegiatan adat
* Modernisasi yang kadang meminggirkan nilai kolektif dan spiritual

Namun, relevansi adat tetap kuat, terutama dalam:
* Membangun etika sosial yang jujur, terbuka, dan adil
* Meningkatkan kesadaran ekologis dan relasi spiritual dengan alam
* Menumbuhkan identitas lokal sebagai kekuatan menghadapi globalisasi

Adat bukan sekadar masa lalu. Ia adalah cermin dari kebijaksanaan, penuntun arah dalam menghadapi masa depan. Melalui pemahaman atas sejarah dan nilai-nilai yang dijunjung oleh Marga Pubian BukukJadi, kita bisa belajar bagaimana suatu komunitas dapat bertahan, berkembang, dan tetap bermartabat di tengah perubahan zaman.

Masyarakat adat Lampung, terutama Pubian BukukJadi, menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan hal yang kuno. Ia adalah kekayaan spiritual dan sosial yang layak dijaga, diajarkan, dan diwariskan. Dalam tegaknya Bukuk, dalam utuhnya Jadi, kita menemukan jati diri sebagai bangsa. (*)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini