Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri – 6: Rumah dan Hidup, Prinsip Piil Pesenggiri dalam Arsitektur dan Keseharian. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, setelah keempat Umpu mendirikan peradaban di Sekala Brak, timbullah persoalan baru. Masyarakat hidup terpencar, berkomunikasi dengan susah, dan sulit merasakan kebersamaan. Umpu Permuncak, sang arsitek ulung, kemudian mendapat wisik (pesan gaib) dalam mimpinya. Ia diperintahkan untuk menciptakan sebuah wadah yang tidak hanya sebagai tempat bernaung, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai kebersamaan dan martabat.
Dengan memerhatikan telapak tangan manusia yang memiliki lima jari berbeda namun bersatu pada satu telapak, ia merancang sebuah rumah panggung yang disebut Nuwo Sesat.

Rumah itu memiliki lima tiang utama penyangga, melambangkan lima pilar Piil Pesenggiri. Atapnya yang menjulang tinggi seperti tanduk kerbau, simbol pesenggiri dan keperkasaan. Tangganya selalu berjumlah ganjil, mengajarkan bahwa mencapai kemuliaan (pesenggiri) harus melalui tahapan yang tidak instan. Konon, ketika rumah adat pertama itu selesai dibangun secara sakai sambayan (gotong royong) oleh seluruh warga, cahaya kemilau menyinarinya, menandakan persetujuan dari para leluhur.

Legenda ini menegaskan bahwa bagi masyarakat Lampung, rumah bukan hanya struktur kayu dan bambu, melainkan mikrokosmos dari nilai-nilai luhur yang mereka junjung, sebuah manifestasi fisik dari jiwa Piil Pesenggiri.

Rumah Adat Lampung, atau Nuwo Sesat, adalah sebuah pernyataan filosofis yang dibangun dalam tiga dimensi. Setiap aspek arsitekturnya dirancang dengan makna yang dalam, mencerminkan prinsip hidup dan interaksi sosial masyarakatnya.
1. Struktur Panggung: Rumah dibangun tinggi dari tanah. Ini bukan hanya untuk menghindari banjir atau binatang buas, tetapi secara filosofis melambangkan bahwa kehidupan yang bermartabat (pesenggiri) harus dijauhkan dari hal-hal yang kotor dan rendah (dilambangkan oleh tanah). Untuk mencapainya, seseorang harus “naik” melalui usaha dan perilaku mulia (piil).
2. Lima Tiang Utama (Panca Persada): Kelima tiang ini adalah penyangga utama rumah, sekaligus representasi dari lima pilar Piil Pesenggiri: Piil (Akhlak), Pesenggiri (Martabat), Nemui Nyimah (Keramahan), Nengah Nyappur (Bersosialisasi), dan Sakai Sambayan (Gotong Royong). Kekokohan rumah bergantung pada semua tiang; demikian pula, kekokohan masyarakat bergantung pada kelima nilai ini.
3. Atap yang Menjulang (Sessat): Bentuk atap yang runcing dan tinggi, sering disebut sessat, adalah simbol paling nyata dari pesenggiri. Ia menunjukkan aspirasi untuk mencapai kemuliaan dan kedudukan yang tinggi. Namun, puncaknya yang runcing juga mengingatkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin runcing dan penuh tantangan yang dihadapi, sehingga membutuhkan keseimbangan dan keteguhan piil.
4. Tangga dan Serambi (Ihan Geladak): Tangga yang selalu berjumlah ganjil melambangkan perjalanan hidup yang tidak mulus, penuh dengan tantangan yang harus dilalui langkah demi langkah. Serambi (Ihan Geladak) adalah ruang pertama yang ditemui tamu, mencerminkan prinsip nemui nyimah. Ruang ini luas dan terbuka, menunjukkan kesiapan pemilik rumah untuk menerima tamu dengan sukacita.

Baca Juga :  Buku Seri Tradisional daerah Lampung. Seri 7 — Upacara Kematian. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Tata ruang dalam Nuwo Sesat tidak dibuat sembarangan. Ia mengatur pola interaksi penghuninya dan mencerminkan hierarki sosial yang santun.
* Ruang Publik (Ihan Geladak): Tempat untuk menerima tamu dan musyawarah. Ruang ini menegaskan bahwa masyarakat Lampung adalah masyarakat yang terbuka (nemui nyimah) dan gemar bersilaturahmi (nengah nyappur).
* Ruang Privat (Tengah): Area untuk keluarga inti. Keterpisahannya dari ruang publik menunjukkan penghormatan terhadap privasi dan keutuhan keluarga.
* Dapur (Lepau/Gakhang): Terletak di bagian belakang, melambangkan kerendahan hati. Sekalipun seseorang kaya raya dan berpangkat tinggi (pesenggiri), ia tetap harus ingat pada hal-hal yang mendasar dan tidak sombong.

Kehidupan sehari-hari di dalam dan sekitar Nuwo Sesat adalah sekolah nyata Piil Pesenggiri. Anak-anak belajar sakai sambayan dengan melihat orang tuanya bergotong royong memperbaiki rumah tetangga. Mereka belajar nemui nyimah dengan menyuguhkan teh kepada tamu yang datang. Mereka belajar piil dengan menjaga kebersihan dan kerapian rumah, yang mencerminkan kebersihan hati.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 7. “Tapis Berbicara: Makna yang Dijahit oleh Ibu-Ibu Adat” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sejarah dan identitas marga juga tercetak dalam arsitektur. Rumah-rumah adat dari marga yang berbeda, seperti Pubian, Sungkay, atau Java, seringkali memiliki detail ornamen, ukiran, atau variasi bentuk atap yang khas. Perbedaan ini menjadi penanda identitas visual, sebuah bentuk pesenggiri kolektif marga.
Misalnya, ukiran motif pucuk rebung (tunas bambu) yang lazim ditemui melambangkan pertumbuhan dan harapan, sementara motif perahu mengingatkan pada sejarah migrasi leluhur.

Sebuah naskah kuno, Kuntara Raja Niti, memberikan panduan hidup yang juga terefleksi dalam pembangunan rumah:
“Tandang diapik, begindang dihaga, bejuluk adek sai ngehukum adat.”
(Bertandang (berumah) yang apik, bergendang (berkumpul) yang terjaga, yang berjuluk bergelarlah yang mampu menghukum dengan adat).
Analisis mendalam terhadap petuah ini menunjukkan korelasi antara rumah dan martabat. “Tandang diapik” berarti rumah harus dijaga keapikan dan kebersihannya, karena itu adalah cerminan langsung dari harga diri (pesenggiri) penghuninya. Sebuah rumah yang teratur mencerminkan pikiran dan kehidupan penghuninya yang teratur. “Begindang dihaga” menekankan bahwa setiap perkumpulan dan interaksi sosial di dalam rumah itu harus “terjaga”, yakni dilakukan dengan sopan santun dan sesuai adat. Dengan demikian, rumah fisik menjadi alat untuk “menghukum dengan adat” (ngehukum adat), yakni, menegakkan dan mengajarkan nilai-nilai Piil Pesenggiri kepada setiap orang yang memasukinya.

Prinsip-prinsip arsitektur dan kehidupan ala Piil Pesenggiri ini tetap sangat relevan di zaman modern, jauh melampaui bentuk fisik Nuwo Sesat.
* Rumah sebagai Pusat Pendidikan Karakter: Konsep rumah sebagai tempat menanamkan nilai-nilai luhur (piil) adalah prinsip pendidikan keluarga yang abadi. Menciptakan lingkungan rumah yang mendukung, penuh komunikasi santun, dan gotong royong adalah bentuk modern dari Nuwo Sesat.
* Tata Kota yang Manusiawi: Prinsip nemui nyimah dan nengah nyappur dapat diadopsi dalam perencanaan kota dengan menyediakan ruang publik yang luas untuk interaksi sosial, seperti taman dan pusat komunitas, menggantikan fungsi Ihan Geladak.
* Keseimbangan Hidup: Filosofi pembagian ruang mengajarkan keseimbangan antara kehidupan publik dan privat, antara pencapaian (pesenggiri) dan kerendahan hati, yang sangat dibutuhkan di dunia yang serba cepat dan connected ini.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 3. “Langkah Mekhanai–Muli: Budi Baik Anak Adat” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Nuwo Sesat lebih dari sekadar arsitektur; ia adalah kitab berjalan yang mengajarkan Piil Pesenggiri melalui setiap tiang, undakan, dan sekat ruangnya. Ia mengajarkan bahwa membangun kehidupan yang bermartabat dimulai dari membangun “rumah” yang tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga secara nilai. Dalam legenda Umpu Permuncak, kita belajar bahwa desain yang bijak dapat membentuk perilaku yang bijak.
Di tengah perubahan zaman, prinsip-prinsip ini mengingatkan kita bahwa rumah kita, baik yang fisik maupun komunitas yang kita bangun, haruslah menjadi tempat di mana piil dijunjung, pesenggiri dipelihara, nemui nyimah dipraktikkan, dan sakai sambayan dihidupkan. Pada akhirnya, Piil Pesenggiri mengajarkan bahwa kita bukan hanya membangun rumah untuk ditinggali, tetapi kita membangun rumah yang akan “membangun” kita sebagai manusia yang utuh dan bermartabat.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandar Lampung: Mandar Maju. (Buku Format Fisik)
2. Hilman, D. (2018). Kuntara Raja Niti: Transkripsi dan Terjemahan. Bandar Lampung: Pustaka Ladang Khatulistiwa. (Buku Format Fisik/Digital)
3. Kartomi, D. (2015). Nilai-Nilai Filosofis dalam Kuntara Raja Niti dan Relevansinya bagi Pembangunan Karakter Bangsa. Jurnal Filsafat, Vol. 25(2). (Artikel Jurnal Digital Terverifikasi).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini