Buku Seri Semangat Sehuyunan, Setawitan, Sebalakan, dan Mak Secadangan. Buku Seri 4 Mak Secadangan: Mewariskan Kearifan dalam Dunia Tanpa Ingatan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Pak Burhan bin Abdullah, seorang tokoh adat sepuh di daerah Talang Padang, Tanggamus, telah mengabdikan hidupnya pada kelestarian nilai-nilai adat Lampung. Di usia 72 tahun, ia masih hafal ratusan petuah adat dan kisah rakyat yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Namun, ia melihat perubahan zaman yang drastis: anak-anak muda kini lebih memilih menonton TikTok daripada duduk mendengarkan petuah tua.

Anak muda sering menyebutnya “kolot,” “ketinggalan zaman,” atau “tidak relevan.” Padahal, dalam dirinya bersemayam makna mak secadangan, nasihat-nasihat adat Lampung yang diwariskan sebagai warisan tak tertulis.
“Kalau tidak kutulis, maka hilanglah semuanya,” gumam Pak Burhan. Maka ia mulai menyusun sebuah kitab digital berjudul Mak Secadangan, berisi kumpulan nasihat, cerita rakyat, dan nilai-nilai adat. Ia belajar menggunakan komputer, dibantu oleh cucunya, Nabila, seorang siswa SMK jurusan Multimedia.

Mak secadangan berasal dari kata “mak” (petuah atau nasihat) dan “secadangan” (yang disiapkan sebagai cadangan hidup). Dalam budaya Lampung, mak secadangan adalah cara leluhur menyisipkan nilai melalui kisah, pantun, atau nasihat harian. Ini adalah bentuk pendidikan informal yang membentuk karakter, bukan hanya pengetahuan.
Pak Burhan mengingat satu petuah neneknya:
“Nak, manusia bukan sekadar ingat, tapi mengenang. Yang mengenang, itulah yang tahu arah.”

Mak secadangan bukan sekadar ucapan, tapi alat navigasi moral. Namun, di era digital, kemampuan untuk mengenang digantikan oleh kemampuan mencari cepat. Kebijaksanaan yang dibentuk dalam waktu dan pengalaman tersingkir oleh konten 15 detik yang cepat viral.

Baca Juga :  Simbol, Makna, dan Asal-Usul Sejarah Keberadaan Siger Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Nabila, cucunya, menyarankan pendekatan baru. “Kita buat channel TikTok, Kek. Biar mak secadangan masuk FYP (For You Page).” Awalnya Pak Burhan menolak, merasa itu menodai kesakralan adat.
Namun setelah diyakinkan, mereka mulai membuat video pendek berisi petuah adat:
* “Jangan malu miskin, malulah kalau kehilangan budi.”
* “Orang pintar kalah oleh yang bijak, sebab bijak tahu kapan harus diam.”
* “Bicara keras tak selalu kuat, yang halus sering lebih mengakar.”

Mereka juga membuat serial video “Cerita Nenek Tengah Malam”, dongeng rakyat Lampung yang dikisahkan ulang dengan animasi sederhana dan narasi suara Pak Burhan. Tanpa disangka, video itu viral.
Banyak anak muda mulai berkomentar:
* “Kakek ini keren, kayak dalang digital!”
* “Gue jadi ingat cerita kakek gue di kampung.”

Pak Burhan mulai menyadari bahwa TikTok, YouTube, dan Reels bukanlah musuh. Mereka adalah medium baru, layar-layar yang bisa membawa warisan lama ke masa depan.
Dalam budaya Lampung, pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah. Ia hadir di sesat (balai adat), di pelataran rumah, di dapur, dan di ladang.

Proses ini disebut muli makhga aghom, pembentukan jiwa melalui pengalaman dan nasihat.
Kini, layar digital menjadi pelataran baru. Namun ada tantangan: algoritma lebih menyukai yang lucu, kontroversial, dan cepat. Sementara mak secadangan butuh waktu, keheningan, dan kedalaman.
Pak Burhan mencoba menjawab ini dengan menyelipkan nilai dalam hiburan. Ia membuat serial “Petuah Satu Menit” dan “Tanya Pak Adat.” Banyak yang mulai mengajukan pertanyaan:
* Apa arti ‘piil pesenggiri’ dalam percintaan?”
* “Kalau kita orang Lampung tapi tinggal di kota, bagaimana cara tetap menjaga adat?”

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 7: Warisan Lisan dan Simbol — Hikmah di Balik Ungkapan Adat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Pak Burhan menyadari bahwa generasi sekarang tidak kehilangan informasi, tetapi kehilangan makna. Segala hal bisa dicari di Google, tapi tidak semua bisa dikenang.
Ia membedakan dua hal:
* Memori Kolektif: dihidupkan melalui ritual, cerita, dan interaksi.
* Budaya Arsip Digital: disimpan, tetapi sering tak dibaca kembali.

Mak secadangan hidup karena diulang, dikisahkan, dan dirasakan. Tidak cukup hanya diunggah. Maka, Pak Burhan menginisiasi Ngupi Mak Adat, siaran live streaming malam Jumat, di mana ia ngobrol santai tentang adat sambil minum kopi dan menjawab pertanyaan dari penonton.

Dalam adat Lampung, tua bukan berarti lemah. Ia adalah penjaga gerbang nilai. Sebaliknya, muda bukan hanya pewaris, tetapi pemikul beban budaya ke depan.
Namun di era digital, algoritma cenderung mengutamakan yang muda, segar, dan baru. Yang tua dianggap lamban, kuno, dan tidak menarik. Pak Burhan menantang ini. Ia membuktikan bahwa tua bukan hambatan, tapi nilai tambah.
Lewat perannya sebagai influencer adat, ia membalikkan stereotip. Anak-anak muda mulai memanggilnya “Opa Digital” dan menyimak tiap petuahnya seperti mendengarkan podcast spiritual.
Pak Burhan menulis dalam kitab digitalnya:
“Adat bukan benda tua. Ia adalah cahaya yang berpindah dari mata ke mata, bukan dari folder ke folder.”

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah. Seri 1: Piil Pesenggiri, Martabat dan Harga Diri dalam Bingkai Iman. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Kini kanal TikTok Mak Secadangan punya 280 ribu pengikut. Banyak komunitas budaya dari daerah lain mengundang Pak Burhan menjadi narasumber. Ia pun bekerjasama dengan platform edukasi digital untuk mengembangkan modul adat interaktif bagi sekolah-sekolah di Lampung.
Kitab Mak Secadangan kini hadir dalam bentuk e-book, audiobook, dan serial video. Setiap cerita dan nasihat disertai ilustrasi dan animasi. Pak Burhan menjadikan dirinya simbol: bahwa adat bukan untuk disembah sebagai fosil, tapi dihidupkan sebagai nafas masa kini.

Seri ini menunjukkan bahwa mak secadangan adalah harta spiritual yang tidak lekang oleh zaman. Di tengah dunia tanpa ingatan, warisan nilai tetap bisa hidup, asalkan disampaikan dalam bahasa yang dipahami generasi kini.
Pak Burhan menjadi simbol bahwa usia dan adat tidak perlu ditinggalkan dalam dunia digital. Sebaliknya, mereka bisa menjadi mercusuar dalam laut informasi yang luas tapi sering tanpa arah.
Era TikTok, YouTube, dan algoritma adalah era baru sesat, tempat anak muda berkumpul, bertanya, dan belajar. Selama ada yang membimbing, seperti Pak Burhan, maka adat Lampung takkan punah. Ia hanya berganti rupa: dari tutur menjadi teks, dari lisan menjadi layar. (*).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini