Buku Seri : PIIL PESENGGIRI. Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri – 1: Merangkai Identitas, Mengenal Masyarakat Adat Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, pada zaman yang silam, berdiri kerajaan tua di dataran tinggi Sekala Brak. Dikisahkan dalam tambo (cerita sejarah turun-temurun), empat putera Raja dari Pagaruyung, Minangkabau, datang untuk menimba ilmu. Keempat pangeran ini, yang kelak dikenal sebagai Umpu Sekekhummong, Umpu Ngegalang, Umpu Belunguh, dan Umpu Bejalan Di Way, justru menemukan takdir mereka untuk memimpin.

Melalui kebijaksanaan dan kekuatan piil (akhlak), mereka menyatukan masyarakat setempat dan mendirikan imperium yang kelak menjadi cikal bakal seluruh peradaban Lampung Pepadun.

Konon, suatu ketika, Naga Besukih, makhluk gaib penjaga khazanah bumi, mengamuk dan mengancam keberlangsungan hidup rakyat. Bukan dengan kekuatan senjata semata, keempat Umpu ini menghadapinya dengan keteguhan hati, kecerdikan, dan tutur kata yang santun (pesenggiri). Mereka berbicara kepada naga itu, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai sesama penghuni bumi. Akhirnya, Naga Besukih tunduk, bukan karena dikalahkan, tetapi karena dihormati.

Kisah ini menjadi metafora awal bahwa martabat dan kearifanlah, bukan kekerasan, yang menjadi senjata utama orang Lampung dalam menghadapi segala tantangan.

Dari legenda inilah benih-benih Piil Pesenggiri mulai bersemi.
Piil Pesenggiri bukan sekadar kumpulan norma; ia adalah jiwa yang menggerakkan kehidupan masyarakat adat Lampung. Falsafah ini dapat dirinci menjadi beberapa prinsip utama yang saling berkait:
1. Piil, Harga Diri dan Akhlak Mulia
Kata piil berasal dari bahasa Arab akhlak, yang telah diadopsi dan diinterpretasikan secara khas Lampung. Ini merujuk pada karakter, moralitas, dan integritas individu. Seorang yang berpiil baik adalah mereka yang jujur, amanah, rendah hati, dan kuat pendiriannya. Ia adalah pribadi yang tidak mudah tergoyahkan oleh iming-iming duniawi yang dapat merusak marwahnya.
2. Pesenggiri, Martabat dan Kehormatan
Ini adalah aspek yang paling sering disalahpahami. Pesenggiri sering dikaitkan dengan gengsi. Padahal, esensinya jauh lebih dalam. Pesenggiri adalah kesadaran akan nilai diri sendiri yang harus dijaga, dirawat, dan diproyeksikan melalui prestasi dan perbuatan terpuji. Seperti dalam kitab Kuntara Raja Niti, salah satu naskah kuno pedoman hidup masyarakat Lampung, disebutkan:
“Bejuluk adek, berpusako tunggal, betunggu mekhanai, bephanda li makma.”
(Yang berjuluk dan beradek (gelar adat), yang berpusaka tunggal, yang bertunggu mekhanai (saling mengunjungi), yang berpahandai li makma (saling berpesan dalam kebaikan).
Analisis terhadap kutipan ini menunjukkan bahwa martabat (pesenggiri) diperoleh melalui proses yang sah (berjuluk adek), diikat oleh warisan budaya yang sama (berpusako tunggal), dipupuk dengan silaturahmi (betunggu mekhanai), dan diwujudkan dalam niat serta tindakan saling mengingatkan dalam kebaikan (bephandai li makma). Jadi, pesenggiri bukan tentang sombong, melainkan tentang tanggung jawab untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi komunitas.
3. Nemui Nyimah, Keramahan dan Keterbukaan
Masyarakat Lampung terkenal dengan keramahannya. Nemui Nyimah adalah sikap terbuka dan menerima tamu dengan sukacita dan penghormatan setinggi-tingginya. Seorang anak dalam budaya Lampung diajarkan untuk selalu menyediakan makanan dan tempat terbaik bagi tamunya, sekalipun yang bersangkutan adalah orang asing atau yang belum dikenal. Filosofi ini mencerminkan keyakinan bahwa setiap manusia adalah tamu kehormatan yang membawa berkah.
4. Nengah Nyappur, Kemampuan Bersosialisasi
Prinsip ini menekankan kemampuan untuk aktif berbaur dan berinteraksi dengan semua kalangan, tanpa kehilangan identitas diri. Seorang Lampung diharapkan dapat nengah nyappur (tengah berseliweran), mampu menyesuaikan diri dalam berbagai situasi sosial dengan penuh sopan santun dan kecerdikan. Ini adalah modal untuk membangun jaringan dan memperkuat kohesi sosial.
5. Sakai Sambayan, Gotong Royong
Nilai ini adalah perekat sosial yang konkret. Sakai Sambayan berarti saling membantu dan menanggung beban bersama. Jika seorang warga membangun rumah, seluruh kampung akan datang membantu. Jika ada yang tertimpa musibah, yang lain akan mengulurkan tangan tanpa diminta. Ini adalah implementasi nyata dari piil dan pesenggiri kolektif, di mana martabat sebuah komunitas juga diukur dari bagaimana mereka menjaga anggota yang paling lemah.
Sejarah masyarakat adat Lampung tidak dapat dipisahkan dari sistem kemargaannya. Marga (klen) merupakan identitas primordial yang menautkan seseorang pada leluhur dan wilayah adat tertentu. Sebagaimana dituturkan dalam tambo, para Umpu di Sekala Brak menurunkan marga-marga besar yang menyebar ke seluruh penjuru Lampung.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Busana Sederhana dan Nilai Kesopanan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Setiap marga, seperti Marga Pubian, Marga Sungkay, Marga Jawa, Marga Semaka, dan lain-lain, memiliki paksi (pusaka) dan sigeh (panggilan adat) masing-masing, yang tercatat dalam silsilah (turunan) yang dijaga ketat oleh para penyimbang (tetua adat). Dokumen kuno berupa kitab yang ditulis di atas daun lontar atau dalugh (kertas kulit kayu) menjadi bukti otentik jejak sejarah ini. Marga bukan untuk membanggakan diri, melainkan sebagai pengingat akan asal-usul dan tanggung jawab untuk menjaga nama baik leluhur—sebuah bentuk pesenggiri yang diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga :  Serial Buku - Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung Buku 5: "Warisan Bukan Harta, Tapi Nilai" Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam arus globalisasi yang menghantam nilai-nilai tradisional, Piil Pesenggiri justru menemukan relevansinya yang paling vital. Ia bukan penghalang kemajuan, melainkan filter budaya dan kompas moral.
Ketika dunia digital mendorong individualisme, Sakai Sambayan mengajarkan solidaritas. Ketika budaya konsumerisme mendorong gaya hidup hedonis, Pesenggiri yang benar mengajarkan untuk mencari kemuliaan melalui prestasi dan karya, bukan melalui harta benda. Ketika interaksi sosial menjadi dangkal, Nemui Nyimah dan Nengah Nyappur mengajarkan kedalaman hubungan yang penuh respek.
Piil Pesenggiri adalah benteng yang membuat orang Lampung tidak terseret arus, tetapi mampu mengarunginya dengan bijak. Ia adalah penuntun untuk menjadi modern tanpa kehilangan jati diri, menjadi global tanpa melupakan akar lokal. Menjadi sukses secara materi tanpa mengorbankan piil atau akhlak mulia.

Baca Juga :  Falsafah Hidup Orang Lampung. Seri 7: Kepemimpinan Menurut Falsafah Lampung Bersendi Kitabullah (Konsep Penyimbang). Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Piil Pesenggiri adalah warisan nenek moyang yang tidak ternilai. Ia adalah kristalisasi kearifan lokal yang telah membentuk masyarakat Lampung menjadi pribadi yang berkarakter kuat, beradab, dan bermartabat. Memahami dan menghidupkannya kembali bukanlah nostalgia, melainkan sebuah kebutuhan untuk membangun peradaban yang manusiawi di tengah zaman yang terus berubah. Dengan berpegang pada pedoman hidup ini, masyarakat Lampung bukan sekadar bertahan, tetapi akan berkontribusi penuh makna dalam mosaik kebudayaan Nusantara dan dunia.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Adnan, dkk. (2020). Piil Pesenggiri: Nilai Dasar Budaya Lampung Dalam Menghadapi Perubahan Sosial. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. (Artikel Jurnal Digital)
2. Hilman, D. (2018). Kuntara Raja Niti: Transkripsi dan Terjemahan. Bandar Lampung: Pustaka Ladang Khatulistiwa. (Buku Format Fisik/Digital)
3. Suryadi, dkk. (2017). Masyarakat Adat Lampung: Sejarah dan Dinamika Sosial Budaya. Yogyakarta: Penerbit Ombak. (Buku Format Fisik)
4. Wawancara dengan Penyimbang Adat Marga Pubian, Drs. Hi. Anshori Yusuf, M.Hum. (2023). (Sumber Primer Terverifikasi).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini