Cakak Pepadun (Pengangkatan gelar adat) Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di suatu malam bulan sabit di tepian Way Kanan, anak lelaki bernama Rimba bermimpi berkelana. Ia tiba di panggung upacara adat, disambut iringan gambang dan gong. Di sana ia melihat seorang pemimpin menaiki singgasana kayu bercahaya, bangku pepadun, dikelilingi keluarga besar. “Engkau kini punyimbang,” kata orang tua adat sambil meletakkan siger di kepala, “itulah gelarmu.” Bangku kayu itu bersinar seperti permata, mengingatkan Rimba akan tanggung jawab kemanusiaan dan budaya yang baru saja dipikulnya.

Tradisi Begawi Cakak Pepadun merupakan ritual pengangkatan seseorang menjadi penyimbang, pemimpin adat masyarakat Lampung Pepadun.

Sebutan “pepadun” merujuk pada singgasana kayu tempat prosesi juluk adok dilakukan.
Gelar yang dapat diperoleh mencakup Suttan, Raja, Pangeran, bukanlah hak kelahiran, namun bisa dicapai melalui kemampuan menggelar upacara adat lengkap.
Prosesi biasanya diselenggarakan di Rumah Sessat dan dipimpin oleh ketua adat tertinggi, didahului permintaan mahar (Dau) dan persembahan kerbau sebagai sesaji.

Tahapan upacara meliputi tarian Cangget, pengangkatan ke pepadun, penobatan gelar, hingga pesta budaya dan doa bersama.
Makna filosofis tradisi ini mencerminkan struktur sosial dan spiritual Lampung Pepadun. Nilai-nilai luhur seperti piil pusanggiri (harga diri & hormat), nemui nyimah (saling melayani tamu), nengah nyampur (aktif sosial), sakai sambaian (saling tolong) terpatri dalam manuskrip Kuntara Raja Niti.

Baca Juga :  Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri - 1 – Sapaan yang Bermakna. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Menurut studi akademik, setiap tahapan simbolik dalam Begawi Cakak Pepadun memiliki nilai spiritual (sesaji kerbau adalah penghormatan kepada leluhur atau Tuhan), nilai moral (pemimpin adat ia harus membuat keputusan bijak), serta nilai sosial (kerja sama seluruhelement masyarakat dalam upacara).
Sebagai nilai estetika dan hiburan, tarian Cangget, pantun, musik tradisional dan gamelan menjadi manifestasi kegembiraan sekaligus instrumen pengingat budaya.

Analisis Setiap Kutipan
1. Singgasana Pepadun dan Juluk Adok (“gelar adat”)
Proses pengangkatan pangkat sosial dengan simbol menaiki bangku pepadun menjadikan ritual itu sangat visual sekaligus sakral. Memanjat ke pepadun bukan sekadar duduk di kursi, itu adalah simbol tanggung jawab dan legitimasi sosial. Pengakuan sosial tak diwariskan otomatis, melainkan melalui ikhtiar ritual dan pengorbanan material.
2. Pemotongan kerbau dan pemberian Dau
Sesaji kerbau dan mahar bukan hanya formalitas ekonomi, melainkan wujud syukur spiritual dan penegasan status. Di satu sisi, ini menguji kesiapan ekonomi calon penyimbang; di sisi lain, ini membentuk hubungan masyarakat melalui ibadah kolektif dan pertemuan simbiotik antara pemberi dan penerima gelar.
3. Prinsip nilai Lampung: piil-pusanggiri, nemui-nyimah, nengah-nyampur, sakai-sambaian
Nilai-nilai ini membentuk kerangka moral dan sosial, pemimpin adat bukan hanya berkuasa, melainkan pelayan masyarakat. Mereka yang piil-pusanggiri akan menjaga harga diri, mereka yang nemui-nyimah terbuka untuk musyawarah, dan mereka yang sakai-sambaian memupuk gotong royong.
4. Nilai relasional dan sosial
Tradisi ini memperlihatkan “relasionalisme nilai”: makna acara muncul dari interaksi banyak pihak, sesepuh, keluarga mempelai, tetua adat, hingga masyarakat umum. Tanpa keterlibatan kolektif, upacara mungkin gagal atau kehilangan makna budaya intrinsiknya.

Baca Juga :  Buku Seri Denda Adat Pepadun Menurut Perspektif Islam. Seri 8 : “Pi’il Pesenggiri: Jalan Lurus Leluhur” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Pada masa kini, ritual Cakak Pepadun menghadapi tantangan: biaya besar (bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah), durasi panjang (dulu hingga 7 hari, sekarang lebih singkat), serta pergeseran nilai budaya. Banyak keluarga muda memilih mereduksi adegan adat demi efisiensi ekonomi, sementara generasi urban cenderung tak memahami simbolisme di balik ritual tersebut.

Oleh karena itu pelestarian ritual ini mendesak. Sugesti akademis merekomendasikan upaya penataan ulang: pemerintah daerah bisa menetapkan Begawi Cakak Pepadun sebagai budaya cagar tanpa membebani masyarakat, mungkin dengan subsidi atau pendokumentasian ritus budaya.

Generasi muda dapat diikutsertakan dalam pendidikan budaya di sekolah atau pesantren, mempelajari filosofi pepadun bukan hanya sekadar tontonan.
Pendidikan budaya juga memungkinkan reinterpretasi: misalnya, sesi simbolik tanpa memerlukan banyak kerbau, atau alternatif simbol sesaji yang lebih ramah lingkungan, tanpa menghilangkan makna spiritual dan sosial yang terkandung.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Menahan Lapar, Menjaga Lisan, Adab Puasa Orang Lampung Dahulu. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Cakak Pepadun bukan sekadar upacara adat melainkan manifestasi filosofi hidup masyarakat Lampung: demokrasi budaya, kepemimpinan kolektif, gotong royong, dan keikhlasan spiritual.

Di zaman serba cepat ini, nilai-nilai tersebut relevan untuk membangun karakter masyarakat yang harmonis dan beradab.
Melalui pelestarian cermat, dengan adaptasi kontekstual, pendidikan budaya, dan regulasi pendukung, generasi mendatang dapat merasakan makna sejarah budaya dan mengambil inspirasi untuk menjaga pluralitas serta identitas lokal.

Seperti dalam cerita fiksi Rimba: gelar Penyimbang bukan hanya simbol kehormatan, tapi panggilan untuk mengabdi pada kemaslahatan masyarakat dan menjaga akar budaya sang Bumi Ruwa Jurai, dua rumpun dalam satu tanah Lampung.

Daftar Referensi:
* Cathrin, S., Wikandaru, R., Veranita Indah, A., Bursan, R. (2021). Nilai Nilai Filosofis Tradisi Begawi Cakak Pepadun Lampung. Patrawidya, Vol. 22 No. 2.
* Artikel online tentang masyarakat adat Lampung Pepadun dan atribut gelar Cakak Pepadun.
* Kuntara Raja Niti dan nilai nilai filsafat Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini