nataragung.id – Bandar Lampung – Di era digital, seorang arsitek muda keturunan Lampung bernama Arga, merasa terasing dari adat leluhurnya. Ia bekerja di perusahaan multinasional di Jakarta, di mana tuntutan proyek dan budaya kerja yang individualistik membuatnya merasa nilai-nilai kampung halamannya usang.
Suatu malam, menjelang presentasi besar untuk klien internasional, ia bermimpi bertemu dengan leluhurnya, Rio Tengah, seorang pelaut dan saudagar dari Marga Peminggir yang abad ke-17 telah berlayar hingga ke Malaka dan Aceh.
Dalam mimpi itu, Rio Tengah menunjukkan dua benda: sebuah kompas kayu tua dan sebuah smartphone. “Dulu,” kata Rio Tengah, “aku berlayar ke dunia luas dengan berpedoman pada petuah adat sebagai kompas. Bejuluk Beadek membuatku dihormati di pelabuhan asing. Nemui Nyimah membuka pintu kerjasama. Bepappas mencegahku berbuat curang. Kompas ini tidak pernah menunjuk jalan yang mudah, tetapi selalu menunjuk arah yang benar untuk Piil Pesenggiri.”
Rio Tengah kemudian menaruh kompas itu di belakang smartphone Arga. “Alatmu kini lebih canggih, Nak. Tapi kompasnya tetap sama. Tantanganmu bukan melaut di samudra fisik, tetapi di samudra informasi dan budaya global. Apakah kompas leluhurmu masih kaupakai?”
Arga terbangun dengan penuh kesadaran. Ia menggunakan prinsip Nengah Nyappur (bergaul dengan tenggang rasa) dalam menyusun tim presentasi, menerapkan cakak mego secara simbolis dengan bahasa Inggris yang sangat sopan kepada klien senior, dan menunjukkan sikap tunduk (rendah hati) yang penuh percaya diri. Presentasinya sukses bukan hanya karena data, tetapi karena kewibawaan dan etikanya. Arga pun menyadari, kompas itu tidak pernah usang; ia hanya perlu diterjemahkan peta barunya.
Perubahan zaman sering dianggap sebagai musuh tradisi. Namun, bagi nilai-nilai Lampung yang dibangun di atas fondasi Piil Pesenggiri, modernitas justru menjadi medan uji yang memperkuat relevansinya.
Buku kesepuluh, sebagai penutup seri ini, akan menunjukkan bagaimana tata krama Lampung bukanlah artefak museum, melainkan kompas hidup yang dapat menuntun kita di lorong kantor, di ruang virtual, dan dalam interaksi sehari-hari di kota metropolitan. Ini adalah ajakan untuk melakukan alih kode budaya: mengambil esensi nilai dan menerjemahkannya dalam konteks kekinian.
Apa yang harus kita pertahankan? Bukan bentuk ritualnya semata, tetapi inti filosofisnya yang universal. Inilah inti yang harus menjadi fondasi:
1. Piil Pesenggiri sebagai Personal Branding: Dalam dunia kerja, harga diri (Piil Pesenggiri) diterjemahkan sebagai integritas, profesionalisme, dan etos kerja yang kuat. Menyelesaikan tugas dengan baik adalah bentuk kham (prestasi) modern. Seorang karyawan yang menjaga bepappas (rasa malu) tidak akan korupsi, plagiat, atau menyalahi prosedur.
2. Nemui Nyimah sebagai Soft Skill: Keramahan dan kemampuan menerima perbedaan adalah kunci dalam tim multikultural. Menyambut ide baru, mendengarkan dengan seksama (nikok), dan menghargai rekan kerja adalah wujud Nemui Nyimah kontemporer.
3. Nengah Nyappur sebagai Kecerdasan Sosial: Kemampuan berkolaborasi, tidak memaksakan pendapat, dan mencari solusi win-win solution dalam rapat adalah esensi dari Nengah Nyappur dan musyawarah untuk mufakat.
Kitab Kuntara Raja Niti memberikan petuah yang sangat aplikatif untuk menghadapi perubahan: “Adat sai lekang, pusako sai pijah.
Pikiran sai lapuk, paugeran sai sanding.”
“Adat jangan lekang, pusaka jangan pudar. Pikiran jangan lapuk, pedoman harus dipegang erat.”
Analisis mendalam terhadap kutipan ini memberikan paradigma yang seimbang:
* Baris 1: “Adat sai lekang, pusako sai pijah.” Ini adalah peringatan untuk menjaga kelestarian. Namun, “adat” yang dimaksud adalah roh atau prinsipnya, bukan semata-mata bentuk fisiknya yang kaku. Pusaka yang tidak boleh pudar adalah nilai-nilai luhurnya.
* Baris 2: “Pikiran sai lapuk, paugeran sai sanding.” Inilah kunci adaptasi! “Pikiran jangan lapuk” adalah seruan untuk terus belajar, berpikir kreatif, dan terbuka terhadap perkembangan zaman. Namun, kemajuan pikiran ini harus tetap berpedoman (paugeran sai sanding) pada nilai-nilai inti yang dipegang erat. Dengan kata lain, berpikirlah secara modern, tetapi berpegang teguhlah pada etika yang timeless. Ini adalah rumus agar tradisi tidak menjadi fosil, tetapi tetap menjadi kekuatan hidup.
Penerapan di Berbagai Arena Modern
* Di Sekolah/Kampus: Cakak mego diterjemahkan sebagai sikap menghormati guru/dosen dengan tidak memotong pembicaraan, mengirim email yang sopan, dan bertanya dengan santun. Sakai Sambayan (gotong royong) diwujudkan dalam kerja kelompok yang solid.
* Di Tempat Kerja: Sikap tunduk (menundukkan pandangan) dimaknai sebagai sikap rendah hati dan siap mendengarkan atasan atau klien, tanpa kehilangan keyakinan diri. Bejuluk Beadek berarti memahami posisi dan tanggung jawab dalam struktur perusahaan, serta bertindak sesuai peran tersebut.
* Di Media Sosial: Bepappas (rasa malu) adalah filter terkuat sebelum memposting. Apakah unggahan ini akan mempermalukan diri dan keluarga? Nengah Nyappur berarti tidak memaksakan opini dan menghindari cakak bathin (ujaran kebencian) di kolom komentar. Menjadi duta digital yang menyebarkan konten positif tentang budaya adalah bentuk Nemui Nyimah.
* Dalam Keluarga Modern: Sungkeman bisa dimodifikasi menjadi tradisi meminta maaf dan memberikan hormat secara fisik atau verbal di momen tertentu (lebaran, ulang tahun orang tua), menjaga komunikasi yang santun meski tinggal berjauhan.
Tantangan terbesar adalah menghindari dikotomi: merasa harus memilih antara “menjadi modern” atau “menjadi Lampung”. Jawabannya adalah sintesis.
Seorang profesional Lampung kontemporer adalah dia yang:
* Memakai jas rapi untuk presentasi, tetapi memahami filosofi kain tapis yang melambangkan kesucian dan tanggung jawab.
* Berdebat dengan data dalam rapat (ghep beburu), tetapi melakukannya dengan bahasa yang santun dan tidak mematikan (ringkih beghaso).
* Aktif di LinkedIn, tetapi kontennya mencerminkan Piil Pesenggiri: prestasi yang dibagikan dengan rendah hati dan sikap menghargai jaringan.
Perjalanan panjang seri tata krama Lampung ini berakhir dengan sebuah penegasan: nilai-nilai ini bukan beban masa lalu, melainkan perangkat lunak kehidupan (software for life) yang telah diuji selama berabad-abad dan sakit diinstal dalam konteks apa pun.
Seperti Arga dalam cerita dan Rio Tengah leluhurnya, kita semua adalah pelaut di lautan zaman kita masing-masing. Badai ketidakpastian, kabut informasi yang menyesatkan, dan arus individualisme yang kuat akan selalu ada. Piil Pesenggiri dengan seluruh turunan tata kramanya, dari etika bicara hingga bersikap, adalah kompas yang tak lekang oleh karat zaman.
Mari membawanya dalam saku kehidupan kita. Gunakan untuk menavigasi percakapan di grup WhatsApp, rapat kerja, pertemuan keluarga, dan interaksi dengan diri sendiri. Dengan begitu, di manapun kita berada, kita tidak akan pernah kehilangan arah pulang menuju martabat sebagai manusia yang utuh: kompeten tetapi santun, progresif tetapi berakar, global tetapi memiliki jati diri yang teguh. Inilah warisan terbesar yang bisa kita hidupkan dan teruskan.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Kuntara Raja Niti. Kutipan asli dan analisis kontekstual terhadap frasa “pikiran sai lapuk” dapat ditemukan dalam karya akademik “Dari Naskah ke Kearifan Digital: Reinterpretasi Kuntara Raja Niti” (Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Daerah, Universitas Lampung, 2021, tersedia di repositori digital perguruan tinggi).
2. Catatan Perjalanan dan Silsilah Marga Peminggir. Kisah perjalanan saudagar Lampung ke Malaka tercatat dalam “Wawancara dengan Penyimbang Marga Peminggir Talang Padang” yang didokumentasikan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bandar Lampung (2018, arsip penelitian nomor LPPM-UBL/ADAT/2018/007).
3. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju. (Bab penutup mengenai adaptasi nilai adat).
4. Wijaya, Surya. (2020). Piil Pesenggiri di Era 4.0: Modal Budaya dalam Membangun Karakter Generasi Muda. Jurnal Pendidikan Karakter, Vol. 10, No. 2, Universitas Negeri Yogyakarta. (Artikel jurnal terakreditasi nasional yang fokus pada aplikasi modern).
5. Video Dokumenter “Kompas Modern: Anak Muda Lampung di Ibukota” produksi TVRI Lampung (2023) yang menampilkan kisah nyata profesional muda Lampung menerapkan nilai adat di tempat kerja. Tersedia di kanal YouTube resmi TVRI Lampung.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

