nataragung.id – Bandar Lampung – Lebaran bagi masyarakat adat Lampung pada masa lampau bukan sekadar hari raya keagamaan. Ia adalah peristiwa adat, ruang pendidikan karakter, dan panggung kebersamaan. Dari dapur hingga sesat, balai adat tempat bermusyawarah, terbentang nilai kerja sama, rasa hormat, dan tanggung jawab sosial yang diwariskan turun-temurun.
Tulisan ini diawali dengan kisah fiksi rakyat sebagai pintu masuk memahami suasana batin masyarakat tempo dulu. Selanjutnya, pembahasan berkembang menjadi uraian filosofis dan analitis mengenai makna adat, peran marga, serta nilai spiritual yang hidup dalam setiap gerak dan tutur masyarakat Lampung.
Konon, pada suatu masa di sebuah kampung tua di tepi Way Semangka, berdirilah sesat kayu yang menjadi pusat kehidupan masyarakat. Kampung itu dihuni oleh keturunan marga yang dipercaya berasal dari seorang tokoh legendaris bernama Minak Puyang Ratu di Pesisir.
Setiap menjelang Lebaran, rumah Penyimbang Tua selalu menjadi tempat berkumpul. Pagi itu, udara masih menyimpan embun ketika suara alu menumbuk padi terdengar dari dapur.
“Pelan, Nak,” ujar Mak Gekh, perempuan sepuh yang rambutnya disanggul rapi. “Setiap tumbukan itu doa. Jangan terburu-buru.”
Di dapur, perempuan-perempuan dari berbagai rumah datang membantu. Mereka menanak beras, memasak gulai, menyiapkan kue khas, dan menata hidangan dalam talam kuningan. Tawa dan cerita masa kecil bersahut-sahutan.
Di halaman, kaum laki-laki membersihkan sesat. Tikar digelar, kain tapis dipasang sebagai hiasan. Penyimbang Tua berdiri memperhatikan, tongkat kayu cendana di tangannya.
“Nanti setelah salat Id, kita berkumpul di sesat. Jangan ada suara tinggi. Ingat, Lebaran bukan hanya memaafkan, tetapi menjaga martabat marga,” pesannya.
Anak-anak yang mendengar hanya mengangguk. Mereka belum sepenuhnya mengerti, tetapi suasana sakral itu perlahan membentuk kesadaran mereka.
Kisah keluarga ini menjadi gambaran tentang bagaimana Lebaran dahulu dijalani: dari dapur sebagai ruang kebersamaan perempuan, hingga sesat sebagai pusat kehormatan laki-laki dan marga.
Dalam masyarakat adat Lampung, dapur bukan sekadar tempat memasak. Ia adalah ruang pembelajaran nilai. Di sanalah anak perempuan diajarkan kesabaran, ketelitian, dan rasa tanggung jawab.
Dalam naskah adat kuno yang dikenal sebagai Kuntara Raja Niti, terdapat ajaran yang berbunyi:
“Adok ni ulun dilihat jak sikap, sikap dilihat jak laku, laku dilihat jak sabar.”
Secara harfiah, kalimat itu berarti: harga diri seseorang tampak dari sikapnya; sikap terlihat dari perilakunya; dan perilaku lahir dari kesabaran.
Analisis terhadap kutipan ini menunjukkan bahwa adat Lampung menempatkan kesabaran sebagai akar dari martabat.
Di dapur, perempuan melatih kesabaran melalui pekerjaan yang tampak sederhana tetapi penuh makna. Menanak nasi untuk puluhan orang bukan hanya keterampilan, melainkan simbol kesiapan melayani dengan tulus.
Kerja sama yang terjalin di dapur mencerminkan filosofi sakai sambayan, yakni semangat gotong royong. Dalam konteks Lebaran, nilai ini menjadi wujud nyata solidaritas sosial. Setiap keluarga, tanpa diminta, saling membantu agar perayaan berjalan lancar.
Jika dapur adalah jantung kehangatan, maka sesat adalah pusat kehormatan. Sesat bukan rumah adat dalam arti tempat tinggal, melainkan balai pertemuan untuk musyawarah dan upacara.
Sejarah lisan menyebutkan bahwa pada abad ke-17, ketika struktur marga mulai tertata, sesat menjadi simbol legitimasi kepemimpinan penyimbang. Di dalamnya tersimpan tambo atau catatan silsilah yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam sebuah manuskrip adat Lampung Pepadun yang disimpan dalam arsip keluarga tua, terdapat ungkapan:
“Sai balak di sesat, sai tuha di pepung, adat dijunjung, piil dipertahankan.”
Artinya: yang besar dihormati di sesat, yang tua dimuliakan dalam pertemuan; adat dijunjung, harga diri dipertahankan.
Kalimat ini menegaskan bahwa sesat adalah ruang hierarki yang tertib.
Saat Lebaran, setelah salat Id, masyarakat berkumpul di sana untuk bersilaturahmi dan bermusyawarah ringan. Tidak ada suara keras, tidak ada senda gurau berlebihan. Setiap tutur diukur.
Nilai ini selaras dengan filosofi piil pesenggiri, yakni rasa harga diri yang luhur. Piil bukan kesombongan, melainkan kesadaran menjaga martabat diri dan marga.
Masyarakat adat Lampung mengenal sistem marga sebagai struktur sosial utama. Di wilayah Pepadun, marga-marga seperti Abung, Tulang Bawang, dan Pubian memiliki sejarah panjang. Sementara di Saibatin, garis keturunan lebih bersifat aristokratis dengan gelar turun-temurun.
Legenda Minak Puyang Ratu di Pesisir mengisahkan seorang tokoh yang datang dari arah laut, membawa ajaran agama dan adat. Ia membagi wilayah dan menetapkan aturan perkawinan serta tata pergaulan.
Dalam silsilah tua yang biasa dibacakan saat upacara, disebutkan:
“Turun temurun jak Minak, jangan lupo asal muasal, adat jadi tali pengikat.”
Ungkapan tersebut bukan sekadar pengingat sejarah, melainkan penguatan identitas. Pada hari Lebaran, pembacaan silsilah kadang dilakukan secara simbolis untuk mengingatkan generasi muda tentang asal-usul mereka.
Analisis historis menunjukkan bahwa struktur marga berfungsi menjaga ketertiban sosial. Lebaran menjadi momentum mempererat kembali hubungan kekerabatan yang mungkin renggang selama setahun.
Setelah pertemuan di sesat, masyarakat saling berkunjung. Tata krama dalam berkunjung sangat diperhatikan.
Anak-anak diajarkan mencium tangan orang tua dengan posisi tubuh sedikit menunduk. Ucapan maaf disampaikan dengan bahasa halus. Dalam tradisi Saibatin, pilihan kata mencerminkan penghormatan terhadap lawan bicara.
Terdapat petuah adat yang sering diulang:
“Bahasa halus cermin hati, hati bersih tanda iman.”
Analisis nilai spiritual dari petuah ini menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan cerminan moral. Lebaran menjadi sarana membersihkan hati sekaligus memperindah tutur.
Dalam perspektif pendidikan karakter, tradisi ini melatih empati, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap hierarki usia.
Dari dapur ke sesat, terlihat pembagian peran yang saling melengkapi. Perempuan menjaga kehangatan dan kelangsungan konsumsi bersama, sementara laki-laki mengatur tata pertemuan adat.
Namun pembagian ini bukan bentuk pemisahan nilai, melainkan harmoni. Dalam filosofi Lampung, keseimbangan disebut sebagai titi gumanti, yakni saling menggantikan dan menguatkan.
Kerja perempuan di dapur dihormati sama seperti keputusan laki-laki di sesat. Tanpa dapur, pertemuan adat kehilangan makna kebersamaan. Tanpa sesat, hidangan menjadi sekadar jamuan tanpa arah sosial.
Lebaran, dengan demikian, menjadi panggung harmoni peran.
Secara spiritual, Lebaran adalah kemenangan setelah sebulan menahan diri. Dalam konteks adat Lampung, kemenangan itu diwujudkan dalam pengendalian sikap.
Puasa melatih kesabaran; adat melatih kesantunan. Keduanya bertemu dalam perayaan Idulfitri.
Nilai tanggung jawab sosial juga tampak dalam kebiasaan berbagi makanan kepada keluarga kurang mampu.
Prinsip nemui nyimah, ramah dan terbuka terhadap tamu, menjadi nyata.
Lebaran bukan sekadar ritual agama, tetapi ruang memperkuat identitas budaya.
Dari dapur ke sesat, terbentang kisah tentang harmoni kehidupan adat Lampung di Hari Lebaran. Dapur mengajarkan kesabaran dan kerja sama. Sesat meneguhkan martabat dan musyawarah. Silaturahmi menumbuhkan empati dan penghormatan.
Melalui kisah fiksi keluarga Penyimbang Tua, kita melihat bahwa adat bukan sekadar aturan lama, melainkan napas kehidupan. Lebaran menjadi ruang belajar lintas generasi.
Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai itu tetap relevan: menjaga tata krama, menghormati tetua, dan merawat kebersamaan marga.
Warisan ini bukan untuk dikenang saja, melainkan dihidupkan kembali dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Adat Istiadat Daerah Lampung. Bandung: Alumni, 1989.
2. Iskandar, Syamsuddin. Kuntara Raja Niti dan Hukum Adat Lampung. Bandar Lampung: Pusat Studi Budaya Lampung, 2005.
3. Pemerintah Provinsi Lampung. Piil Pesenggiri: Falsafah Hidup Orang Lampung. Bandar Lampung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 2012.
4. Raja, A. Zainal Abidin. Sejarah dan Silsilah Marga Lampung. Jakarta: Balai Pustaka, 1978.
5. Tim Peneliti Museum Lampung. Manuskrip dan Tambo Adat Lampung. Bandar Lampung: Museum Negeri Lampung, 2010.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

