nataragung.id – NATAR – Rasa malu adalah bagian dari iman. Ia adalah penjaga akhlak, penuntun adab, dan benteng terakhir sebelum seseorang terjatuh ke dalam jurang dosa.
Jika rasa malu masih hidup dalam diri, maka ia akan menahan lidah dari berkata kotor, menahan tangan dari menyakiti, dan menundukkan pandangan dari yang haram.
Tapi jika rasa malu telah mati, maka manusia pun bebas berbuat apa saja—berbohong, menipu, mencela, bahkan berbuat keji—tanpa ada rasa sesal dan takut pada Allah.
Rasulullah saw bersabda :
(إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)
“Jika Kamu Tidak Malu, Maka Lakukanlah Sesukamu” (HR. Bukhari)
Dalam sabda yang singkat ini, Rasulullah ﷺ menyampaikan sebuah kalimat yang menggugah hati, menyentuh nurani, dan mengandung pelajaran mendalam.
Sebuah kalimat yang seolah menjadi cermin bagi siapa saja yang masih memiliki sebersit iman dan akhlak dalam dirinya.
Ini bukanlah perintah untuk bebas bertindak tanpa batas. Bukan pula ajakan untuk hidup semaunya. Namun ini adalah peringatan tajam — bahwa saat rasa malu telah sirna dari hati manusia, maka tidak ada lagi sekat antara kebaikan dan kemungkaran. Tidak ada lagi pagar yang membatasi antara kehormatan dan kehinaan.
Maka patut menjadi renungan bagi kita…
Saat tangan ini ingin berbuat dosa, tanyakan: “Masih adakah rasa malu kepada Allah?”
Saat lisan ini hendak melukai hati sesama, tanyakan: “Masih adakah rasa malu kepada manusia?”
Dan saat hati ini mulai keras membatu, tanyakan: “Masih adakah rasa malu pada diri sendiri?”
Sebab, bila rasa malu telah hilang, maka manusia tak ubahnya seperti hewan liar yang tak mengenal batas, tak peduli arah, dan tak takut murka Tuhannya. (21)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

