Apakah Ranking Sekolah Sangat Penting?. Oleh : Gunawan Handoko *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Seorang bocah murid Sekolah Dasar (SD) dengan mengenakan seragam pramuka duduk dihadapan ibunya sambil menyerahkan buku raport yang baru saja diterimanya. Memenuhi permintaan ibunya, sang anak sambil menangis menyebutkan nama murid yang masuk dalam ranking tiga besar. “Ranking satu Uni, ranking dua Meni, ranking 3 adek,” ujar anak yang bernama Safira itu.

Ketika menyebut ranking ketiga, ibunya mendadak marah besar. Ia lantas meminta sang anak menyebutkan siapa nama yang meraih rangking 3. “Adek siapa?” tanya sang ibu dengan suara meninggi dan dijawab dengan lirih, adek Safira. Merasa belum puas, sang ibu minta kepada anaknya untuk menyebutkan lagi dari awal nama-nama peraih ranking itu. Lantas, Safira kembali menyebutkan nama-nama yang masuk ranking satu sampai enam. Tangisan sang anak tidak membuat hati ibu menjadi luluh, justru sebaliknya. Dia terus membentak putrinya sambil bertanya, kenapa cuma dapat ranking tiga, kenapa bisa begitu?.

Pada awalnya, bocah SD ini hanya diam tidak menjawab. Namun hal tersebut justru semakin memancing emosi ibunya. “Kenapa bisa begitu, kenapa?” teriak ibu dengan nada semakin tinggi. Tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana, bocah kecil ini pun dengan polos sambil terus menangis menyebut bahwa ibu gurunya yang memberikan ranking. Sang ibu merasa kesal tak habis pikir, kenapa anaknya hanya mendapat ranking tiga. Padahal, nilai-nilai anaknya selalu bagus, selalu mendapat nilai 100 dan setiap ujian pasti yang pertama kali duluan menyelesaikan. Sang ibu pun lantas membandingkan anaknya dengan murid lainnya yang mendapat ranking satu dan dua.

Baca Juga :  Tahun Baru Tanpa ‘Dar-Der-Dor’.(Menyongsong Tahun Baru 2026). Oleh : Gunawan Handoko *)

Itulah video yang sempat viral di media sosial beberapa tahun lalu, seperti Facebook, Instagram dan Twitter dan mendapat reaksi begitu besar dari masyarakat, orang tua, termasuk para psikolog dan pemerhati pendidikan. Saya pun mencoba melihat berulang-ulang video tersebut sambil menahan air mata, tidak tahan menyaksikan bocah kecil ini. Siapapun kita, khususnya para orang tua tentu akan sangat bangga jika anak-anaknya mendapatkan ranking di kelas atau sekolah. Bahkan tidak jarang para orang tua yang mengunggah foto di akun media sosial disertai narasi ungkapan rasa bangga.

Pada masa kepemimpinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, sistem ranking pernah dihapus sebagai bagian dari diterapkannya Kurikulum Merdeka, dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan mengurangi tekanan pada siswa. Namun, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Muf’ti saat ini sedang mempertimbangkan dan mengevaluasi sistem ranking untuk diterapkan kembali di sekolah. Walaupun sampai sekarang belum ada keputusan resmi, apakah sistem ranking akan diberlakukan kembali.

Abdul Muf’ti hanya menyatakan Pemerintah ingin memastikan bahwa sistem evaluasi pendidikan lebih menyeluruh dan sesuai dengan perkembangan zaman. Yang pasti akan diberlakukan kembali pada tahun ajaran 2025/2026 adalah sistem penjurusan IPA, IPS dan Bahasa bagi sekolah tingkat SMA.

Maka apabila Pemerintah akan memberlakukan kembali sistem ranking di sekolah, perlu dilakukan dengan bijak, jangan sampai menimbulkan tekanan yang berlebihan pada siswa. Sekolah harus memastikan bahwa ranking digunakan sebagai alat evaluasi yang objektif dan tidak menjadi satu-satunya tujuan pendidikan. Penting bagi sekolah untuk mempertimbangkan penuh kehati-hatian, kelebihan dan kekurangan ranking sebelum memberlakukan kembali.

Baca Juga :  Trump Panik, Gotong Presiden Maduro. Oleh : M.Habib Purnomo *)

Diakui memang, bahwa ranking dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih giat dan meningkatkan prestasi mereka, selain sebagai alat evaluasi untuk mengukur kemampuan dan prestasi siswa. Tapi perlu diingat bahwa ranking tidak selalu mencerminkan kemampuan sebenarnya dari siswa.

Jika dalam menempuh pendidikan hanya berfokus untuk mengejar ranking, justru dapat menimbulkan tekanan dan stres pada siswa. Oleh karenanya penting bagi sekolah untuk menggunakan ranking dengan bijak dan tidak menjadikan ranking sebagai satu-satunya tujuan pendidikan. Sesungguhnya sistem ranking bukanlah bagian terpenting dalam pendidikan.

Hakikat pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi dan kemampuan individu, membentuk karakter dan mempersiapkan generasi muda untuk menjadi warga negara yang memiliki tanggungjawab, berakhlak mulia, berilmu dan dapat berkontribusi ditengah masyarakat. Hakikat pendidikan tidak bisa hanya dilihat berdasarkan ranking atau nilai tertinggi, tapi harus dibarengi dengan pengembangan soft skill seperti kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan mengelola waktu.

Jika hanya berfokus pada ranking, justru dikhawatirkan akan kehilangan nilai-nilai yang hakiki dalam pendidikan. Maka sikap yang bijak bagi orang tua adalah mengusahakan agar anak selalu naik kelas dan bergairah dalam menjalani aktivitas sekolah dan aktivitas di lingkungan masyarakat.

Jangan sampai anak kehilangan hak untuk mengenal lingkungan karena hanya fokus belajar. Makna nilai raport hanya sebagai salah satu indikator untuk mengetahui titik lemah, titik unggul dan progres belajarnya, sehingga orang tua bisa tahu di titik mana harus membantu anak. Selebihnya, bantulah anak untuk menemukan bakat dan kelebihannya, memiliki intergritas dan semangat juang pantang menyerah dalam menggapai citanya.

Baca Juga :  Bantuan Banjir dari Pusat Harus Berkeadilan. Oleh : Gunawan Handoko *)

Perlu disadari bahwa proses pendidikan dan pengajaran adalah proses seumur hidup, tidak adil bagi anak jika hanya dinilai dari ranking yang diperolehnya pada semester ini atau semester yang lalu. Nyatanya, banyak yang memiliki prestasi pendidikan gemilang dan selalu meraih ranking tinggi selama menempuh pendidikan, namun ketika memasuki dunia kerja mereka tidak mampu meraih prestasi akibat kurangnya keterampilan praktis yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Keberadaanya di lingkungan kerja hanya sebatas menjalankan apa yang diperintahkan oleh atasan, tanpa berani memberikan gagasan atau berinovasi. Harus disadari bahwa lingkungan sekolah dan dunia kerja sangat berbeda, sehingga keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh di sekolah tidak selalu dapat diterapkan langsung di dunia kerja.

Karena dunia kerja sangat membutuhkan berbagai keterampilan, seperti berkomunikasi, kemampuan untuk memecahkan masalah, tim kerja, kemampuan beradaptasi dan memiliki jiwa kepemimpinan, Maka sekali lagi, penting bagi siswa untuk tidak hanya fokus mengejar ranking, tetapi juga mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang tidak hanya diperoleh melalui pendidikan di sekolah, tapi lebih banyak didapat dari luar sekolah.

*) Penulis adalah : Pemerhati pendidikan dan Ketua KMBI (Komunitas Minat Baca Indonesia) Provinsi Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini