nataragung.id – Natar – Di antara kunci terpenting dalam menjaga keharmonisan hubungan, baik dalam rumah tangga, persahabatan, maupun kehidupan bermasyarakat, adalah kebijaksanaan dalam berbicara dan bersikap. Tidak semua yang kita rasakan perlu diungkapkan, dan tidak semua yang kita dengar harus ditanggapi. Sebab, lisan yang tergesa sering kali melukai, dan reaksi yang berlebihan kerap meretakkan ikatan.
Islam mengajarkan adab yang halus: menahan diri bukanlah kelemahan, melainkan tanda kedewasaan iman. Ada kalanya diam lebih menyelamatkan daripada berbicara, dan memaafkan lebih menenangkan daripada membalas. Dengan sikap ini, hubungan terjaga, hati tetap lapang, dan persaudaraan tidak terkoyak oleh perkara sepele.
Allah Subḥanahu wata’ala memuji orang-orang beriman yang mampu mengendalikan sikapnya ketika berhadapan dengan hal yang tidak bermanfaat:
> وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian. Salam sejahtera atas kalian, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang bodoh.’” (QS. Al-Qashash: 55)
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua ucapan layak ditanggapi. Berpaling dari hal yang sia-sia adalah bentuk penjagaan diri dan kehormatan hubungan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga menegaskan pentingnya menjaga lisan sebagai wujud keimanan:
> مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi kaidah emas dalam bermuamalah: jika ucapan tidak membawa kebaikan, maka diam adalah pilihan terbaik.
Bahkan, dalam menyikapi kesalahan orang lain, Islam mendorong sikap lapang dada dan memaafkan demi terjaganya keharmonisan:
> وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Maka, tidak mengungkapkan semua yang tidak disukai dan tidak menanggapi semua yang diungkapkan bukanlah bentuk kepalsuan, tetapi kebijaksanaan. Inilah adab orang beriman: menjaga hati, merawat hubungan, dan menimbang setiap kata serta reaksi agar harmoni tetap terpelihara. (KIS/129).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

