nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah zaman yang hampir terlupakan, hiduplah sepasang suami-istri di tepian aliran Way (Sungai) Krui. Sang suami, Urang Dunia Bin Silantai Langit, adalah seorang pemuka yang bijaksana, berdiam di Ilahan, tempat yang disucikan. Istrinya, Nur Kemala, adalah perempuan yang penuh kearifan, yang hati dan jiwanya selaras dengan alam.
Konon, suatu ketika Nur Kemala memutuskan untuk mengikuti aliran sungai. Perjalanannya bukan untuk mencari hal baru, tetapi untuk merasakan denyut nadi bumi yang diinjaknya. Ia berjalan hingga kakinya menapaki sebuah bukit yang hijau dan damai. Di sanalah ia memutuskan untuk menetap. Setiap kali orang-orang bertanya, “Mau ke mana, Ndu?” Perempuan-perempuan itu selalu menjawab dengan lembut, “Mau ke Kemala.” Dan bila ditanya lagi, “Di mana itu?” Mereka akan menunjuk ke arah bukit dan berkata, “Di atas gunung.”
Dari situlah nama Gunung Kemala terlahir, dari seorang perempuan yang menjadi penjaga pertama ingatan kolektif masyarakat di tempat itu. Nur Kemala bukan hanya mendirikan rumah, tetapi meletakkan batu pertama sebuah peradaban yang kelak menjunjung tinggi warisan leluhur melalui sebuah tradisi suci: Ngejalang.
Ngejalang, sebuah kata yang terdengar sederhana, namun menyimpan kosmos makna yang dalam. Dalam bahasa Lampung, kata ini merujuk pada aktivitas ziarah, sebuah perjalanan bukan hanya fisik, tetapi terutama spiritual, untuk menjalin kembali hubungan dengan yang telah pergi lebih dulu.
Tradisi ini terbagi menjadi dua ruh yang saling melengkapi:
1. Ngejalang Pangan: Ziarah persatuan umat yang dilaksanakan di masjid setelah Idul Fitri. Ini adalah ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, memanjatkan doa bersama, dan memperkuat tali silaturahmi di antara yang masih hidup.
2. Ngejalang Kubokh: Ziarah kuburan yang menjadi inti dari ritual. Dilaksanakan di area pemakaman, tradisi ini adalah puncak dari penghormatan, di mana doa-doa khusus dikirimkan untuk arwah nenek moyang dan keluarga yang telah berpulang.
Seorang tetua adat, Kadarusman (65 tahun), dalam suatu musyawarah pada malam ke-25 Ramadan, pernah berujar: “Ngejalang ini bukan kewajiban dari agama, tetapi ia adalah panggilan dari dalam batin. Ia adalah beban hati yang ringan. Jika kita tidak melaksanakannya, terasa ada yang mengganjal, bagai belum membayar hutang budi kepada yang telah mendahului kita.”
Ucapan ini bukan sekadar pernyataan, tetapi merupakan kristalisasi dari filosofi hidup orang Lampung Sai Batin. Ngejalang adalah praktik nyata dari Pil Pesenggiri, prinsip harga diri dan jati diri yang di dalamnya terkandung Nemui Nyimah (keramahan dan santun), Nengah Nyappur (kemampuan bersosialisasi), dan Sakai Sambaian (semangat gotong royong dan solidaritas).
Setiap ritual dalam Ngejalang adalah sebuah simbol yang berbicara.
Pahar, nampan besar dari kuningan (kini sering dari aluminium atau seng), adalah altar persembahan yang sederhana. Ia diisi dengan hidangan terbaik masyarakat; mulai dari kue tat yang manis, hidangan ringan, hingga nasi beserta lauk-pauk yang lezat. Pahar bukan tentang makanan, tetapi tentang niat bersedekah dan berbagi rezeki sebagai wujud syukur. Setiap kepala keluarga menyumbangkan hidangannya, yang kemudian dikumpulkan dan disajikan secara bersama. Ini merefleksikan Sakai Sambaian, di mana kebersamaan dan kepedulian sosial diutamakan.
Kelasa, pondokan sederhana di area kuburan yang terbuat dari kayu dan beratap daun kelapa, adalah ruang sakral yang dibangun untuk melindungi prosesi. Di dalamnya, tikar dan kasur digelar. Kasur yang dialasi tikar ini bukan sekadar tempat duduk. Ia adalah simbol penghormatan, bahwa tamu yang hadir, baik dari dunia nyata maupun yang tak terlihat, harus disambut dengan tempat yang layak dan nyaman.
Puncak dari prosesi ini adalah Talibun atau Muwwayak, yaitu pantun berirama yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan antara tetua adat dan para undangan. Syairnya berisi petuah agama, nasihat hidup, harapan, dan doa untuk para leluhur agar dilapangkan kuburnya. Talibun adalah medium penuturan yang menghidupkan kembali ingatan kolektif, menyampaikan pesan moral, dan mengikat semua yang hadir dalam satu harmoni doa.
Seorang penutur adat mendeskripsikan suasana itu: “Suara Talibun mengalun lembut, menyelinap di antara rindangnya pohon dan nisan-nisan tua. Ia bagai jembatan yang menyambung kita dengan mereka yang telah tiada, mengingatkan kita bahwa kematian bukanlah akhir dari hubungan.”
Ngejalang Kubokh masih bertahan dengan kuat, menjadi magnet yang memanggil pulang para perantau setiap Syawal. Namun, Ngejalang Pangan telah mulai memudar, tergerus oleh anggapan “ribet” dan pola pikir praktis masyarakat modern.
Perubahan ini adalah sebuah tantangan sekaligus cermin. Hilangnya salah satu dari dua tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai kolektif sedikit demi sedikit tergantikan oleh nilai individual. Masyarakat mulai merasa cukup berdoa di rumah masing-masing dan membagikan besek (rantang) kepada tetangga terdekat, tanpa perlu repot menggelar ritual besar.
Namun, kebertahanan Ngejalang Kubokh membuktikan bahwa ada sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh efisiensi modern: yaitu rasa. Rasa memiliki, rasa terhubung, dan rasa berhutang budi. Seperti dikutip dari salah satu naskah adat: “Adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah.” (Adat bersendikan syariat, syariat bersendikan kitabullah (Al-Qur’an))
Analisis dari kutipan ini menunjukkan bagaimana masyarakat Lampung Sai Batin memandang tradisi bukan sebagai hal yang bertentangan dengan agama, tetapi justru berjalan beriringan. Ngejalang adalah bentuk syariat yang diwujudkan melalui budaya lokal, di mana silaturahmi dan mendoakan leluhur sangat dianjurkan.
Ngejalang adalah lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia adalah jejak ingatan kolektif sebuah masyarakat. Setiap langkah menuju pemakaman, setiap hidangan dalam Pahar, setiap untaian syair Talibun, adalah cara mereka merawat sejarah, menghormati leluhur, dan memperkuat identitas diri di tengah dunia yang berubah cepat.
Buku seri ini adalah sebuah ikhtiar untuk mengabadikan jejak itu. Sebuah langkah untuk mengingat, bahwa sebelum kita melangkah ke masa depan, kita harus pernah berhenti sejenak, duduk di atas kasur yang dialasi tikar, mendengar Talibun berkumandang, dan mengirimkan doa, untuk mereka yang telah membukakan jalan, dan untuk kita yang meneruskan perjalanan.
Melangkah untuk mengingat. Mengingat untuk tetap menjadi manusia yang utuh.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Dokumen Skripsi: “Kepercayaan Masyarakat Terhadap Tradisi Ngejalang.pdf” (Data Primer)
2. Buku: Soekanto, Soejono. (2012). Hukum Adat Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
3. Buku: Maran, Rafael Raga. (2007). Manusia dan Kebudayaan. Jakarta: Rineka Cipta.
4. Jurnal: Iryanti, Desi & Khocrotun Nisa L. (2016). Representasi Falsafah Hidup Masyarakat Lampung dalam Tradisi ‘Ngejalang’ di Pesisir Barat.
5. Situs Web Terpercaya: Harian Lampung.Com, Lampost.co (Artikel terkait tradisi Ngejalang).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

