MIMBAR JUM’AT : Dari Gelap Menuju Terang: Jejak Nabi dalam Maulid 1447 H Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Natar – Sungguh, tiada anugerah terbesar bagi umat ini selain hadirnya seorang Rasul yang lahir dari rahim manusia, namun membawa cahaya ketuhanan.

Allah telah menurunkan karunia-Nya kepada orang-orang beriman, dengan menghadirkan Muhammad shalallahu alaihi wasallam manusia pilihan dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat suci, menyucikan hati yang gelap, serta mengajarkan Kitab dan Hikmah, agar jiwa-jiwa yang tersesat menemukan jalan pulang.

{ لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذۡ بَعَثَ فِیهِمۡ رَسُولࣰا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِهِۦ وَیُزَكِّیهِمۡ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینٍ }

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Wajah sebagai Cermin Amal Perbuatan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika Dia mengutus seorang Rasul di antara mereka dari (golongan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya, sebelum (kedatangan Rasul itu) mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [Surat Ali ‘Imran: 164]

Dulu manusia terjebak dalam kabut kesesatan, menyembah berhala, hidup tanpa arah, terjerat dalam kelam kebodohan. Namun hadirnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi fajar yang memecah malam panjang. Cahaya wahyu menerangi hati, menyiramkan kesejukan iman, dan membangkitkan peradaban mulia yang tak pernah sirna.

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Penyesalan yang Terlambat: Angan-Angan Orang yang Telah Wafat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Kini, di tahun 1447 Hijriah, kita kembali mengenang kelahiran sang kekasih Allah, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam Maulid bukan sekadar peringatan, tetapi momentum untuk menyalakan kembali api cinta, menumbuhkan teladan, dan menyuburkan iman.

Kelahiran beliau adalah hadiah Allah bagi seluruh alam, rahmat yang menuntun manusia menuju cahaya kebenaran.

Maka, marilah kita songsong maulid ini dengan hati yang bersyukur, lisan yang bershalawat, dan tekad yang bulat untuk meneladani akhlak beliau. Sebab sebaik-baik cinta kepada Rasul adalah mengikuti jejak langkahnya, mencintai apa yang beliau cintai, dan memperjuangkan apa yang beliau perjuangkan. <=>

Baca Juga :  KHUTBAH JUM'AT : Dzikir Pagi dan Petang Menyelamatkan dari Kelalaian. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini