nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di sebuah tiyuh (kampung adat) di daerah Lampung Timur, hiduplah sekelompok ibu-ibu yang gemar berkumpul. Mereka bukan sekadar bertukar cerita, tetapi juga menciptakan sesuatu yang hangat, bukan hanya untuk perut, tetapi juga untuk hati. Merekalah yang melahirkan sebuah jajanan tradisional bernama Bebai Maghing.
Alkisah, pada suatu sore, seorang nenek bernama Mak Batin sedang duduk-duduk santai di beranda rumahnya. Anak-anaknya yang sudah besar merantau ke kota, meninggalkannya sendiri. Namun, Mak Batin tak pernah kesepian. Setiap sore, tetangga-tetangganya datang berkunjung, membawa oleh-oleh kecil dari dapur masing-masing. Suatu hari, Mak Batin bertanya, “Mengapa kita tidak membuat sesuatu bersama-sama? Sesuatu yang manis, yang bisa kita nikmati sambil berbincang?”
Maka berembuklah para ibu itu. Mereka menggabungkan beras ketan yang disimpan di dapur, pisang ranum dari kebun belakang, dan gula merah yang disisakan untuk hajatan. Dengan daun pisang sebagai pembungkus, mereka menciptakan sebuah kudapan sederhana. Proses pembuatannya dilakukan sambil duduk-duduk santai, tanpa perlu banyak gerakan, bercanda, tertawa, dan saling berbagi cerita.
Konon, dari kebiasaan duduk santai inilah lahir nama Bebai Maghing. Dalam bahasa Lampung, “bebai” berarti wanita dan “maghing” berarti malas atau sakit. Namun, jangan salah paham, kemalasan di sini bukanlah kelemahan, melainkan sebuah seni untuk melambat dan menikmati kebersamaan. Ada yang menyebutnya juga “biak injak”, yang berarti “berat bangun” atau “susah bangun”. Bayangkan, nikmatnya duduk berlama-lama ditemani secangkir kopi dan sebungkus Bebai Maghing yang masih hangat. Siapa yang rela bangun?
Filosofi di Balik Nama “Wanita Malas”
Nama Bebai Maghing kerap menimbulkan tawa dan keheranan bagi yang pertama kali mendengarnya. Namun, di balik nama yang unik ini tersimpan falsafah mendalam tentang kehidupan masyarakat Lampung. Bebai Maghing mengajarkan bahwa tak setiap waktu kita harus bergerak cepat dan sibuk. Ada momen-momen di mana kita perlu duduk, berhenti sejenak, dan menikmati kebersamaan. Dalam budaya Lampung, waktu santai bersama keluarga dan tetangga justru menjadi saat-saat paling berharga untuk mempererat tali silaturahmi.
Menurut cerita lisan yang diwariskan turun-temurun, Bebai Maghing lahir dari semangat Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Ketika para ibu berkumpul, mereka tak hanya membuat kue, tetapi juga saling memberi perhatian, mendengarkan keluh kesah, dan berbagi kegembiraan. Nilai inilah yang kemudian menjadi cikal bakal tradisi pembuatan Bebai Maghing secara bersama-sama.
Resep dan Cara Menghidangkan Bebai Maghing.
Bebai Maghing terbuat dari bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di dapur tradisional Lampung. Berikut bahan-bahannya: 500 gram beras ketan putih atau hitam, 200 gram gula merah atau gula aren, 350 gram pisang yang sudah matang (biasanya pisang raja atau pisang rejang), garam secukupnya, dan daun pisang untuk membungkus.
Cara membuatnya pun tergolong mudah. Beras ketan dicuci bersih lalu ditiriskan. Pisang dikupas dan dihaluskan. Setelah itu, ketan dicampur dengan gula merah yang sudah diiris tipis, pisang yang dihaluskan, dan sedikit garam. Semua bahan diaduk hingga rata. Adonan lalu dibungkus dengan daun pisang berbentuk bulat atau persegi panjang, kemudian direbus atau dikukus hingga matang. Proses ini sering dilakukan sambil duduk-duduk santai, tak heran jika jajanan ini disebut Bebai Maghing!
Bebai Maghing biasanya disajikan sebagai teman minum kopi atau teh di pagi atau sore hari. Rasa manis dari gula merah berpadu dengan aroma pisang dan gurihnya ketan menciptakan cita rasa yang khas dan sulit dilupakan.
Dalam acara-acara hajatan atau pertemuan keluarga, Bebai Maghing selalu hadir di meja hidangan.
Bebai Maghing dalam Tradisi Silaturahmi.
Bebai Maghing bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah media sosial yang menghidupkan kebersamaan. Pembuatannya hampir selalu dilakukan bersama-sama. Para wanita berkumpul di satu rumah, membawa bahan masing-masing, lalu mulai membungkus dan mengukus sambil bertukar kabar. Ada yang bercerita tentang anaknya yang baru menikah, ada yang tertawa mendengar kisah masa muda. Tak ada paksaan atau pembagian kerja yang kaku, semuanya mengalir alami, seperti irama kehidupan desa yang tenang.
Dalam budaya Lampung yang menjunjung tinggi Nengah Nyappur, keterbukaan dan bersosialisasi, Bebai Maghing menjadi perwujudan nilai itu dalam bentuk kuliner. Sebuah makanan sederhana namun menyatukan. Ritual ini juga menjadi cara bagi masyarakat untuk menjaga hubungan sosial. Di banyak acara, mulai dari arisan, hajatan, hingga syukuran panen, Bebai Maghing selalu hadir.
Seperti yang terungkap dalam Kitab Kuntara Raja Niti, salah satu naskah kuno Lampung yang menjadi rujukan adat, masyarakat Lampung sangat menjunjung tinggi Sakai Sambayan, gotong royong. Dalam kitab itu disebutkan: “Ganjaran bator: (1) ngangas ngudat punyimbang ni mak kurang, (2) Punyimbang ni mak peros hati dilom tiyuh hon, dan (3) Punyimbang ni hipol wat ubat ni diya layin dua ulah bator ni diya.”
Artinya, malunya seorang pemimpin itu: (1) Sirih dan rokok penyimbang tidak kurang, (2) Penyimbang tidak asem hati saat ada hajatan, dan (3) Penyimbang tidak membuat masalah di kampung lain. Nilai ini mengajarkan bahwa dalam setiap hajatan, semangat gotong royong dan keramahan harus senantiasa dijaga, dan Bebai Maghing adalah salah satu wujudnya.
Makna Spiritual dan Nilai-Nilai Luhur.
Dalam setiap kegiatan atau upacara adat yang melibatkan Bebai Maghing, tidak ada hal yang bertentangan dengan syariat Islam. Justru, tradisi ini memperkuat nilai-nilai Islam tentang silaturahmi dan kebersamaan. Menyantap Bebai Maghing bersama-sama adalah bentuk syukur atas nikmat Allah yang melimpah, sekaligus pengingat untuk selalu menjaga hubungan baik antar sesama.
Falsafah hidup orang Lampung yang termaktub dalam Piil Pesenggiri sangat terasa dalam tradisi Bebai Maghing.
Mari kita telaah satu per satu:
Pesenggiri, harga diri dan kehormatan. Membuat Bebai Maghing dengan bahan terbaik untuk tamu adalah bentuk menjaga kehormatan keluarga.
Juluk-Adok, gelar kehormatan. Dalam setiap hajatan, Bebai Maghing menjadi simbol penghormatan kepada para tetua adat dan tamu undangan.
Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Tradisi membuat Bebai Maghing bersama-sama adalah wujud keramahan yang tulus.
Nengah Nyappur, keterbukaan dan bersosialisasi. Bebai Maghing menjadi pemersatu, hadir dalam berbagai acara tanpa memandang latar belakang.
Sakai Sambayan, gotong royong. Pembuatan Bebai Maghing melibatkan banyak orang, mencerminkan semangat kebersamaan yang menjadi jiwa bangsa.
Keselarasan dengan Nilai Pancasila.
Jika kita renungkan, tradisi Bebai Maghing sangat selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Sakai Sambayan adalah cermin sila kelima, keadilan sosial. Nengah Nyappur adalah cermin sila ketiga, persatuan Indonesia. Nemui Nyimah merefleksikan sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab.
Bebai Maghing juga mengajarkan toleransi dan semangat kebangsaan. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, terdapat ajaran “Ganjaran bator” yang mengajarkan tentang toleransi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, peduli lingkungan, dan peduli sosial. Nilai-nilai ini terus hidup dalam setiap hajatan masyarakat Lampung yang menghadirkan Bebai Maghing.
Kini, Bebai Maghing mulai jarang ditemui. Generasi muda lebih akrab dengan makanan kemasan. Namun, di balik bungkusan daun pisang yang hangat itu, tersimpan pelajaran tentang kehangatan silaturahmi dan pentingnya melambat sejenak di tengah hiruk-pikuk dunia modern.
Seperti yang sering saya saksikan saat mudik ke Lampung, ketika seorang ibu menutup kukusan dan tersenyum kecil melihat uap naik dari panci, di sanalah filosofi Bebai Maghing menemukan maknanya. “Kemalasan” terkadang hanyalah bentuk lain dari ketenangan. Melambat bukan berarti berhenti, melainkan memberi ruang bagi hidup untuk terasa lebih penuh.
Menjelang sore, aroma Bebai Maghing yang baru matang masih tercium di udara. Di luar rumah, anak-anak berlarian membawa bungkusan hangat, sementara para ibu mulai membereskan dapur. Uap perlahan menghilang, tapi rasa manis dan hangat itu tetap tertinggal, bukan hanya di lidah, melainkan di hati. Inilah kekayaan budaya Lampung yang harus terus dijaga, agar tidak tergerus zaman. Mari kita lestarikan Bebai Maghing dan kehangatan silaturahmi yang menyertainya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Rasyid, Harun Nur. (2004). Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatra). Direktorat Jenderal Kebudayaan.
2. Fajarwati, R., & Wahyudi, A. (2018). Identifikasi Nilai-Nilai Bimbingan Pribadi Sosial dalam Falsafah Masyarakat Lampung. Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan.
3. Kitab Kuntara Raja Niti. Manuskrip kuno Lampung. Hasil salinan Sutan Ratu Gumanti, 1984.
4. Dimensi Indonesia. (2025). Bebai Maghing, Jejak Rasa dan Cerita dari “Wanita Malas” di Tanah Lampung.
5. Koropak.co.id. (2025). Mengenal Bebai Maghing, Jajanan Lampung dari Ketan dan Pisang yang Sarat Makna.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.