Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 2 , Pi’il Pesenggiri: Harga Diri Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Seri kedua ini menyelami jantung identitas masyarakat Lampung: Piil Pesenggiri. Melampaui sekadar adat, Piil Pesenggiri adalah falsafah hidup yang menjadi kompas moral, mengatur sikap, tutur kata, dan perilaku setiap individu. Buku ini membongkar makna terdalam dari konsep ini melalui cerita rakyat, kutipan kitab kuno, dan analisis filosofis terhadap praktik keseharian serta ritual. Pembaca diajak memahami bahwa bagi orang Lampung, harga diri bukanlah kesombongan, melainkan sebuah tanggung jawab spiritual untuk menjaga martabat diri, keluarga, dan leluhur.

Alkisah, di masa silam, seorang pemuda bernama Ratu Besanding ditantang oleh roh penjaga Bukit Barisan untuk membuktikan kesempurnaan dirinya. Roh itu berkata, “Bawalah aku tiga bukti: bukti dari langit, bukti dari bumi, dan bukti dari dalam jiwamu.”

Ratu Besanding merenung lama. Lalu, ia mengambil sekeping batu berwarna kuning keemasan dan membentuknya menjadi mahkota taji yang runcing, meniru bentuk perahu yang menopang langit. Itulah Siger. “Ini bukti dari bumi,” katanya, “bumi memberikan kita kekayaan, dan kita wajib membentuknya menjadi lambang yang memuliakan.”
Kemudian, ia menanam sebatang bibit pohon di atas bukit itu. “Ini bukti dari langit,” ujarnya. “Pohon ini akan tumbuh karena hujan dan matahari dari langit, dan buahnya akan menjadi lambang kehidupan.” Pohon itu tumbuh subur, batangnya kuat, dan daunnya senantiasa hijau. Pohon itu disebut Daput.

Saat roh penjaga meminta bukti ketiga, Ratu Besanding duduk tegak di bawah pohon Daput, mengenakan Siger di kepalanya, dan berkata lantang, “Bukti dari jiwaku adalah sikap tubuhku yang tegak di bawah naungan langit, tutur kataku yang jujur seperti batang pohon ini yang tak bengkok, dan perilakuku yang memberi manfaat seperti buah pohon ini. Inilah yang kupelihara dalam diriku.”
Roh penjaga pun tersenyum dan berkata, “Kau telah menemukan intinya. Siger adalah lambang lahiriah martabatmu, Daput adalah simbol keteguhan jiwamu. Gabungan sikap lahir dan batin itulah yang akan kupanggil Piil Pesenggiri, harga diri yang berdiri tegak karena dipenuhi dengan kebaikan.”

Sejak saat itu, Piil Pesenggiri menjadi warisan abadi.
Piil Pesenggiri sering disalah artikan sebagai sekadar kesombongan atau keangkuhan. Padahal, konsep ini jauh lebih dalam. Secara bahasa, Piil berarti sikap, perilaku, atau perangai. Pesenggiri berasal dari kata senggiri yang berarti membanggakan atau memuliakan. Jadi, Piil Pesenggiri adalah “sikap dan perilaku yang membanggakan/memuliakan”.

Baca Juga :  Simbol, Makna, dan Asal-Usul Sejarah Keberadaan Siger Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Namun, kebanggaan ini bersyarat. Seseorang hanya layak menyenggirikan (membanggakan) dirinya jika ia telah memenuhi kewajiban adat, moral, dan spiritual. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, pasal tentang kepribadian menyebutkan: “Sai bejuluk beadek, gham adat luah taghei. Sai piil nengah nyappur, gham mufakat mak nuwai. Sai tilik pepandung, gham pekhouh mak nunyai.” “Barang siapa bergelar beradat, haruslah adatnya tumbuh berkembang. Barang siapa bersikap mampu bersosialisasi, dialah yang mufakat dianggap berharga. Barang siapa memiliki wawasan yang dalam, dialah yang disebut mulia.”

Kutipan ini menunjukkan kerangka Piil Pesenggiri: gelar (juluk adek) harus diikuti dengan tumbuhnya kebaikan (adat luah taghei), kemudian dipraktikkan dalam pergaulan (nengah nyappur) untuk mencapai kebijaksanaan (tilik pepandung). Piil Pesenggiri adalah siklus yang aktif: martabat diberikan, lalu harus diisi dengan tindakan nyata, yang pada akhirnya menghasilkan pengakuan sosial.

Falsafah ini berdiri kokoh di atas empat pilar utama yang saling terhubung:
1. Juluk Adek (Gelar dan Tata Krama): Ini adalah identitas sosial seseorang. Dalam sistem marga (kelompok kekerabatan) seperti Pubian, Sungkai, Jabung, atau Semenguk, gelar seperti Rio, Batin, Menang, atau Pangeran bukanlah hiasan kosong. Gelar ini mencatat posisi dalam silsilah dan membawa seperangkat kewajiban. Legenda Umpu Pernong, salah seorang penyebar adat di Sekala Brak, menekankan bahwa “gelar adalah beban di pundak, bukan mahkota di kepala.” Setiap marga memiliki “titi mamangan” (peribahasa/semboyan) yang menjadi pedoman hidup. Misalnya, “Seputih Jukung di Air” pada marga tertentu, yang bermakna kesucian dan keteguhan hati harus dijaga bagai perahu yang putih bersih mengarungi air.
2. Nemui Nyimah (Keramahan yang Tulus): Ini adalah praktik nyata dari harga diri. Seorang yang ber-Piil Pesenggiri tinggi justru akan membuka pintu rumahnya lebar-lebar bagi tamu. “Nyimah” berarti memberi dengan ikhlas, tanpa pamrih. Ritual penyambutan tamu dengan “cangget” (tari adat) dan hidangan terbaik adalah manifestasi dari Nemui Nyimah. Filosofinya: kemampuan untuk memberi adalah bukti kekayaan sejati, baik kekayaan materi maupun kekayaan hati. Sikap pelit atau enggan menjamu dianggap sebagai aib besar yang meruntuhkan harga diri keluarga.
3. Nengah Nyappur (Sosialisasi yang Arif): Kemampuan untuk masuk ke dalam berbagai pergaulan dengan sikap terbuka, sopan, dan bijaksana. Ini bukan berarti mengikuti semua hal, tetapi mampu “nyappur” (bercampur) sambil tetap menjaga prinsip. Dalam konteks adat, hal ini terlihat dalam musyawarah (“mupakat”). Seorang penyimbang atau tetua adat harus mampu “nengah nyappur” dalam perdebatan, mendengarkan semua pihak, dan mengeluarkan keputusan yang adil. Ketidakmampuan bersosialisasi dengan baik dianggap sebagai “kekurangan” yang mengurangi martabat.
4. Sakai Sambayan (Gotong Royong): Pilar ini mengikat individu dengan komunitas. Harga diri seseorang juga diukur dari kontribusinya kepada masyarakat. Membantu membangun rumah (“begawi”), menyiapkan pesta adat, atau mengolah ladang bersama adalah kewajiban moral. Sebuah petuah kuno dalam “Pupuh Khatulistiwa” (naskah syair adat) berbunyi: “Bumi satu ditapak, segendong sa-kandang. Sai tuwah bumilah, sai tuwah jemalah.” “Bumi satu pijakan, seberat beban satu kandang. Siapa yang meninggikan bumi, dialah yang meninggikan dirinya.”
Maknanya sangat dalam: bumi (komunitas) yang kita pijak adalah tanggung jawab bersama. Beban (“segendong”) harus dipikul bersama. Seseorang yang berusaha “meninggikan bumi”, yaitu memperbaiki dan memajukan komunitasnya, pada hakikatnya sedang “meninggikan dirinya” (memperkuat Piil Pesenggiri-nya). Gotong royong adalah investasi sosial untuk membangun martabat kolektif.
Dalam Ritual Perkawinan (Ngemah): Pernikahan adalah panggung agung untuk menegakkan Piil Pesenggiri keluarga. Prosesi “Sorong Sesat” (memberi mas kawin) bukan transaksi ekonomi, melainkan pertukaran martabat. Keluarga mempelai laki-laki menunjukkan kemampuannya menghormati perempuan melalui pemberian yang sesuai. Keluarga perempuan menerimanya dengan tata krama tertentu, menunjukkan bahwa mereka tidak “murah”. Setiap tahapan penuh dengan pantun adat (“dibalas”) yang mencerminkan kearifan dan ketinggian budaya kedua belah pihak. Kesalahan dalam tata krama bisa dianggap merendahkan Piil Pesenggiri.
Dalam Keseharian dan Pendidikan: Sejak kecil, anak Lampung dididik untuk “duduk yang rapi, bicara yang santun, dan makan yang beradab”.
Semua ini adalah latihan Piil Pesenggiri tingkat dasar. Seorang anak dilarang keras melangkahi kaki orang yang lebih tua, berbicara keras, atau makan dengan rakus. Semua itu adalah bentuk “kekurangajaran” yang akan membuat keluarga merasa “malu”, indikator utama Piil Pesenggiri yang ternoda.

Baca Juga :  Harga Diri di Ambang Dua Zaman. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Pada tingkat spiritual, Piil Pesenggiri adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan leluhur. Menjaga martabat berarti menjaga amanah yang diberikan Tuhan dan nenek moyang. Sebuah doa adat dalam ritual “Bedikek” (permohonan) sering mengucapkan: “Ampun kami, ya Allah, jauhkanlah kami dari perbuatan yang menghinakan diri dan menyusahkan orang tua kami di alam kelak.”
Rasa malu (“malu”) dalam konteks ini memiliki dimensi religius. Malu bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Tuhan dan arwah leluhur yang mengawasi. Dengan demikian, Piil Pesenggiri berfungsi sebagai “penjaga moral internal” yang mencegah individu dari perbuatan tercela, karena konsekuensinya bukan hanya sosial, tetapi juga spiritual, merusak hubungan dengan dunia yang tak kasatmata.
Legenda Ratu Besanding mengajarkan bahwa Piil Pesenggiri adalah perpaduan antara simbol lahiriah (Siger) dan keteguhan batiniah (Pohon Daput). Siger bisa dilihat dan dikagumi, tetapi tanpa akar yang kuat dan buah yang bermanfaat dari Pohon Daput dalam hati, ia hanya akan menjadi beban yang menjatuhkan.
Piil Pesenggiri adalah jiwa yang menggerakkan kedua adat besar Lampung. Baik seorang bangsawan Saibatin maupun seorang penyimbang Pepadun, keduanya berjuang pada medan yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama: menjadi manusia yang “bejuluk beadek” (bergelar beradat), yang martabatnya diakui karena perbuatannya yang mulia. Inilah warisan tak benda yang paling berharga: sebuah kompas hidup yang mengajarkan bahwa harga diri sejati diperoleh bukan dengan menginjak orang lain, tetapi dengan membangun diri menjadi pribadi yang tegak, berguna, dan dihormati karena kebaikan dan kebijaksanaannya.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 6. “Seruit dan Kebersamaan: Hidangan yang Menyatukan” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Kitab Kuntara Raja Niti. (Naskah Kuno Aksara Lampung). Transkripsi dan terjemahan oleh tim filologi Universitas Lampung, disimpan di Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung. (Dokumen Digital/Fisik Terverifikasi).
2. Pupuh Khatulistiwa (Kumpulan Syair Adat Lampung). Naskah koleksi Museum Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai”. (Dokumen Fisik).
3. Wilsen, F. (1991). Struktur Masyarakat dan Adat Istiadat Lampung. Penerbit Fajar Agung. (Buku Fisik – membahas detail juluk adek dan marga).
4. Suryadi, A. (2008). Piil Pesenggiri: Nilai Dasar Budaya Lampung. Makalah dalam Prosiding Seminar Nasional Kebudayaan Lampung, Universitas Lampung. (Dokumen Digital Terindeks).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini