Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 7. “Tapis Berbicara: Makna yang Dijahit oleh Ibu-Ibu Adat” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman ketika Bukit Barisan masih menyimpan kabut abadi, hiduplah Putri Bebai dari Keluarga Kedaton. Ia dikenal bukan hanya karena kecantikannya, tetapi karena kesabaran tangannya yang luar biasa. Suatu ketika, musim kemarau panjang melanda, sawah dan ladang mengering, membuat hati masyarakat resah. Putri Bebai pun bersemadi, memohon petunjuk di bawah rimbunnya hutan.
Dalam semadinya, seekor Burung Pungguk (sejenis hantu) yang bijak mendatanginya. “Wahai Putri,” kicau sang burung, “keluh kesahmu kudengar. Ambillah benang dari kapas kebunmu, warnailah dengan daun dan akar hutan, dan jahitlah telapak tanganmu dengan cerita. Setiap tusukan jarum adalah doa, setiap helai benang adalah harapan.” Burung itu lalu memberikan secercah bulu keemasannya yang menyala. “Jadikan ini cahaya dalam jahitanmu.”

Putri Bebai pun memulai sebuah karya besar. Hari demi hari, ia menjahit sehelai kain dengan pola-pola aneh: sulur-sulur berkelok, titik-titik beraturan, dan sinar seperti matahari. Saat kain itu selesai, ia menggelarnya di tanah tandus. Ajaib, dari pola-pola itu, tetesan embun turun membasahi bumi, dan tunas-tunas hijau mulai muncul. Kain itu kemudian dikenal sebagai Tapis Inderapuri, karya pertama yang menjadi cikal bakal semua Tapis Lampung. Putri Bebai mengajarkan bahwa setiap jahitan adalah doa, dan setiap motif adalah bahasa yang dititipkan Sang Pencipta kepada ibu-ibu adat untuk kemakmuran anak cucu.

Tapis Sebagai Naskah Kehidupan dalam Filosofi “Piil Pesenggiri”

Tapis bukan sekadar kain; ia adalah naskah kehidupan yang ditulis dengan benang emas dan sutra. Dalam filosofi Piil Pesenggiri, harga diri, kehormatan, dan martabat, Tapis berfungsi sebagai cermin dan penjaga prinsip itu.
* Motif “Pucuk Rebung” (Tunas Bambu): Melambangkan pertumbuhan, keteguhan, dan kelurusan hati. Dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti, disebutkan: “Adat itu seperti rebung, meski dilingkar ilalang, ia tetap tumbuh ke langit, mencari cahaya.” Analisis: Rebung yang tumbuh lurus ke atas melambangkan tekad untuk selalu memperbaiki diri (sejagat semengan) dan menjaga kelurusan hidup meski dalam kesulitan. Setiap kali seorang perempuan menjahit motif ini, ia sedang mendoakan agar pemakainya memiliki keteguhan hati dan prinsip yang tak mudah patah.
* Motif “Kepala Naga” atau “Bintang Berekor”: Sering disalahpahami sebagai pengaruh luar, padahal dalam kepercayaan lama, ini melambangkan Sanghyang Tunggal, kekuatan kosmik penjaga alam semesta. Sebuah manuskrip Warahan Adat Pepadun menyebut: “Bintang yang jatuh ke bumi, dijahit di pundak, agar semangat tak padam di gelapnya malam.” Analisis: Motif ini, biasanya diletakkan di bagian bahu atau kepala, adalah simbol penjagaan spiritual. Ibu-ibu adat menjahitnya sebagai pelindung bagi anak atau suami mereka dari marabahaya, sekaligus pengingat bahwa manusia harus memiliki cahaya (ilmu dan iman) untuk menerangi jalan hidup.

Baca Juga :  Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu-Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan, Yang Tetap di Pegang Teguh oleh Generasi Penerus Saat Ini Pendahuluan Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ritual Penciptaan Tapis dan Konsep “Betik” (Jahitan Sakral).

Membuat Tapis adalah sebuah ritual panjang yang penuh dengan aturan adat (adat sawwah) dan doa. Prosesnya mencerminkan siklus hidup manusia.
1. Memintal Benang (Menyuluh Uwi): Kegiatan memintal kapas menjadi benang dilakukan beramai-ramai oleh para perempuan di lamban (rumah adat). Saat memintal, mereka melantunkan warahan (nasihat) dan pisaan (pantun) berisi petuah hidup. Suasana ini mencerminkan nilai nemui nyimah (saling mengunjungi dan menerima dengan sukacita) dan kerja sama.
2. Mewarnai Benang (Ngelamak): Pewarnaan menggunakan bahan alam, akar mengkudu untuk merah, tarum untuk biru, kunyit untuk kuning, melambangkan hubungan harmonis dengan alam (bulan sebagai wat dalam alam). Proses ini memerlukan ketelitian dan kesabaran tingkat tinggi, mencerminkan filosofi sakai sambaian (gotong royong) dan bejuluk beadek (saling memanggil dengan gelar adat, yang berarti mengakui peran dan keahlian masing-masing).
3. Menjahit Motif (Ngetap): Ini adalah tahap paling sakral. Sebelum mulai, si penjahit (sang Ibu Adat) akan membersihkan diri dan berdoa. Setiap tusukan jarum yang menyatukan benang emas ke kain dasar dilakukan dengan penuh konsentrasi. Dalam bahasa Lampung, proses ini disebut “Betik”, yang berarti “menanam” atau “menetapkan”. Setiap motif yang “ditanam” adalah harapan yang ingin diwujudkan. Sebuah syair adat Pepadun mengatakan: “Tikam jarum sa’oh dijajah, semangat sai batin ditanam. Berkas cahaya dari jari, masuk ke kain, jadi pelita keturunan.” (Setiap tusukan jarum yang dirajut, semangat Sai Batin ditanamkan. Berkas cahaya dari jari, masuk ke kain, menjadi pelita bagi keturunan.) Analisis: “Cahaya dari jari” adalah metafora untuk energi spiritual, cinta, dan doa ibu yang di transfer melalui karya tangannya. Tapis menjadi benda hidup yang menyimpan “semangat Sai Batin” (jiwa kepemimpinan dan kebijaksanaan leluhur).

Baca Juga :  Buku Seri Semangat Sehuyunan, Setawitan, Sebalakan, dan Mak Secadangan. Buku Seri 4 Mak Secadangan: Mewariskan Kearifan dalam Dunia Tanpa Ingatan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Tapis dalam Daur Hidup: Dari Kelahiran Hingga Pernikahan
Tapis menjadi saksi bisu setiap fase penting dalam hidup masyarakat adat Lampung.
* Kelahiran: Bayi yang baru lahir akan dibungkus dengan Tapis Inuh (kain pembungkus bayi) bermotif sederhana seperti titik-titik (puteri tidur), yang dipercaya melindungi dari roh halus. Ini adalah simbol kasih sayang pertama dari keluarga.
* Pernikahan (Cangget atau Pepancong): Di sinilah puncak ekspresi Tapis. Pengantin perempuan dari kalangan Saibatin akan memakai Tapis Jung Sarat, sarat dengan jahitan emas dan motif penuh, sebagai simbol kemakmuran keluarga dan tanggung jawab besar yang disandangnya. Dalam upacara adat Pepadun, prosesi “Menyuluh Tapis” (memamerkan Tapis) dilakukan. Kain-kain Tapis warisan keluarga dibentangkan, menceritakan silsilah dan prestasi keluarga. Seorang tetua adat akan berkata, “Ini Tapis nenek buyutmu yang pegang kebun lada sepuluh bidang. Jahitannya masih kuat, semoga semangatnya turun padamu.” Analisis: Tapis berfungsi sebagai “sertifikat hidup” yang menautkan masa lalu, sekarang, dan masa depan. Ia adalah pengingat akan tanggung jawab untuk menjaga kehormatan (piil pesenggiri) yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.

Baca Juga :  Nengah Nyappur, Menyatu dalam Perbedaan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Tapis di Zerah Modern: Tetap Berbicara dalam Diam.

Di tengah gempuran budaya global, Tapis tetap “berbicara”. Para ibu-ibu adat dan perajin muda kini tidak hanya menjahit untuk upacara, tetapi juga menciptakan karya dengan makna baru, seperti motif “Gajah Mungkur” (gajah berpaling) yang melambangkan pentingnya melestarikan warisan sambil tetap maju ke depan, atau “Siger Bertiang Tujuh” yang diadaptasi menjadi motif geometris, mengingatkan pada tujuh ajaran adat utama.

Kain Tapis mengajarkan kesederhanaan bukan dalam kemiskinan, tetapi dalam ketidak-berlebihan; kerja keras yang penuh doa dan ketelitian; serta kehormatan keluarga yang dijaga melalui setiap simbol yang diwariskan. Seperti kata petuah tua dari Kerajaan Tulang Bawang yang tertulis dalam Kitab Kuntara, “Adat itu seperti jahitan Tapis, kelihatan di depan, tapi yang menentukan kuat tidaknya adalah tusukan di balik kain.”
Makna sejati dari kehidupan, seperti keindahan Tapis, terbangun dari hal-hal yang tidak terlihat oleh mata: ketekunan, doa, dan niat tulus yang dijalani dengan konsisten dari generasi ke generasi.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Adat Istiadat Lampung Pepadun oleh M.Y. Nun dan kawan-kawan (Penerbit Latifah Press, 1998) – Format Fisik.
2. Naskah: Kuntara Raja Niti dan Warahan Adat – transliterasi dan terjemahan yang disimpan di Perpustakaan Daerah Propinsi Lampung (Koleksi Digital Terverifikasi).
3. Buku: Seni Kerajian Tapis Lampung: Sebuah Kajian Filosofis oleh Siti Hawa S., (Penerbit Universitas Lampung Press, 2005) – Format Fisik & Digital.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini