nataragung.id – NATAR – Ngobrol adalah kegiatan yang hampir semua orang melakukannya. Itu karena manusia adalah makhluk sosial dengan tabiatnya.
Ngobrol bisa dilakukan di mana dan kapan saja serta dengan berbagai sarana. Bisa di gardu ronda, di pinggir jalan, di halte, di cafe, warung kopi, di masjid. Di pagi, siang, sore atau malam. Kopdar, lewat gruop WA, FB mesengger, Instagram, line dan lain-lain.
Tema dan bahasannya pun bermacam-macam sesuai dengan strata sosial dan tingkat intlektual pelakunya.
Para politisi ngobrol masalah politik, para ekonom ngobrol masalah ekonomi, pengusaha ngobrol masalah bisnis, pemborong ngobrol masalah proyek. Para ustadz ngobrol masalah iman, mahasiswa ngobrol sekitar mata kuliah. Anak-anak ngobrol masalah mainan, dan lain sebagainya.
Dalam Islam ngobrol itu ada tuntunannya dan dapat dijadikan wasilah untuk menyebarkan kebaikan. Dari sisi tempat, harus yang aman dari fitnah. Tempat-tempat yang mengundang fitnah harus dihindari sebagai tempat ngobrol.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
((إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ)) فَقَالُوا: مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا. قَالَ: ((فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا)) قَالُوا: وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ؟ قَالَ: ((غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ)).
“Jauhilah duduk-duduk di (pinggir) jalan!” Mereka menjawab: “Kadang kami tak bisa menghindarinya ya Rasulullah karena harus berbicara di sana”. Rasul bersabda: “Jika kamu tidak dapat menghindarinya, maka berikan hak-hak jalan!” Mereka berkata: “Apakah hak jalan itu?” Sabda Rasulullah Saw: “Menundukkan pandangan, menahan diri (dari menyakiti orang lain), menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari sisi konten, harus bebas dari memperbincangkan perbincangan yang haram. Tidak boleh ngobrol tentang sesuatu yang mengundang permusuhan dan dosa.
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar. [Surat An-Nisa’, Ayat 114]
Dari sisi siapa yang diajak ngobrol, harus terbebas dari pengaruh buruknya.
Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)
Ada satu lagi yang harus diperhatikan, Bahwa sebagus-bagusnya obrolan, tetap saja ada kekurangannya bahkan kesalahan atau dosa. Sebab itu baginda Rasulullah saw memerintahkan agar kita membaca doa kafarat majlis, sehingga jika ada kesalahan Allah berkenan untuk memaafkannya.
وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( مَنْ جَلَسَ في مَجْلِسٍ ، فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ في مَجْلِسِهِ ذَلِكَ )) رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن صحيح )) .
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak senda guraunya (kalimat yang tidak bermanfaat untuk akhiranya), maka hendaklah ia mengucapkan sebelum bangun dari majelisnya itu, ‘SUBHAANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, AS-TAGH-FIRUKA WA ATUUBU ILAIK’ (Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu); kecuali diampuni baginya dosa-dosa selama di majelisnya itu.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). [HR. Tirmidzi, no. 3433. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih]. **
*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

