Buku Seri : Tradisi Ngejalang, Ziarah ke Makam Leluhur. Seri – 7. Penutup, Menjaga Api Ingatan agar Tak Pernah Padam. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah pekon di kaki Gunung Kemala, hiduplah seorang pemuda bernama Rian. Ia adalah keturunan kesembilan dari Dalom Sai Batin, pemimpin adat yang dihormati. Suatu hari, neneknya bercerita tentang Ngejalang, tradisi ziarah kubur yang telah dilakukan turun-temurun.
“Dulu, Rian,” ujar sang nenek dengan suara bergetar penuh makna, “nenek moyang kita percaya bahwa roh leluhur tidak pernah benar-benar pergi. Mereka masih mendengar doa-doa kita, masih merasakan kasih kita. Ngejalang adalah cara kita menyambung tali itu, menyatukan yang hidup dan yang telah pergi dalam satu doa.”

Rian tertegun. Ia pun memutuskan untuk mengikuti Ngejalang Kubokh tahun itu. Di pemakaman Bah Kandis, ia melihat ratusan orang duduk bersila di atas kasur dan tikar, mengelilingi Pahar berisi hidangan terbaik. Suara Talibun bergema, syair-syair lama berisi nasihat dan doa mengalun khidmat. Di sanalah Rian menyadari: ini bukan sekadar ritual. Ini adalah jembatan.
Ngejalang bukanlah sekadar tradisi tahunan. Ia adalah manifestasi nyata dari falsafah hidup masyarakat Lampung Sai Batin yang dikenal sebagai Piil Pesenggiri. Falsafah ini terdiri dari empat pilar utama:
1. Nemui Nyimah (Santun dan Terbuka).
Terlihat dari sikap masyarakat yang menyambut tamu dan sanak saudara dengan hidangan terbaik di atas Pahar. Seperti dikatakan seorang tetua adat, “Kita tak boleh datang dengan tangan hampa. Hidangan di Pahar adalah simbol syukur dan keterbukaan kita pada tamu dan leluhur.”
2. Nengah Nyappur (Bersosialisasi dan Bermusyawarah).
Proses musyawarah untuk menentukan hari pelaksanaan Ngejalang melibatkan tokoh adat, pemangku, dan ahli waris. Ini mencerminkan nilai kebersamaan dan kekeluargaan yang tinggi.
3. Sakai Sambaian (Gotong Royong dan Solidaritas).
Sehari sebelum acara, seluruh panitia berkumpul untuk membersihkan area kuburan, memasang Kelasa (tenda tradisional), dan menyiapkan hidangan. Tidak ada upah yang diberikan; semua dilakukan dengan sukarela dan penuh kesadaran.
4. Juluk Adek (Penghargaan atas Status dan Prestasi).
Gelar adat seperti Dalom, Batin, atau Minak sangat dihormati dalam prosesi ini. Mereka yang memimpin doa dan memberikan sambutan biasanya adalah para tetua yang menyandang gelar tersebut, menunjukkan penghormatan pada garis keturunan dan kebijaksanaan.

Baca Juga :  Falsafah Hidup Orang Lampung. Seri 4: Sakai Sambayan - Gotong Royong sebagai Ibadah Sosial. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ngejalang terbagi menjadi dua jenis: Ngejalang Pangan (ziarah di masjid) dan Ngejalang Kubokh (ziarah di kuburan). Sayangnya, Ngejalang Pangan telah memudar seiring zaman, sementara Ngejalang Kubokh masih bertahan dengan kuat.
Ritual Ngejalang Kubokh memiliki tahapan yang sarat makna:
1. Persiapan dan Musyawarah:
Ritual dimulai dengan musyawarah pada malam ke-25 atau ke-27 Ramadan. Ini simbol dari Nengah Nyappur, bahwa segala sesuatu harus dimulai dengan kesepakatan bersama.
2. Pembacaan Kalam Illahi:
Doa-doa dari Al-Quran, khususnya Surah Yasin, dibacakan untuk mendoakan arwah leluhur. Ini adalah perpaduan harmonis antara nilai Islam dan adat lokal.
3. Talibun (Syair Adat):
Pantun-pantun berisi nasihat agama dan kehidupan dinyanyikan secara bersahut-sahutan. Talibun berfungsi sebagai pengingat akan petuah leluhur dan pemersatu emosional bagi yang hadir. Sebuah syair Talibun berbunyi:
“Punye mak makmeghani,
Lamo ghepo di atei.
Ngejalang tu pejang jiwa,
Sai nyaknung doa ke Bikhi.”
(Artinya: “Ada kata yang terpendam, Lama tersimpan di hati. Ngejalang adalah penyejuk jiwa, Untuk menyampaikan doa pada Yang Kuasa.”)
4. Hidangan di Atas Pahar:
Makanan yang disajikan bukan untuk dimakan oleh ahli waris, melainkan untuk tamu undangan. Ini melambangkan Nemui Nyimah dan keyakinan bahwa berbagi rezeki dengan orang lain akan membawa berkah dan membuat doa-doa mereka didengar.
5. Makan Bersama di Atas Kuburan:
Aktivitas ini mungkin terasingkan bagi sebagian orang, tetapi bagi masyarakat Sai Batin, ini adalah puncak dari penghormatan. Mereka percaya dengan makan di tempat peristirahatan terakhir leluhur, mereka sedang “berbagi” kehidupan dan menunjukkan bahwa ikatan keluarga tak putus oleh maut.
Masyarakat Gunung Kemala adalah keturunan dari Urang Dunia Bin Silantai Langit dan istrinya, Nur Kemala. Konon, Nur Kemala mengikuti aliran sungai hingga sampai di sebuah gunung dan menetap di sana. Ketika orang-orang bertuju ke mana ia pergi, mereka menjawab, “Mau ke Kemala, di atas gunung.” Dari situlah nama Gunung Kemala berasal.
Silsilah marga di Pekon Gunung Kemala sangat dijaga, dengan gelar adat seperti Dalom, Raja, Batin, Radin, Minak, dan Emas. Gelar ini tidak dapat dibeli dan murni berdasarkan garis keturunan, diawasi ketat oleh Sai Batin marga. Sebuah dokumen kuno keluarga menyebutkan: “Ghepot di lemak, tiyuh di hati.
Adok sai turun, sai jejama di atei.” (Artinya: “Tersimpan di lemari, tersimpan di hati. Gelar yang turun-temurun, yang menyatu dalam hati.”)
Ini menegaskan bahwa gelar adat adalah warisan intangible yang harus dijunjung tinggi, bukan sekadar simbol status.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah. Seri 6: Adat dalam Siklus Kehidupan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ngejalang adalah lebih dari sekadar ziarah. Ia adalah api ingatan kolektif. Setiap Pahar yang dihidangkan, setiap syair Talibun yang dilantunkan, setiap doa yang dipanjatkan, adalah cara sebuah komunitas mengatakan, “Kami tidak melupakan kalian. Jejak kalian masih hidup dalam kami.”
Melemahnya Ngejalang Pangan adalah alarm peringatan. Modernisasi dengan segala kepraktisannya seringkali menggerus hal-hal yang dianggap “ribet”. Namun, kepunahan sebuah tradisi adalah kepunahan sebuah cara memandang dunia, sebuah falsafah hidup, dan akhirnya, sebagian dari jati diri.
Menjaga Ngejalang berarti menjaga Piil Pesenggiri. berarti memelihara api Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Sakai Sambaian, dan Juluk Adek agar terus menyala. Tugas ini tidak hanya berada di pundak tetua adat, tetapi juga generasi muda seperti Rian. Dengan memahami makna di balik setiap ritual, mereka dapat menjadi penerus yang tidak hanya melanjutkan tradisi, tetapi juga menghidupkan kembali roh dan maknanya di zaman yang terus berubah.
Agar api ingatan ini tak pernah padam, diperlukan upaya kolektif: pencatatan yang lebih sistematis, pendokumentasian melalui media, dan yang terpenting, internalisasi nilai-nilai Ngejalang dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, seperti kata pepatah Lampung, “Adat bersendi syara, syara bersendi kitabullah” (Adat bersendikan syariat, syariat bersendikan kitabullah). Ngejalang adalah bukti nyata bahwa kedua hal tersebut dapat berjalan beriringan, membingkai spiritualitas dalam budaya, dan budaya dalam spiritualitas.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 3: Sakai Sambayan, Gotong Royong sebagai Wujud Amal Saleh. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sumber Referensi Terverifikasi (Berdasarkan File):
1. Buku: Soekanto, Soejono. (2012). Hukum Adat Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
2. Buku: Maran, Rafael Raga. (2007). Manusia dan Kebudayaan. Jakarta: Rineka Cipta.
3. Jurnal: Iryanti, Desi & Khocrotun Nisa L. (2016). Representasi Falsafah Hidup Masyarakat Lampung dalam Tradisi ‘Ngejalang’ di Pesisir Barat.
4. Artikel Online: Eva. (2015). Ngejalang, Meriahkan Idul Fitri di Pesisir Barat. HarianLampung.com.
5. Artikel Online: Fisoma, Yon. (2017). Ngejalang Kubokh Di Pesisir Barat Diikuti Oleh Ratusan Warga. Lampost.co.
6. Data Primer: Monografi Pekon Gunung Kemala (2017) dan hasil wawancara dengan informan (Kadarusman, Taniyus Aditi, Hendri Yusri).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini